Jumat, 26 Juli 2013

Why Me Choose Liverpool? (Part. 1)

Beberapa kali saya mengunjungi blogger teman-teman Kopites (fans Liverpool) dan saya selalu menemukan post macam ini. Post yang menceritakan awal mula mereka ngefans Liverpool. Dan kali ini saya juga mau mengisahkan hal yang sama. Rada latah but here we go...

Kebanyakan Kopites mungkin mulai mencintai The Reds ketika mereka memenangkan laga dramatis di final UEFA Champions League di Istanbul pada musim 2004/05 lalu. Ya wakil Britania Raya itu mengkandaskan keperkasaan AC Milan lewat adu penalti setelah menyamakan kedudukan menjadi 3-3 di babak kedua. Liverpool tertinggal 0-3 di babak pertama dan seluruh pemain, staf pelatih, serta pendukung Il Rossoneri kadung merayakan kemenangan mereka. Teganya, klub asal kota pelabuhan itu "merebut" pesta mereka. Momen itu membikin banyak pasang mata jatuh cinta dan mentasbihkan diri sebagai fans Liverpool. Namun bukan saya salah satunya.

Musim panas 2002 ketika saya duduk di kelas 4 SD, saya lagi demen banget nonton sinetron Bidadari tapi jam tayangnya diisi sama pertandingan bola. Rada sebel tapi akhirnya saya terpaksa ikut nonton. Kemudian semesta mempertemukan saya dengan Michael James Owen. As you know, tahun segitu sinar Owen lagi terang-terangnya. Sejak saat itu saya dukung Timnas Inggris. Bintang Piala Dunia kala itu Ronaldo, David Beckham, Michael Owen, Raul Gonzalez, dan Miroslav Klose, setidaknya nama-nama itu yang saya ingat. Kelar piala dunia saya gak pernah mengikuti sepakbola lagi.

Michael Owen

David Beckham
Bukan Cristiano Ronaldo namun Ronaldo Luiz Nazario de Lima

bintang Jerman, Miroslav Klose

Raul Gonzalez

Dua tahun berlalu, Piala Eropa 2004 dihelat di Portugal. Tayangan tv dipenuhi pertandingan sepakbola lagi. Saya nanya sama bapa, "Pa, Michael Owen kapan main?" Bapa saya jawab, "Inggris sudah tersisih." Well, entah sudah fase keberapa saya nontonnya. Rada gak inget. :)) Itulah masa-masa saya angin-anginan suka sepakbola.

Kemudian datanglah pesta sepakbola Piala Dunia 2006. Entah kenapa saya antusias banget menyambutnya. Sebelum event dimulai saya sudah mengikuti highlight sepakbola seperti One Stop Football dan Sport 7. Dan tim yang saya dukung masih sama, Timnas Inggris. Saya ingat kala itu laga perdana Inggris hanya menang tipis 1-0 melawan Paraguay lewat free kick David Beckham. Saya nyari-nyari nomer punggung 10 (Michael Owen-red) tapi gak ketemu-ketemu. Kemudian wajah yang familiar sekali dengan Owen muncul. Rambutnya yang blonde dan potongannya yang rapi bikin saya nyaris menganggap dia Owen. Tapi setelah melihat nomer punggungnya 4, saya kemudian ragu. Ah, Owen kan nomernya 10, masa sih ganti jadi nomer 4? Ujar saya waktu itu. Dan, jreng jreng jreng, namanya pun terlihat. Sulit mengejanya. Gimana pronounciation-nya? Ah ribet amat hidup saya kala itu. GERRARD. Ya itulah nama si pemain nomer punggung 4. Lantas saya memasukan nama Gerrard ke dalam daftar pemain sepakbola untuk diikuti aksinya.


Steven Gerrard


Well, balik lagi ke pencarian saya pada Michael Owen. Ceritanya kala itu Owen baru sembuh dari cedera sehingga dia tidak dimainkan di laga perdana. Pria kelahiran 14 Desember itu baru main kala The Three Lions kontra Swedia, kalo gak salah. Dia masuk sebagai pemain pengganti namun baru beberapa menit bermain dia terkilir. Akhirnya Owen dipinggirkan. Sedih sekali saya gak bisa banyak melihat aksi-aksi Owen seperti di Piala Dunia 2002. :( Namun saya tidak meninggalkan timnas Inggris begitu saja karena masih ada Gerrard di tim tersebut.

Jika di event-event sebelumnya saya hanya nonton Timnas Inggris, di Piala Dunia 2006 itu saya mulai mengikuti semua tim. Saya jadi salah satu orang yang menyaksikan laga kala Timnas Spanyol membantai Ukraina 4-0. Gol pertama dicetak oleh pemain nomer punggung 14. Namanya indah sekali didengar. XABI ALONSO. Sejak saat itu nama tersebut selalu terngiang di telinga saya. Tim Matador juga membikin saya banyak belajar bila 'x' dilafalkan 's' dan 'll' dilafalkan 'y'. Namun hati saya tertambat pada David Villa karena wajahnya mirip Mario Lawalata apalagi jenggot kecilnya di bawah bibir. :P La Furia Roja juga memperkenalkan saya pada pemain-pemain seperti Luis Garcia, Iker Casillas, dan Xavi Hernandez. Btw, saya sering sekali salah menyebut Xabi Hernandez dan Xavi Alonso. :)))


kiri-kanan: Xabi Alonso, Fernando Torres, dan David Villa
Sayangnya Piala Dunia 2006 berakhir anti-klimaks. Dua tim yang tidak menjadi favorit saya malah lolos ke final. Italia dan Perancis. Saya benci Italia karena saya gak suka sama tim tersebut. Lupa aja kenapa. Sementara alasan saya tidak menyukai Perancis karena mereka yang menyingkirkan Spanyol. :"(((

Kelar Piala Dunia 2006 tidak membuat saya meninggalkan sepakbola seperti yang saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Saya malah mulai mengikuti Liga Inggris yang tayang reguler di tv lokal. Saya tahu bila Gerrard bermain Liverpool membuat saya menyaksikan laga perdana EPL antara Liverpool vs Sheffield United. Nah, dari laga tersebut saya jadi tahu jika Liverpool itu dihuni oleh pemain Spanyol bernama indah, Xabi Alonso. Eh ternyata dia ganteng yah, begitu pikir saya setelah saya perhatikan lebih lama lagi. Selain Xabi juga ada Luis Garcia. Owalaaaaaaah. Yaudahlah saya dukung Liverpool aja kalo gitu.  :D

Setelah itu saya jadi lebih langganan tabloid Soccer yang terbit setiap Jumat. Jadi saya ngumpulin uang saku saya tiap hari seceng. Seminggu kekumpul goceng buat beli tabloid Soccer. Waktu itu pulsa belum jadi kebutuhan banget buat saya. Sampe temen saya bilang, "Uang jajan kamu banyak yah tiap minggu bisa beli tabloid?" You don't know oh oh...


Saya juga pernah beli poster jumbo Liverpool bonus tabloid Soccer dari teme ngegara saya kehabisan stok. Saya udah ke agen koran--biasanya saya beli sama loper koran--deket lampu merah juga abis. Akhirnya saya beli deh itu posternya seharga Rp 4.000 padahal tabloidnya seharga Rp 6.000 (edisi khusus). Saya dimarahin temen saya yang lain, mau-maunya dibohongin. Yah namanya tjintah.

Kemudian cobaan hadir ketika saya tidak menemukan teman yang ngefans Liverpool. Setiap hari diledekin sama teman-teman cowo yang ga suka Liverpool dan dukung semua klub lawannya Liverpool. :( UCL 2006/07 sangat emosional bagi saya. anti mainstream banget kan ketika fans lain menyebut UCL 2004/05 yang emosional tapi bagi saya justru di musim 2006/07 karena baru pertama kali saya mengikuti Liverpool dari awal musim. Tersengal-sengal di babak penyisihan grup, Liverpool jumpa juara bertahan Barcelona di 16 besar. Final yang terlalu dini, begitu orang-orang menyebutnya.Fantastis, Liverpool menang 2-1 di Camp Nou berkat gol dua pemain yang sebelumnya berseteru di klub malam, Craig Bellamy dan John Arne Riise. Tak disangka The Kop yang jadi underdog berhasil lolos ke putaran selanjutnya. Delapan besar mudah dilewati karena hanya melawan PSV. Nah di semifinal ini Liverpool bertemu klub senegara, Chelsea. Seluruh siswa laki-laki seangkatan mungkin mendukung Chelsea dan mengolok-olok saya seraya bilang, "Liverpool gak bakal lolos. Liat aja pasti bakalan malu." Ya kala itu The Blues lagi bersinar di bawah asuhan Jose Mourinho. Agregat imbang 1-1 membuat pertandingan harus dilanjutkan ke babak penalti. Dan yah, Liverpool unggul 4-1. Keesokan harinya di sekolah saya samperin anak-anak cowo yang kemarin ngeledekin saya. LIAT TUH! CHELSEA KALAH! LIVERPOOL KE FINAL! LIAT ITU!!! kalo jaman sekarang mungkin saya udah bilang, "IN YOUR FACE, BITHCES!!!"

Namun final 2006/07 tak seindah final 2004/05. Yah Liverpool nyerah aja gitu setelah tertinggal 0-2. Cuma bisa bales satu gol doang lewat Dirk Kuyt. Tapi yang saya inget itu ketika Alonso ngikutin gaya Kaka mengecoh lawan yang hendak merebut bola dari kakinya.  (Lihat di menit ke 2:34)

Semua berakhir anti-klimaks namun saya masih bangga jadi fans Liverpool. Saya bangga menjadi kaum anti-mainstream.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar