Rabu, 27 Mei 2015

Pantai Menganti 2.0 dan Pantai Pecaron

Mengapa saya tambahkan "2.0" di belakang "Menganti" ? Yep, karena ini kedua kalinya saya bikepacking ke sana. (Ke Menganti pertama kali) What the heck is bikepacking? Yah semacam bepergian mengendarai sepeda motor. Kalo dulu saya cuma bonceng di belakang, kemarin (Minggu, 24 Mei 2015) saya mengemudikan kuda besi sendiri loh. :D

Bermodal nekat, saya ngajakin temen SMP saya yang baru pulang dari perantauan, Arum. Dia pengen banget pergi ke Menganti katanya. Saya juga sih karena Januari lalu gagal kesana. :((( Sekitar pukul 9 saya jemput dia di Tipar Kidul. Lanjut saya mengendarai si Silver Pink ke arah selatan menuju Wangon lalu mengambil jalur ke kiri ke arah Jatilawang sampai Rawalo baru saya ambil jalur ke Sampang. Bermodal pengalaman kondangan ke Gentasari, saya potong jalan ke Kroya lewat situ. Pas di perempatan pasar Gentasari saya nanya orang jalan ke Kroya. Saya memang sengaja memilih jalur desa untuk menghindari jalan besar yang didominasi kendaraan berat semacam truk dan trailer. Padahal dulu pertama ke Menganti, saya dan teman-teman lewat jalur utama Purwokerto-Banyumas-Buntu-Sumpiuh-Kebumen baru ke arah Pantai Ayah dan Menganti. Kali ini saya berpatokan dengan Pantai Widarapayung. Padahal saya gak tau loh jalan ke Widarapayung :D

Arum sepanjang jalan ngerasa cemas kalo udah sampe jauh banget ternyata nyasar dan gak jadi ke Menganti. Saya jawab aja, kalo nyasar kita ke Widarapayung ajah *pengalaman gagal ke Menganti, WP pun jadi* Nah udah sampai Kroya--btw, beberapa bulan lalu saya kirim kendaraan ke Kroya jadi rada hapal jalannya--di perempatan saya mengarahkan Silver Pink ke kiri ke daerah Nusawungu. Di sebuah pertigaan *eaaaa* ada penunjuk jalan ke Pantai Widarapayung. Tanpa pikir panjang saya memilih jalur tersebut. Sedikit banyak saya mengingat jalan itu dan setelah saya menarik gas selama 10 menitan... *drumrolls* sampailah di pintu masuk Pantai Widarapayung. Lalayeyeye *joget kucek jemur*

Arum sempet nanya, "Kalau kita lurus terus (masuk Widarapayung) di sana ada pantai?"
Dijawab oleh saya, "Mau mampir?"
Arum: "Menganti ajalah. Masih jauh gak?"
Saya: "Satu jam lagi." prediksi saya gak sampe sejam kita bakal sampe sana. Ternyata tidak.

Setelah menarik gas selama 30 menitan saya tak kunjung menemukan gapura "Selamat Datang Kebumen". Arum diem terus takut kecewa kali yah. Cuma saya masih pede aja "lari" 60km/h tanpa hambatan berarti. Coba kalo lewat Sumpiuh, udah sepaneng ketemu truk sama bus. Kemudian ada perempatan yang menujukkan lurus ke Gombong dan Kebumen, kanan ke Yogya, kiri ke Buntu kalo gak salah. Saya bingung lantas saya pilih lurus aja. Tapi kok aneh yaaa, hmm. Sepertinya saya seharusnya pilih yang ke arah Yogya. Lalu ada perempatan lagi dan saya pilih ke kanan dan di perempatan berikutnya saya nanya orang jalan ke arah Pantai Ayah. Ibu-ibu yang saya tanyai menunjuk ke arah kiri. Segera saya lanjutkan perjalanan karena ternyata kami udah menghabiskan sekitar 2 jam berkendara. Gak berapa lama sampailah saya di jembatan pemisah Cilacap dan Kebumen dan tentu saja gapura "Selamat Datang Kebumen". Girang? Tentu saja. Udah disitu rasanya Menganti semakin nyata aja. Hahahaha.

Nah di Pantai Ayah saya minta gantian boceng motor sama Arum mengingat trek menuju Menganti agak sulit. Heheheh licik kan saya! *smirks* Arum sampe ngatain kampret ke saya. Wkwkwk :D Sekitar 30 menitan dengan melalui jalan yang menanjak dan berkelak-kelok dan bermodal ingatan yang samar-samar maka sampailah kita di Pantai Menganti. HAHAHAHA, SAMPAI DI MENGANTI GAESSSS.

Hellyeaaaaah :D





katanya sih ini udah termasuk Pantai Pecaron

menyusuri bukit ke arah timur



Kamis, 21 Mei 2015

You Are the Apple of My Eye (2011)

Sudah agak lama saya gak nonton film remaja Asia. Ya, saya fans berat film-film Thailand atau negara Asia lain yang bergenre komedi romantis. Selain alur ceritanya yang segar juga masih bisa diterima di kehidupan remaja kita. Yah sesuai realita yang ada di sini.

Kali ini saya mau membagi sedikit film yang saya tonton semalam. Yep, film ini berasal dari Taiwan berjudul You Are the Apple of My Eye. Bercerita tentang kehidupan remaja ketika SMA. Kenakalan-kenakalan yang mungkin pernah kita alami (kalo saya sih gak pernah nakal :D).

Ya jadi ada gadis terpandai di sekolah bernama Shen Chia Yi yang diminta oleh gurunya untuk mengawasi murid ternakal dengan nilai terendah bernama Ko Ching Teng. Kebetulan keempat teman Ko Ching Teng menyukai Shen Chia Yi. Salah satu dari mereka meminta Ko Ching Teng untuk tidak merepotkan gadis cantik itu. Suatu hari Shen Chia Yi lupa membawa buku Bahasa Inggris tapi Ko Ching Teng menyelamatkanya dan membuatnya terbebas dari hukuman. Sayangnya Ko Ching Teng yang harus menanggung hukuman tersebut. Setelah itu Shen Chia Yi jadi perhatian dengan Ko Ching Teng. Ia banyak memberi soal untuk latihan Ko Ching Teng di rumah. Alhasil mereka membuat taruhan bagi siapa yang sukses menjadi juara kelas maka ia mendapat keuntungan menyuruh yang kalah melakukan hal yang diinginkannya. Jika Ko Ching Teng menang, ia ingin Shen Chia Yi mengucir rambutnya yang terbiasa tergerai itu. Sayangnya ia kalah lantas Ko Ching Teng mencukur cepak rambutnya. Namun entah mengapa Shen Chia Yi meski menang ia tetap mengucir rambutnya yang mana membuat Ko Ching Teng dan teman-temannya semakin naksir kepadanya.

Akhirnya hari kelulusan tiba. Mau tidak mau mereka harus mengejar mimpi mereka masing-masing. Saat tes masuk kuliah, Shen Chia Yi mengalami sakit perut yang membuatnya tidak maksimal dalam mengerjakan soal. Meski agak gagal, ia tetap berhasil masuk ke University of Education yang mana lulusannya kebanyakan menjadi guru. Ko Ching Teng juga masuk ke universitas entah apa deh lupa. Yang pasti saat kuliah dia tinggal di asrama. Setiap malam dia mengantri di telepon universitas bergantian dengan teman-temannya untuk menghubungi Shen Chia Yi. Ya pada masa itu belum ada telepon genggam.

Meski sudah terpisah jarak saat liburan Ko Ching Teng menyempatkan bertemu dengan Shen Chia Yi. Saat si cowok nanya, "Kita gini (jalan bareng) udah termasuk pacaran belum?" si cewek menjawab, "Kok tanya aku?" Haaaa khas banget jawaban cewek. Kampfreeet!

Lalu mereka jalan bareng. Trus Shen Chia Yi nanya, "Kamu beneran suka aku?" lantas si Ko Ching Teng menjawab, "Suka kok." Dasar cewek meskipun udah diiyain tetep aja nanya terus biar yakin. Di akhir pertemuan itu kedua sejoli itu menerbangkan balon bertuliskan permohonan mereka. Di balon itu Shen Chia Yi nulis kalo ia mau jadi pacar Ko Ching Teng tapi dese gak tau. Sebenernya si cewek udah mau ngasih jawaban kalo ia bersedia menerima cinta si cowok tapi cowoknya mengira si cewek mau nolak dia jadi dia bilang gak mau tau jawabannya saat itu. Hadeeeehhh...



Shen Chia Yi nulis ini

Singkat cerita, Ko Ching Teng ingin menarik perhatian gadis pujaannya dengan membuat kompetisi tinju. Shen Chia Yi menentang rencana lelaki itu tapi Ko Ching Teng tetap saja menggelar kompetisi tersebut. Hingga hari itu tiba mereka terlibat pertengkaran hebat. Shen Chia Yi mengatai Ko Ching Teng kekanak-kanakan dan sangat tidak dewasa (sama aja kelessss..) Akhirnya mereka putus padahal belum sempat jadian. :"""(

Quote favorit saya saat Ko Ching Teng berjalan di bawah hujan,
"Dalam pertumbuhan menuju dewasa, hal yang paling kejam adalah perempuan selamanya selalu lebih dewasa dari laki-laki seumurnya"
 Begitulah Kak A Teng. Makanya kudu sabar syekaliii ngadepin yang seumuran. *surhat solongan*

Akhir cerita (HAHAHAHA SENGAJA NGASIH SPOILER KARENA PASTI UDAH PADA NONTON KAN?) Shen Chia Yi menikah... Gak sama Ko Ching Teng. Well, gak semua film berakhir dengan sang tokoh utama hidup bahagia bersama tokoh utama lainnya. Contohnya film ini si A Teng kudu jumawa liat gadis pujaannya nikah sama laki-laki lain yang keliatannya jauh lebih dewasa. Film ini juga mengajarkan kita untuk tetep kuat menghadiri nikahan mantan. Barangkali bisa dapet ciuman colongan *eh*

*tulisan ini sebenernya udah mengendap di draft selama beberapa pekan dan akhirnya rampung juga :D

Sabtu, 16 Mei 2015

Tentang Hidup dan Passion

It's the fifth month in 2015. My month will come afterward.
Pertengahan tahun selalu jadi favorit saya. Mengapa? Sederhananya, saat itu hujan tak banyak menghambur. Ya, saya tak begitu menyukai hujan. Hujan sedikit banyak mendeskripsikan tentang kesedihan. Mesti tak sepenuhnya demikian.

Alasan paling diterima, tentu saja pertengahan tahun adalah masa dimana saya menginjak umur yang baru. Padahal saya tak begitu suka bertambah tua, tapi saya suka ketika orang-orang memberi perhatian kepada saya. Wah ternyata saya begitu haus akan perhatian. Hehehe. Gak ding, saya juga terkadang risih ketika orang memperhatikan saya. Well, dua kepribadian amat sih!

Udah?

Bulan Juni itu identik dengan libur panjang...buat anak sekolah tapi. Buat kaum pekerja seperti kita mah lanjut aja mengais nafkah. Dan bulan Juni tahun ini akan kita lalui bersamaan dengan bulan Ramadhan. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan yang suci, insha Allah.

Jadi apa saja yang sudah didapatkan menjelang setengah tahun ini?

 Puji syukur kepada Yang Maha Kuasa, tahun 2015 ini berjalan begitu menakjubkan untuk saya. Banyak hal yang saya tunda tahun-tahun sebelumnya berhasil saya capai meski belum semuanya. Saya yang akhirnya menemukan passion saya dan meraih apa yang beberapa teman seumuran saya sudah mencapainya beberapa tahun lalu. Well, what am I talking about?

Saya yang beberapa tahun terakhir nyaris kehilangan arah tentang hidup (dramatisir dikit) kembali menemukan diri saya. Bahwa saya telah melewatkan banyak waktu untuk hal yang sedikit banyak tanpa hasil. Entah apa saja yang saya lakukan selama ini. Saya tertinggal jauh dari mereka, teman-teman saya. Ketika yang lain sudah mulai memikirkan untuk membangun kehidupan baru, saya justru baru mulai menikmati masa muda saya. I'm growing too slow, eh? Sepertinya demikian.

Ketika mereka sudah mendapatkan lisensi mengemudi mereka sejak beberapa tahun yang lampau, saya baru saja mendapatkannya bulan lalu. Yah, saya baru berani mengendarai motor sekitar 2 bulanan ini. Dulu waktu saya dihabiskan untuk, latihan sebentar-malas-latihan sebentar-malas begitu seterusnya sampai sekitar 7 tahunan. Lama juga yah malasnya? Wkwkwk.

What else? Haaa, saya menemukan bahwa selama ini diri saya terlalu dimanjakan dengan teknologi hingga lupa berinteraksi dengan yang lain meski mainannya Twitter sama Facebook sih. Yaa, terlalu asik berinteraksi dengan orang yang jauh tapi lupa menjaga hubungan dengan orang yang dekat. Mungkin teman-teman yang asik berada jauh disana dan nyaris tak menemukan orang seasik mereka di lingkungan sekitar. Mungkin. Ya, beberapa tahun terakhir saya hanya memiliki gadget sebagai teman baik saya.

Pengalaman menjelajah dunia maya itu membuat saya banyak membaca hal-hal baru, melihat tempat-tempat indah yang tak perlu dijangkau dengan uang banyak. Cukup klik situs tertentu saja maka semesta membawa kita melihat tempat tersebut tanpa harus berlelah-lelah ria. Hingga suatu hari saya membaca quote yang cukup mengubah saya hari ini.

"Saya selalu menyarankan ini, jika kalian masih muda, punya banyak waktu luang, tidak memiliki terlalu banyak keterbatasan, maka berkelilinglah melihat dunia. Bawa satu ransel di pundak, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu desa ke desa lain, dari satu lembah ke lembah lain, pantai, gunung, hutan, padang rumput, dan sebagainya. Menyatu dengan kebiasaan setempat, naik turun angkutan umum, menumpang menginap di rumah-rumah, selasar masjid, penginapan murah meriah, nongkrong di pasar, ngobrol dengan banyak orang, menikmati setiap detik proses tersebut.

Maka, semoga, pemahaman yang lebih bernilai dibanding pendidikan formal akan datang. Dunia ini bukan sekadar duduk di depan laptop atau HP, lantas terkoneksi dengan jaringan sosial yang sebenarnya semu. Bertemu dengan banyak orang, kebiasaan, akan membuka simpul pengertian yang lebih besar. Karena sejatinya, kebahagiaan, pemahaman, prinsip-prinsip hidup itu ada di dalam hati. Kita lah yang tahu persis apakah kita nyaman, tenteram dengan semua itu. Nah, kalau kalian punya keterbatasan, lakukanlah dalam skala kecil, jarak lebih dekat, dengan pertimbangan keamanan lebih prioritas. Itu sama saja. Lihatlah dunia, pergilah berpetualang, perintah itu ada dalam setiap ajaran luhur."

-Darwis Tere Liye-
 Dulu sekali waktu usia pra sekolah sampai awal-awal sekolah, orang tua saya sering sekali mengajak saya dan adik bepergian entah itu ke rumah Eyang, ke supermarket, atau berekreasi bersama teman bapak. Saya pun belajar membaca dari situ. Setiap saya diajak pergi, saya membaca nama-nama toko dari balik kaca bus. Di sekolah saya tak lagi kesulitan mengeja huruf. Hingga kebiasaan bepergian itu berangsur hilang lantaran semakin dewasanya saya dan adik dan adanya kebutuhan lain yang lebih penting ketimbang 'hanya' plesir.

Ya, bagi sebagian orang plesir adalah kegiatan membuang-buang uang. Setelahnya kita dapat apa? Lelah dan kantong menipis? Itu memang benar, tapi tanpa disadari kita juga baru saja membeli pengalaman dan juga foto yang bisa dipamerkan di media sosial. Setidaknya dengan bepergian kita jadi tahu jalan. :D

Well, udah kemana aja emang? Belum banyak tapi setidaknya setengah tahun ini ada beberapa tempat baru yang saya kunjungi. Surakarta, Bogor, Kota Tua, dan Dieng. So, what's next?

MENDAKI GUNUNG BUAT LIAT SUNRISE BELUM KESAMPAIAN!!!!! :(((((((((((((((((((