Sabtu, 29 September 2012

Menapaki Jejak Masa Lalu

Pagi ini saya kehabisan duit cash. Sampe buat transport pun saya ga punya duit. Akhirnya pagi-pagi banget sekitar jam 6, saya pergi ke ATM yang jaraknya sekitar 10 menit berkendara dari rumah. Nah jam segitu sebagian anak sekolah udah mulai berangkat menuju lembaga pendidikan mereka. Kemudian saya inget jaman saya masih sekolah yang jaraknya sekitar 45 menit berkendara dari rumah (dengan catatan angkotnya ga ngetem kelamaan dan jalannya ga padet).

Jadi dulu pas jaman sekolah menengah atas, jam 6-an saya udah stand by di pinggir jalan nungguin bus lewat jurusan kota (rumah saya di desa soalnya hehe). Kalo naik bus sampe ke kota biasanya cuma 20 menit. Trus saya turun di tempat ngetem angkot. Baru dengan angkot itu saya bisa nyampe ke sekolah tempat saya mengenyam pendidikan. Kalo pagi sih angkot lancar-lancar aja soalnya jalanan belum padet banget. Cuma kalo udah ngelewatin setengah 7, jalanan udah mulai dipenuhi kendaraan roda dua maupun roda empat yang nganter anak sekolahan juga. Belum lagi lampu merah dan pintu rel yang sangat tidak berkompromi. Bener-bener bikin adrenalin naik. Antara takut dateng disambut guru BK atau mikirin jalan pintas masuk ke kelas. Yah begitulah. Tapi enaknya kalo berangkat jam segitu udaranya masih seger banget. Cocok buat anak-anak yang dalam masa pertumbuhan. :)

Kontras dengan apa yang saya jalani sekarang. Dari rumah aja sante banget sekitar jam setengah 8. Udah gitu turun dari bus juga langsung nyampe di tempat kerja. Kalo telat juga ga ada yang marahin paling cuma ditanyain kenapa. Udah deh kelar. Sayangnya jam segitu udara udah mulai panas dan polusi. Kadang jam segitu berangkatnya bareng kuli yang bajunya ga ganti berhari-hari atau bapak-bapak yang (mungkin) ga sempet mandi pagi. Iyuhhh banget!! Ga enaknya lagi, pulangnya jam setengah 5 dimana beberapa armada bus udah ngelaut (pulang dari aktivitas operasi). Hanya beberapa yang masih setia nunggu penumpang yang pulang kesorean seperti saya. Cuma ya jam segitu busnya pinter banget menguji kesabaran penumpangnya. Mentang-mentang udah sore mereka ngetem seenak mereka. Nyari penumpang yang ga jelas juntrungannya. Kadang busnya udah penuh, masih aja seralah buat ngangkutin penumpang yang ga jelas mau ditaruh dimana. Saya pernah pulang ke rumah yang dengan waktu normal aja cukup 40 menit. Paling lama 50 menit lah. Eh naik bus jurusan Tegal malah habis waktu saya sampe jam 1,5 jam. Duh bikin gondok banget. Rasanya pengen lempar hape ke kaca depan biar sopirnya kaget tapi sayang banget hape saya cuma satu dan ini hape pertama yang saya beli dengan hasil keringat sendiri. Eaaaaaa.

Akhirnya saya sabar-sabarin hati sambil gunjungin itu sopir sama penumpang di sebelah saya yang juga gondok dengan tingkah menyebalkan si sopir itu. Btw KOK INI NGOMONGIN MASA KINI YAAA?! KATANYA MENAPAKI JEJAK MASA LALU??! PFFFT.

Balik ke topik aja kali ya. Jadi dalam perjalanan saya ke ATM itu saya ngelewatin SMP tempat saya sekolah dulu. Jaraknya deket dari rumah. Ya itu cuma sekitar 10 menit berkendara aja. Kadang 5 menit aja nyampe. Makanya saya ngerasa santai banget. Pulang jam setengah 5 dari sekolah aja ga perlu kuatir kehabisan bus. Bisa minta jemput karena jaraknya ga jauh. Bandingkan dengan sekarang. Minta jemput sementara waktu tempuh aja 40 menit dari rumah. Kasihan yang jemput juga.

Jadi rindu masa-masa itu. Pengen deh dapet tempat aktivitas yang ga jauh dari rumah biar ga galau masalah transportasi. Doain yak dapet kerjaan yang lebih bagus dari ini dan jaraknya juga lebih deket dari rumah.

Kamis, 27 September 2012

[Pic] Nuri Sahin vs West Bromwich Albion


Nuri Sahin dan Samed Yesil
Baba Sahin like a boss.
Tembaaaaak
Carra bersiap untuk hi five dengan Sahin :)
Selebrasi Baba setelah mencetak gol
Hisap jempol :)
pointing :O

Rabu, 26 September 2012

Liverpool FC replied my tweets


pas gue nanya siapa adminnya. :)
dikasih ucapan met ultah :)
ini gue lupa waktu apa ya?
pas gue nawarin diri ngajarin Bahasa :)
waktu legend datang ke Indo

Rabu, 19 September 2012

Andy Murray Inspires Me

Saya mungkin bukan big fans nya Andrew Murray. Tapi manusia satu ini cukup pantes jadi suritauladan berkat kerja kerasnya selama ini hingga dia akhirnya mendapat apa yang dia impikan. Ya! Menjuarai grand slam untuk pertama kalinya di sepanjang karirnya sebagai petenis profesional.

Pekan lalu Muzza, begitu sapaan akrabnya, mengalahkan juara bertahan asal Serbia, Novak Djokovic dalam pertarungan sengit 5 set selama nyaris 5 jam yang berakhir dengan angka 7-6, 7-5, 2-6, 3-6, 6-2. Petenis kelahiran 15 Mei 1987 itu akhirnya memenangkan trofi US Open setelah empat kali selalu gagal di final grand slam. Kemenangan ini sekaligus mengakhiri puasa gelar Britania Raya di cabang Men's Single yang terakhir kali menjuarai US Open 76 tahun lalu. Bulan lalu kekasih Kim Sears ini menjuarai Olimpiade 2012 yang dihelat di tanah airnya sendiri dengan mengalahkan Roger Federer. Muzza sukses mengkandaskan perlawanan petenis Swiss itu yang sebelumnya mengalahkan pria British ini di final Wimbledon 2012. Well, saya jadi inget di Wimbledon 2012 lalu Muzza nangis sesenggukan saat speech lantaran gagal mempersembahkan gelar grand slam pertamanya di hadapan publik sendiri.

Tapi Muzza pantang menyerah. Di usianya yang masih 25 tahun, dia tidak puas dengan hanya menduduki peringkat 4 dunia. Dia terus berusaha untuk menggapai impiannya. Dan hasilnya, Muzza memenangkan medali emas Olimpiade 2012 di cabang Men's Single dan menjuarai US Open 2012.

Pesan moral:
Seseorang ga selamanya akan menjadi orang yang gagal. Mungkin sekarang kita hidup dengan penuh kegagalan. Tapi percayalah, Allah swt punya rencana yang indah bagi umatNya yang tak henti berikhtiar dan berdoa. Bukankah kita tidak mau dikenang sebagai orang yang gagal? So, mari berusaha! Masa depan cerah menanti. Amin. xD




Selasa, 18 September 2012

Justice For The 96

Keadilan untuk 96 korban tragedi Hillsborough. Begitu tagline yang sering disuarakan suporter Liverpool demi mendapatkan keadilan bagi ke-96 Liverpudlian yang meninggal dunia 23 tahun lalu di markas Sheffield Wednesday itu.
Well, 23 tahun yang lalu tragedi sepakbola terjadi di laga semifinal piala FA yang mempertemukan Nottingham Forest vs Liverpool di stadion Hillsborough akibat membludaknya jumlah penonton. 23 tahun terlalu lama bagi keluarga korban yang hidup menderita akibat fitnah yang disebarkan oleh surat kabar The Sun. Ya The Sun menerbitkan berita bohong yang mencoreng nama suporter Liverpool. Mereka dituduh sebagai penyebab kerusuhan di stadion tersebut sementara mereka yang bertahan hidup difitnah mencuri dompet korban, mengencingi polisi, dan memukuli staf ambulans.
Nah pada tanggal 12 September lalu, Hillsborough Independent Panel (HIP) merilis 400,000 lembar dokumen penyelidikan secara independen yang dilakukan selama dua tahun. Hasilnya suporter Liverpool terbukti tidak bersalah dalam tragedi tersebut melainkan kelalaian pihak kepolisian dalam mengantisipasi jumlah penonton yang membludak. Petugas ambulans juga terlambat memberi pertolongan. Lapangan tersebut diketahui tidak memenuhi standar keselamatan minimum.
The Sun meminta maaf
Ironisnya surat kabar The Sun mengklaim berita yang mereka terbitkan 23 tahun lalu bersumber dari kantor berita di Sheffield sementara pernyataan yang mereka peroleh berasal dari salah seorang polisi senior.
"Twenty-three years ago the Sun newspaper made a terrible mistake," ucap editor The Sun saat ini, Dominic Moynihan. "We published an inaccurate and offensive story about the events at Hillsborough. We said it was the truth - it wasn't.  The Hillsborough Independent Panel has now established what really happened that day. It's an appalling story and at the heart of it are the police's attempts to smear Liverpool fans. It's a version of events that 23 years ago The Sun went along with and for that we're deeply ashamed and profoundly sorry. We will also reflect our deep sense of shame."
Sementara itu editor The Sun pada saat tragedi terjadi Kelvin MacKenzie menambahkan, "It has taken more than two decades, 400,000 documents and a two-year inquiry to discover to my horror that it would have far more accurate had I written the headline 'The Lies' rather than 'The Truth'. I published in good faith and I am sorry that it was so wrong."
May all the victims who were affected by the tragedy rest in peace. You'll Never Walk Alone.