Jumat, 14 Juni 2013

Just An Ordinary Birthday

Seperti yang saya bilang, gak pernah ada yang spesial di hari ulang tahun saya. Kecuali ucapan-ucapan dari teman-teman terdekat baik di dunia nyata maupun maya.

Tapi seperti yang sudah saya bilang juga, saya gak mau seperti ababil lagi yang 'gila' akan ucapan selamat ulang tahun. Iya, saya dulu suka 'meminta' sama pesepakbola ternama untuk memberi saya ucapan selamat lewat Twitter setiap tanggal 13 Juni. Setiap ucapan yang masuk ke mention selalu saya retweet entah apa maksudnya. Tapi saya gak sadar jika hal itu mengganggu followers saya. Kesannya itu saya seperti ingin memberi tahu followers kalo saya sedang merayakan ultah.

Berbeda dengan Facebook. Ya kalian tahu sendirilah Facebook selalu ngasih notifikasi hari ulang tahun di pojok kanan atas. Pantes aja orang-orang pada inget. Ga ngerti deh kalo gak ada Facebook mungkin gak ada yang inget hari ulang tahun saya. Bagus sih biar gak ada yang minta traktiran. Mwihihihi :))

Tapi yang menggelitik itu doa-doa yang mereka tuliskan di wall Facebook saya.

tambah peminin? haha peminin aja belum disuruh nambah. :P

terjemahan: "met ultah ya bu isma... semoga cepet laku... cepet nikah, cepet  gemuk (gemuk rejeki, gemuk segalanya)
besok minggu makan2 yah. :-P"
preeeeeeeet kesannya saya perawan tua yg gak laku. FAAK!!=))

terjemahan: "Happy b'day is..
Semoga tambah gemuk ya Is... kasian liat kamu gak kunjung gemuk...
Hehehe..."
FAAAAKK!! kesannya saya kekurangan gizi apa gimana sik?

ini lagi nyuruh saya niup gambar. ada yg salah dengan anak ini. pasti.
huahahahha kok gak ada yang doain semoga Isma jadi lebih dewasa, ikhlas, dan sabar sih? Huhuhu... Berarti Isma sudah cukup dewasa, ikhlas, dan sabar yah? :P

Sekilas itu aja cerita mengenai dunia maya. Berbeda lagi dengan dunia nyata. Tahun ini pertama kalinya saya merayakan ulang tahun di tempat baru dengan teman-teman baru. Padahal kan kalo kek gitu jarang sekali ada orang peduli dengan hari ulang tahun yah? Tapi kenyataannya teman-teman baru saya malah pada inget. Bahkan sebelum hari-H mereka 'berkicau' terus.

"Ih Ismaaa mau ultah. Dimajuin sih. Tanggal segitu aku lagi training."

"Waaaah ada yang mau nraktir makan siang nih tanggal 13."

"Jiyeeee ada yang mau ultah nih?! Beli telor sama tepung aaah."

"Jiyeeee nikah yuk." kalo yang ini gak ada yah hehe.

Ya ampun segitu excited-nya mereka. Saya tahu saya emang pantes diidolai tapi gak gitu banget sih. *digampar pake bemper*

Ya seperti itulah mereka. Mungkin karena ruang lingkupnya sempit makanya kebersamaan itu terasa. Jadi ada satu teman yang habis ngambek-ngambekan sama saya. Saya juga gak sungkan bilang kalo saya sebel sama dia di DEPAN MUKANYA LANGSUNG. Dia nyamperin saya dan ngajak saya salaman. "Selamat ulang tahun, Isma."

Saya menggodanya, "Doanya mana?"

Dia senyum, "Semoga Isma jadi orang yang lebih baik."

Kamfretosssss. Berarti saya orangnya gak baik yah? Ah sudahlah. Itukan doanya baik. Diamini aja sih. Allohuma amiiiiiin. :D

Kamis, 13 Juni 2013

Trik Alami Meredakan Sakit Gigi

Sebelumnya saya tidak pernah mengalami sakit gigi. Kalau pun sakit pasti hanya cenut-cenut biasa. Namun beberapa bulan yang lalu saya mengalami sakit gigi yang amat nyeri hingga menjalar pada sakit kepala. Penyebabnya adalah gigi yang berlubang. Kebayang kan gimana rasanya?!

Karena belum berpengalaman soal mengatasi nyeri akibat sakit gigi, saya minta saran pada teman-teman saya. Salah satu teman saya menyarankan saya untuk meminum obat pereda rasa sakit yakni asam mefenamat sama antibiotik untuk pencegahan. Hasilnya, gak ada perubahan sama sekali. Gigi saya semakin nyeri, kepala saya semakin sakit. Untuk tidur saya rasanya susah. Apalagi untuk bicara. Sungguh menyiksa! Pantes aja orang sakit gigi itu sangat emosional. Beruntung gusi saya gak sampe bengkak akibat sakit gigi. *tetep yah orang Jawa pasti ada untungnya*

Merasa gak mengalami kesembuhan setelah meminum asam mefenamat, akhirnya saya membeli obat lain seperti disarankan oleh teman saya yang lain. Obat pereda rasa sakit juga tapi merknya Ponstan. Gak begitu banyak perubahan juga sih minum Ponstan.

Akhirnya saya googling obat alami untuk meredakan rasa sakit. Beberapa sumber menyarankan untuk mengunyah bawang pada gigi yang sakit. Saya rasa cara itu terlalu berat untuk dilakukan. Gigi sakit digunakan untuk mengunyah? Mana bawang mentah rasanya gak enak. Eww. Kemudian saya menemukan cara mudah mengatasi nyeri akibat sakit gigi. Cuma menyumpal gigi yang berlubang dengan garam. Awalnya saya pikir rasanya akan sakit sekali namun kenyataannya sama sekali gak sakit dan seketika itu nyeri langsung hilang. Subhanallah! :)

Bagaimana pun bahan alami lebih aman ketimbang obat kimia. Khasiatnya pun bisa segera terasa. Keren gak tuh?! :)

Sabtu, 08 Juni 2013

Aku Suka Pantai, Karena...

Ketika aku jenuh, ketika aku butuh sesuatu untuk menyegarkan pikiranku, aku pilih pantai sebagai tempatku membuang getir kehidupan. Bukan membuang dalam arti sebenarnya. Namun lebih tepatnya, menghilangkan sesaat kegetiran itu yang menggelayuti pikiranku.

Kenapa pantai? Aku mungkin terpengaruh dengan scene norak di film atau sinetron yang menggambarkan seorang tokoh membuang kejenuhan di pantai sembari duduk di pelabuhan dan melempar-lempar batu ke laut lepas atau hanya sekadar berteriak ke lepas pantai untuk melegakan pikiran. Mungkin. Tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Aku hanya duduk di pemecah ombak (jika ada) sambil merenung dan menenangkan diri dengan memandang jauh ke garis batas laut dan langit yang seakan bertemu. Itu sudah cukup.



Hanya Percikan Kata

Aku hanya lebih nyaman seperti ini.
Tak terbelenggu dengan perasaan tak enak.
Meski sepi, namun ini lebih baik. 
Aku tak harus mengalah pada sensitivitas. 
Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri. 
Inilah aku, penyuka kebebasan. 
Bebas mengolok tanpa takut menyakiti. 
Bebas berseloroh tanpa takut melukai. 
Jika tak suka denganku lagi, aku sangat siap untuk kau jauhi. 
Namun jika ingin hubungan kita seperti dulu lagi,
maaf aku tak tahu kalimat apa untuk mengakhiri tulisan ini.







:)

Kamis, 06 Juni 2013

Menuju 20: I'm Gonna Leave Teenager

source: apnic.net

Sudah bulan Juni lagi. Rasanya baru kemarin wall Facebook saya dipenuhi ucapan selamat ulang tahun. Masih teringat ketika rekan kerja saya menyalami saya setelah saya mengumpulkan form pendaftaran Jamsostek. "Isma ulang tahun ya?" begitu ucapnya yang berbuntut dengan banjirnya ucapan selamat dan cipika cipiki dari kolega yang lain. Iya kisah itu masih membekas.

Jujur saja tak ada yang spesial dari hari ulang tahun saya. Tak pernah ada pesta kejutan. Tak pernah ada yang sengaja mengerjai saya. Entah karena saya yang tak berarti untuk diberi kejutan atau karena bulan Juni identik dengan musim ujian dan musim liburan sehingga sulit untuk mengingat hari ulang tahun. Entahlah. Mungkin alasan yang pertama. But it's not the matter.

Iya, bukan kejutan atau banjirnya ucapan selamat yang penting saat ulang tahun. Melainkan 'renungan'. Semakin tua umur kita, semakin sedikit sisa hidup kita, semakin berat ujian yang akan menunggu kita. Seharusnya itu yang saya pentingkan ketika ulang tahun. Namun kenyataannya saya masih seperti abg yang 'gila' akan ucapan selamat. Geez!

Di ulang tahun ke-20 nanti saya ingin sesuatu yang berbeda. Iya berbeda dalam diri saya. Saya ingin Isma di umur 19 tidak sama dengan Isma di umur 20. Isma yang mudah tersinggung, emosional, gengsi, cuek, suka mengeluh, dan pendendam, tidak ada lagi ketika Isma meninggalkan kepala satu. Saya ingin Isma di umur 20 menjadi Isma yang ikhlas dan sabar. 'Wacana' itu sudah sejak saya berada di SMA tingkat akhir. Kala itu saya bertanya kepada guru saya, bagaimana menjadi orang yang ikhlas dan sabar? Beliau menjawab, itu semua kembali pada diri masing-masing. Hatilah yang mengendalikan emosi kita. Cukup sulit memang, tapi itulah ujian terberat manusia, mengendalikan diri. :)

Sebenarnya tak perlu menunggu usia 20 untuk menjadi Isma yang ikhlas dan sabar. Namun itu sungguh sulit. Sudah dua tahun lebih saya berjuang menjadi insan yang ikhlas dan sabar namun pada kenyataannya saya masih menjadi Isma yang emosinya meletup-letup dan sulit melupakan kekecawaan akibat disakiti orang lain. Sungguh saya merugi! :'(

Semoga 6 hari lagi ketika saya resmi meninggalkan masa remaja, saya menjadi orang yang bijak, pemaaf, ikhlas, sabar, dan bertanggung jawab. Bijak, easier said than done, tapi inilah usaha. Saya ingin lebih bijak dalam berbicara. Saya harap semoga tidak lagi keluar cemoohan atas tingkah polah orang lain yang salah. Gerutu-gerutu kecil yang terlepas dari mulut. Semoga kata-kata yang keluar dari mulut saya adalah kata-kata yang bermanfaat bagi orang lain. Pemaaf, sikap yang mungkin perlahan saya bisa melakukannya namun masih sulit untuk melupakan kekecewaannya. Ya itulah saya, pendendam. Ketika saya disakiti, akan sangat sulit bagi saya bersikap baik kepadanya hingga orang tersebut meminta maaf kepada saya. Meski sikap saya kembali baik kepadanya namun luka-luka itu masih akan membekas di hati saya. Nah, hal semacam itu ingin saya tinggalkan. Hidup itu untuk masa depan. Masa lalu hanya untuk pelajaran. Tentu saja untuk menjadi orang yang pemaaf saya harus menjadi orang yang ikhlas dan sabar. Bertanggung jawab menjadi poin penting mengingat saya orang yang cuek dan tidak peduli lingkungan. Saya juga tipikal orang yang suka melimpahkan kesalahan pada orang lain meski saya sendiri benci akan sifat itu. Suatu saat, ketika saya memang salah, saya ingin berbesar hati mengatakan, "Iya itu kesalahan saya. Apa yang bisa saya perbuat untuk memperbaiki kesalahan itu?" Tanggung jawab bukan hanya pada pekerjaan namun juga pada hati. Saya ingin sekali berbesar hati mengakui kesalahan saya ketika saya melukai hati orang lain. Namun itu sulit. Saya terlalu gengsi untuk mengakuinya. Apalagi untuk meminta maaf? Benar-benar saya ingin membuang jauh-jauh sifat buruk itu.

Teman-teman, doakan saya menjadi Isma yang lebih baik. Ingatkan saya ketika saya khilaf. Tuntun saya ketika saya berada di jalan yang salah. Sesungguhnya saya begitu rapuh dan kalianlah energi yang dapat membuat saya lebih kuat.