Selasa, 10 Maret 2015

Being Left by Lovable Ones

Ini adalah hari terakhir teman dekat saya, Nurhikmah, berada di Ajibarang tercinta. Esok ia akan kembali melanglang buana ke luar kota tepatnya di kota Hujan.

Selama hampir satu setengah tahun saya menghabiskan waktu dengannya melalui hari-hari saya baik di rumah atau di tempat kerja. Ia seperti buku harian saya. Semua cerita saya tertuang di telinganya. Ia yang sering menemani bepergian di kala galau melanda. Ia juga teman taruhan yang baik (wkwk), partner gelidik di hajatan tetangga, dan teman berbagi kenistaan. She's always there. :")

Sebenarnya kami berteman sedari kecil namun kami mulai jarang bersama semenjak saya memasuki SMK. Barulah sekitar bulan November 2013 ia mulai bekerja di tempat saya mengais rejeki.

Jadi per tanggal 9 Maret 2015 Nur (begitu saya biasa menyebutnya) dimutasi ke cabang dari kantor kami di Bogor.  Awalnya saya merasa berat karena lagi-lagi saya harus kehilangan partner in crime. Tapi aku bisa apa???

Mengenai kata "lagi-lagi" well saya sudah pernah merasakan berada di posisi ditinggal sebelumnya. Dulu sekali, sewaktu Jokowi belum jadi Presiden dan Alun-alun Purwokerto belum ada air mancurnya, saya memiliki teman dekat semasa SMK. Sebut saja dia Hartati (emang itu nama aslinya keleuz). Dia orang asing pertama yang menyapa saya di kala MOS SMK. "Isma yah? Kamu masuk kelas AK1 kan? Bareng yaah." begitu kira-kira kalimat pertamanya. Setelah itu kami berteman baik sampai lulus dan kami masuk kerja di tempat yang sama. Sebulan berlalu ternyata dia akan dipindahkan ke kantor cabang di Bogor. Inget banget waktu itu hari pertama dia kerja di Bogor bertepatan dengan ultah saya ke-18. Mellow banget dah kala itu melalui hari ultah tanpa sahabat. :(

And noooooowwww, I'm gonna be left again. :(

Barusan saya nengok temen yang baru aja melahirkan sebulan lalu. Trus pulangnya muter lewat Ajibarang karena saya emang mau ke ATM. Di jalanan yang agak sepi saya ngelamun, saya akan lebih sering seperti ini, bepergian tanpa teman. Seketika saya jadi makhluk pendiam tanpa semangat. Saya mampir ke minimarket untuk mengambil uang tunai di ATM, lantas saya membeli es krim. Saya begitu tak bersemangat sampe ditanyain sama kasirnya juga saya jawab seikhlasnya. Kemudian saya duduk sebentar di tempat duduk yang disediakan minimarket itu. Es krim saya buka dan segera mengunyahnya. Tapi entah mengapa es krim sore ini begitu hambar. Tak ada rasa manis yang biasa saya kecap. Apakah harus se-mellow ini?

Puncaknya ketika bus Pahala Kencana jurusan Bogor tiba di agen tiket Ajibarang. Nur bersalaman dan bercipika-cipiki dengan teman saya, Ai. Saya juga bersalaman dengannya tapi ia tak bercipika-cipiki dengan saya. Kami terdiam sejenak lantas saya memeluknya dan air mata yang selama ini saya tahan mengalir tak terbendung. Begitu pula dengannya. Saya akan benar-benar dipisahkan dengan sahabat yang selalu ada untuk saya. Saya benar-benar harus menjalani hidup seperti dulu, berteman dengan kesendirian. Untuk beberapa lama kami berpelukan hingga sang kondektur mengingatkan kami untuk segera mengakhiri 'drama perpisahan' itu.

Saya tak kuasa menahan air mata ketika menggeber motor menyusuri jalanan Ajibarang Kulon yang lumayan padat senja itu. Rasanya begitu sakit. Kehilangan sahabat yang mengerti baik buruknya diri kita tapi tetap ada di sana menerima semuanya.

Tuhan, tolong jaga sahabat-sahabatku. Jangan biarkan orang-orang buruk mendekati mereka. Berikan mereka kenyamanan dan keamanan selama bertugas di sana. Lindungi mereka dari hal-hal buruk yang mungkin mereka temui. Jagalah mereka untuk keluarganya, untukku, dan untuk calon pendampingnya nanti. :)

Ajibarang, 8 Maret 2015

Ki-Ka: Hartati, saya, Nur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar