Jumat, 26 Juli 2013

Why Me Choose Liverpool? (Part. 1)

Beberapa kali saya mengunjungi blogger teman-teman Kopites (fans Liverpool) dan saya selalu menemukan post macam ini. Post yang menceritakan awal mula mereka ngefans Liverpool. Dan kali ini saya juga mau mengisahkan hal yang sama. Rada latah but here we go...

Kebanyakan Kopites mungkin mulai mencintai The Reds ketika mereka memenangkan laga dramatis di final UEFA Champions League di Istanbul pada musim 2004/05 lalu. Ya wakil Britania Raya itu mengkandaskan keperkasaan AC Milan lewat adu penalti setelah menyamakan kedudukan menjadi 3-3 di babak kedua. Liverpool tertinggal 0-3 di babak pertama dan seluruh pemain, staf pelatih, serta pendukung Il Rossoneri kadung merayakan kemenangan mereka. Teganya, klub asal kota pelabuhan itu "merebut" pesta mereka. Momen itu membikin banyak pasang mata jatuh cinta dan mentasbihkan diri sebagai fans Liverpool. Namun bukan saya salah satunya.

Musim panas 2002 ketika saya duduk di kelas 4 SD, saya lagi demen banget nonton sinetron Bidadari tapi jam tayangnya diisi sama pertandingan bola. Rada sebel tapi akhirnya saya terpaksa ikut nonton. Kemudian semesta mempertemukan saya dengan Michael James Owen. As you know, tahun segitu sinar Owen lagi terang-terangnya. Sejak saat itu saya dukung Timnas Inggris. Bintang Piala Dunia kala itu Ronaldo, David Beckham, Michael Owen, Raul Gonzalez, dan Miroslav Klose, setidaknya nama-nama itu yang saya ingat. Kelar piala dunia saya gak pernah mengikuti sepakbola lagi.

Michael Owen

David Beckham
Bukan Cristiano Ronaldo namun Ronaldo Luiz Nazario de Lima

bintang Jerman, Miroslav Klose

Raul Gonzalez

Dua tahun berlalu, Piala Eropa 2004 dihelat di Portugal. Tayangan tv dipenuhi pertandingan sepakbola lagi. Saya nanya sama bapa, "Pa, Michael Owen kapan main?" Bapa saya jawab, "Inggris sudah tersisih." Well, entah sudah fase keberapa saya nontonnya. Rada gak inget. :)) Itulah masa-masa saya angin-anginan suka sepakbola.

Kemudian datanglah pesta sepakbola Piala Dunia 2006. Entah kenapa saya antusias banget menyambutnya. Sebelum event dimulai saya sudah mengikuti highlight sepakbola seperti One Stop Football dan Sport 7. Dan tim yang saya dukung masih sama, Timnas Inggris. Saya ingat kala itu laga perdana Inggris hanya menang tipis 1-0 melawan Paraguay lewat free kick David Beckham. Saya nyari-nyari nomer punggung 10 (Michael Owen-red) tapi gak ketemu-ketemu. Kemudian wajah yang familiar sekali dengan Owen muncul. Rambutnya yang blonde dan potongannya yang rapi bikin saya nyaris menganggap dia Owen. Tapi setelah melihat nomer punggungnya 4, saya kemudian ragu. Ah, Owen kan nomernya 10, masa sih ganti jadi nomer 4? Ujar saya waktu itu. Dan, jreng jreng jreng, namanya pun terlihat. Sulit mengejanya. Gimana pronounciation-nya? Ah ribet amat hidup saya kala itu. GERRARD. Ya itulah nama si pemain nomer punggung 4. Lantas saya memasukan nama Gerrard ke dalam daftar pemain sepakbola untuk diikuti aksinya.


Steven Gerrard


Well, balik lagi ke pencarian saya pada Michael Owen. Ceritanya kala itu Owen baru sembuh dari cedera sehingga dia tidak dimainkan di laga perdana. Pria kelahiran 14 Desember itu baru main kala The Three Lions kontra Swedia, kalo gak salah. Dia masuk sebagai pemain pengganti namun baru beberapa menit bermain dia terkilir. Akhirnya Owen dipinggirkan. Sedih sekali saya gak bisa banyak melihat aksi-aksi Owen seperti di Piala Dunia 2002. :( Namun saya tidak meninggalkan timnas Inggris begitu saja karena masih ada Gerrard di tim tersebut.

Jika di event-event sebelumnya saya hanya nonton Timnas Inggris, di Piala Dunia 2006 itu saya mulai mengikuti semua tim. Saya jadi salah satu orang yang menyaksikan laga kala Timnas Spanyol membantai Ukraina 4-0. Gol pertama dicetak oleh pemain nomer punggung 14. Namanya indah sekali didengar. XABI ALONSO. Sejak saat itu nama tersebut selalu terngiang di telinga saya. Tim Matador juga membikin saya banyak belajar bila 'x' dilafalkan 's' dan 'll' dilafalkan 'y'. Namun hati saya tertambat pada David Villa karena wajahnya mirip Mario Lawalata apalagi jenggot kecilnya di bawah bibir. :P La Furia Roja juga memperkenalkan saya pada pemain-pemain seperti Luis Garcia, Iker Casillas, dan Xavi Hernandez. Btw, saya sering sekali salah menyebut Xabi Hernandez dan Xavi Alonso. :)))


kiri-kanan: Xabi Alonso, Fernando Torres, dan David Villa
Sayangnya Piala Dunia 2006 berakhir anti-klimaks. Dua tim yang tidak menjadi favorit saya malah lolos ke final. Italia dan Perancis. Saya benci Italia karena saya gak suka sama tim tersebut. Lupa aja kenapa. Sementara alasan saya tidak menyukai Perancis karena mereka yang menyingkirkan Spanyol. :"(((

Kelar Piala Dunia 2006 tidak membuat saya meninggalkan sepakbola seperti yang saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Saya malah mulai mengikuti Liga Inggris yang tayang reguler di tv lokal. Saya tahu bila Gerrard bermain Liverpool membuat saya menyaksikan laga perdana EPL antara Liverpool vs Sheffield United. Nah, dari laga tersebut saya jadi tahu jika Liverpool itu dihuni oleh pemain Spanyol bernama indah, Xabi Alonso. Eh ternyata dia ganteng yah, begitu pikir saya setelah saya perhatikan lebih lama lagi. Selain Xabi juga ada Luis Garcia. Owalaaaaaaah. Yaudahlah saya dukung Liverpool aja kalo gitu.  :D

Setelah itu saya jadi lebih langganan tabloid Soccer yang terbit setiap Jumat. Jadi saya ngumpulin uang saku saya tiap hari seceng. Seminggu kekumpul goceng buat beli tabloid Soccer. Waktu itu pulsa belum jadi kebutuhan banget buat saya. Sampe temen saya bilang, "Uang jajan kamu banyak yah tiap minggu bisa beli tabloid?" You don't know oh oh...


Saya juga pernah beli poster jumbo Liverpool bonus tabloid Soccer dari teme ngegara saya kehabisan stok. Saya udah ke agen koran--biasanya saya beli sama loper koran--deket lampu merah juga abis. Akhirnya saya beli deh itu posternya seharga Rp 4.000 padahal tabloidnya seharga Rp 6.000 (edisi khusus). Saya dimarahin temen saya yang lain, mau-maunya dibohongin. Yah namanya tjintah.

Kemudian cobaan hadir ketika saya tidak menemukan teman yang ngefans Liverpool. Setiap hari diledekin sama teman-teman cowo yang ga suka Liverpool dan dukung semua klub lawannya Liverpool. :( UCL 2006/07 sangat emosional bagi saya. anti mainstream banget kan ketika fans lain menyebut UCL 2004/05 yang emosional tapi bagi saya justru di musim 2006/07 karena baru pertama kali saya mengikuti Liverpool dari awal musim. Tersengal-sengal di babak penyisihan grup, Liverpool jumpa juara bertahan Barcelona di 16 besar. Final yang terlalu dini, begitu orang-orang menyebutnya.Fantastis, Liverpool menang 2-1 di Camp Nou berkat gol dua pemain yang sebelumnya berseteru di klub malam, Craig Bellamy dan John Arne Riise. Tak disangka The Kop yang jadi underdog berhasil lolos ke putaran selanjutnya. Delapan besar mudah dilewati karena hanya melawan PSV. Nah di semifinal ini Liverpool bertemu klub senegara, Chelsea. Seluruh siswa laki-laki seangkatan mungkin mendukung Chelsea dan mengolok-olok saya seraya bilang, "Liverpool gak bakal lolos. Liat aja pasti bakalan malu." Ya kala itu The Blues lagi bersinar di bawah asuhan Jose Mourinho. Agregat imbang 1-1 membuat pertandingan harus dilanjutkan ke babak penalti. Dan yah, Liverpool unggul 4-1. Keesokan harinya di sekolah saya samperin anak-anak cowo yang kemarin ngeledekin saya. LIAT TUH! CHELSEA KALAH! LIVERPOOL KE FINAL! LIAT ITU!!! kalo jaman sekarang mungkin saya udah bilang, "IN YOUR FACE, BITHCES!!!"

Namun final 2006/07 tak seindah final 2004/05. Yah Liverpool nyerah aja gitu setelah tertinggal 0-2. Cuma bisa bales satu gol doang lewat Dirk Kuyt. Tapi yang saya inget itu ketika Alonso ngikutin gaya Kaka mengecoh lawan yang hendak merebut bola dari kakinya.  (Lihat di menit ke 2:34)

Semua berakhir anti-klimaks namun saya masih bangga jadi fans Liverpool. Saya bangga menjadi kaum anti-mainstream.


Kamis, 11 Juli 2013

Kenaikan Harga BBM dan Dampaknya Bagi Pengguna Angkutan Publik

Semasa kecil saya tidak pernah mengeluhkan kebijakan pemerintah dalam kenaikan harga BBM. Yaiyalaaaah gak pernah ngeluh karena saya cuma bisa minta ke ortu. Hingga akhirnya saya tumbuh dewasa dan saya pun merasakan dampak dari kenaikan BBM.

Masalah bermula ketika akhir Juni 2013 lalu pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM untuk premium Rp 4.500 menjadi Rp 6.500 sementara untuk solar dari Rp 4.500 menjadi Rp 5.500. FYI, saya pengguna bus antar kota. Kebetulan saya kerja di luar kota dan pulang setiap hari. Saya butuh berganti bus dua kali untuk sekali jalan. Total empat kali ganti bus pulang-pergi. Saya terbiasa membayar ongkos Rp 3.000 dari Ajibarang ke Purwokerto dan Rp 3.000 dari Purwokerto ke Kalimanah, Purbalingga.

Awalnya sih biasa aja. Karena saya udah langganan bus Ajibarang-Purwokerto. Mereka (kondektur) sama sekali tidak menaikkan tarif. Mungkin karena ongkos yang saya kasih itu udah cukup dari terakhir kali naik pada 2008 lalu. Iya jadi tahun 2008 lalu BBM sempat mau naik dan pengusaha angkutan sudah menetapkan kenaikan tarif. Namun kenaikan harga BBM urung naik dan pengusaha angkutan tidak menurunkan tarif angkutan. Problem solved.

Masalah mulai datang ketika saya naik bus jurusan Purwokerto-Wonosobo / Purwokerto-Pemalang. Iya kedua bus itu jalur trayeknya melewati tempat kerja saya. Saya kasihlah duit Rp 3.000 itu ke kondektur. Kebetulan bukan kondektur langganan. Dia minta nambah. Yaudah sih saya nambah seceng aja. Udah diem. Beda lagi keesokan harinya ketika saya gak punya uang pas dan saya bayar pake duit goceng. Bah, sama sekali gak dikasih kembalian! Oke, saya anggap sedekah aja deh dan berharap Allah swt ngasih kembaliannya lebih. Keesokan harinya saya coba lagi bayar pake pecahan 10k. Cuma dikembaliin goceng doang padahal saya naik bus yang sama hanya kondekturnya yang berbeda. Kali ini saya komplen. "Pa, gak kurang nih kembaliannya?"

Kondekturnya jawab, "Solar naik mbak."

"Iya emang naik. Tapi gak sampe segini. Orang kemarin aja saya bayar Rp 4.000 kok. Biasanya tuh saya bayar Rp 3.000. Udah saya tambahin kan?"

Kondekturnya ngalah, "Iya, mbak. Nanti ya."

Huh, dikiranya saya gak naik bus tiap hari apa? Seenaknya aja naikin tarif setinggi itu orang solar cuma naik seceng kok. Oke, bagi saya uang Rp 1.000 atau Rp 2.000 itu gede ya. Coba kalo dicurangi tiap hari bisa jadi estimasi ongkos transport saya membengkak. Kan lumayan tuh kalo ditabung.

Tapi kondektur bus pun terkadang gak konsisten. Seringkali saya pulang dari Kalimanah ke Purwokerto saya bayar ongkos Rp 3.000 dan mereka gak komplen. Hmm ini sebenernya tarif yang bener berapa sih???!

Pernah suatu kali saya naik minibus dari Kalimanah ke Purwokerto. Body-nya jelek gitu. Saya pilih dengan asumsi biasanya kendaraan bobrok itu tarifnya murah. Barangkali bisa gitu bayar Rp 2.000 aja soalnya bus 3/4 aja Rp 3.000. Eh kenyataan berbading terbalik dengan bayangan. Saya kasih duit gocengan tapi kondekturnya malah minta lagi. "Kurang Rp 2.000 mbak."

FAAKKK!!! Waktu itu saya emang lagi tensi tinggi karena saya lagi ngejar waktu. "Eh, pak jangan bercanda deh! Saya tuh biasa bayar Rp 3.000 seenaknya naikin sampe Rp 7.000. Gak mau pokoknya! Turun juga gak papa kok."

Kondekturnya diem. Ngerasa salah kali.

Saya gak ngerti sama mentalitas kondektur sekarang. Kenapa mereka suka sekali mencurangi penumpang? Dikiranya penumpang yang dicurangi baru pernah naik bus atau gimana sih?

Nah pagi ini saya naik bus bareng kakek-kakek. Dia kasih tarif biasa ke kondekturnya trus kondekturnya minta lagi. Bedanya ini kakek-kakek langsung tensi tinggi. Lebih tinggi dari saya. Sama seperti saya, dia bilang, "Udahlah saya turun juga gak papa!!!" Kondektur kalo udah digituin biasanya luluh. Emang bener. Cara paling ampuh bilang kek gitu. Kalo misalnya dibiarin turun, jangan risau. Masih banyak ikan di laut. Ngapain sih rela ngeluarin duit lebih gede sementara masih banyak armada bus yang manusiawi dan tidak curang ke penumpang.

Oke, sekian share saya hari ini! Daripada puasa tapi marah-marah gak jelas mendingan nulis di blog aja. Ya gak sih?

Rabu, 10 Juli 2013

Trip to Bogor & Depok: Ketika Orang Kampung Datang Ke Kota

Lanjutan dari pos sebelumnya berjudul Beasiswa dan Segala Kerumitan Hidupku, kali saya mau bahas pengalaman saya (kalo boleh bilang) backpacking sendirian ke kota besar. Yup, tujuan saya kali ini Bogor & Depok. Bogor tempat saya numpang tinggal selama dua hari di kontrakan teman dan Depok tempat saya mengikuti ujian beasiswa Monbukagakusho.

Sabtu petang (06/07) saya bertolak dari terminal Purwokerto sekitar pukul 18.35. Saya duduk bareng cewe abg seumuran saya yang kuliah di Purwokerto mau mudik ke Bogor, tempat asalnya. Rada ngerasa aman aja karena saya gak harus duduk sama bapak-bapak berwajah Rambo. Karena saya disuruh teman saya turun di Kandang Roda, Cibinong, sementara saya gak ngerti tempatnya dimana makanya saya nanya sama mbak-mbak kuliahan itu. "Mbak, tau Kandang Roda?"

"Tau," jawabnya mantap.

"Nanti kalo udah nyampe Kandang Roda saya tolong dikasih tau yah. Soalnya saya mau turun di situ."

"Umm, tapi saya rada-rada lupa juga sih," jawabnya. Heu, ini emang gak tau atau gak mau nolong?

Saya rada gak puas aja minta tolong sama mbak itu. Nah di sebelahnya mbak itu ada bapak-bapak, umm bisa disebut mas-mas sih, yang mau turun di Cibinong. Akhirnya saya minta tolong dia tapi ternyata Kandang Roda itu setelahnya Cibinong. Hmmmmmm... Sebelahnya mas-mas itu ada bapak-bapak lagi. Dia turun di Cikaret. Dan katanya sih Cikaret deket sama Kandang Roda namun lagi-lagi Cikaret itu sebelumnya Kandang Roda.

Setelah tiga jam perjalanan, bus saya transit di tempat makan gitu. Karena gak biasa, saya berniat "nguntit" mbak-mbak kuliahan itu. Pengen makan bareng aja soalnya dia juga sendirian. Eh dianya malah ninggalin saya seolah-olah dia ogah bareng saya. Oh jadi gitu yah orang kota? Ujar saya dalam batin.

Sesudah makan, saya balik lagi ke dalem bus. Karena ngerasa belum kenyang, akhirnya saya ngemil Sari Roti. Saya tawarin mbak-mbak kuliahan itu roti yang saya punya, eh dianya malah langsung nolak. Kek mau dikasih racun aja. Oke, gini deh, saya biasa naik bus bareng orang Jawa. Walau pun gak niat ngasih namun mereka masih bisa basa-basi. Paling enggak mereka nawarin makanan yang mereka punya kalo mereka makan di bus. Nah ini cewe asal makan sendiri aja gak ada basa-basinya. Bukannya saya pengen dikasih makanannya mbak itu tapi paling enggak nawarin dikit kek walau pun cuma basa-basi. Nah kalo ditawarin tapi gak mau kan bisa jawab, "Iya mbak, makasih. Dinikmatin aja." Tapi yah emang dia bukan orang Jawa sih. Beda adatnya.

Sekitar pukul 4-an, bus saya udah masuk ke daerah Bekasi. Setelah itu saya langsung terjaga. Gak mau kalo misalnya sampe kebablas. Bus udah masuk daerah Cibinong. Saya pindah ke kursi depan dan menyerahkan pada pengetahuan sopir dan kondektur bus lantas saya bilang, " Kandang Roda yah, Pa."

Eh, di belakang saya ada bapak-bapak bertampang Rambo kek tentara gitu nanya ke saya, "Kandang Roda yah mbak? Turunnya bareng saya berarti." Nah saya rada lega. Pas bus berhenti saya hendak ikut turun sama bapak-bapak itu namun ibu-ibu yang bawa balita di belakang saya bilang, "Mbak mau turun di Kandang Roda? Ini belum nyampe Kandang Roda. Nanti turunnya."

"Oh!" saya yang rada curiga sama bapak-bapak tampang tentara tadi akhirnya lebih percaya sama ibu-ibu itu.

Setelah beberapa menit berjalan, si ibu itu mendadak bilang, "Mbak, Kandang Roda udah kelewat."

"Loh kok ibu gak ngomong sih?" saya bernada kesal. "Kiri, Pa." saya langsung nyuruh sopirnya berhenti. Do you know, ibu-ibu tadi sama sekali gak minta maaf udah ngasih petunjuk salah. Errrrrrr!

Kemudian saya berjalan balik arah dan menelepon teman cewe saya untuk jemput saya. Coba bayangin, saya cewe sendirian jalan kaki di pinggir jalan sambil menenteng kardus berisi mendoan pesanan teman saya di pagi yang masih gelap. Huhuhu ngenes!

Sekitar 20 menit menunggu akhirnya pacarnya teman saya dateng ngejemput. Ternyata lumayan jauh juga loh antara tempat saya nyasar sampe ke kost teman cewe saya. Pacarnya temen saya nunjukin letak Kandang Roda dan ternyata itu tempat bapak-bapak bertampang tentara tadi turun. Fak! Itu ibu-ibu itu nipu saya atau gimana sih?

Setelah mandi dan sarapan saya rebahan sambil belajar materi ujian. Beberapa menit kemudian pandangan saya gelap dan saya sadar ketika jarum jam menunjuk pada pukul 12 siang. JSYK, dulu saya susah tidur kalo bukan di rumah sendiri namun sekarang dengan mudahnya saya terlelap meski hanya tidur di serambi Mushola SPBU.

Sore harinya, saya diajak teman-teman cewe saya jalan-jalan ke Bogor. Bukan jalan dalam arti sebenarnya tapi naik angkot. Hehehe. :) Gak direncanakan sebelumnya mau muter-muter Bogor tapi dasar cewe pasti gak bisa nolak kalo diajak belanja. Apalagi harganya miring, di bawah harga di tempat asal saya. Iya, masa ransel dengan merek sama di daerah asal saya harganya di atas 250k tapi di BTM (Bogor Trade Mall) cuma butuh ngeluarin duit 200k aja. Trus diskonnya menggiurkan banget. Sepatu bermerek terkenal aja bisa jatohnya jadi 80k dari harga 200k. Begitu pula tas. Saya biasa nengok barang-barang di TokoBagus.com. Nah tas dengan model sama di BTM cuma seharga 40k tapi di TokoBagus.com bisa sampe 55k. Hmmm gitu ya ternyata? Mau banget deh kalo disuruh pindah ke Bogor.

Singkat cerita, keesokan harinya saya bangun lebih pagi karena menurut cerita, naik Commuter Line itu antre-nya panjang banget. Udah gitu desak-desakan juga. Bahkan konon Commuter Line (untuk selanjutnya disebut KRL) sering datang telat sampai satu jam. Alhasil, saya berangkat jam 05.30 dari kost teman cewe saya padahal ujiannya mulai jam 9.30.

Baru sampai di stasiun, saya liat orang-orang berlarian hendak masuk ke gerbong. Saya pun gugup. Iyaaa, saya mikir apa saya bisa bersaing dengan orang-orang kota yang setiap hari melakukan aktivitas yang sama--mengejar kereta. Tapi kenyataan tak seburuk bayangan. Saya antre di loket yang gak cukup ramai--padahal tadi saya liat orang-orang antre panjang banget di depan loket. Entah loket yang sama dengan loket tempat saya beli e-ticket atau bukan. Nah tarif dari Bojonggede ke UI itu cuma 2k. Heh? Murah banget! Pantes banyak yang milih pake KRL. Kelar beli e-ticket, saya berlari menuju kereta yang kebetulan udah "buka-tutup" pintu. Dan yah, gak sepenuh yang saya kira. Saya pilih gerbong khusus wanita begitu pula pacarnya teman saya. Tapi dia diusir sama ibu-ibu gitu suruh pindah. Duh, kasian! :P

Dari Bojonggede sampe Citayam masih aman. Nah pas di stasiun Depok, serombongan ibu-ibu dan wanita-wanita karir masuk ke dalem gerbong. Bok, gimana saya turun nih? Padahal UI cuma tinggal lewatin Depok Baru sama Pondok Cina.

Rute KRL Jabodetabek

Dengan banyak-banyak minta maaf sama ibu-ibu di sekitar saya dan omelan-omelan ibu-ibu sama pacarnya teman saya, akhirnya kami berhasil keluar di stasiun UI. Wkwkwkwk. :P Btw, jam masih menunjukkan pukul 6.30. Masih pagi ternyata.

stasiun UI


Kami berjalan menelusuri Taman UI. Seketika itu saya merasa sedang berada di kebun binatang yang baru buka dan masih sepi pengunjung, Jalanan di depan UI pun masih sepi. Saya perhatikan gak ada angkot lewat situ. Yang ada ojek atau angkutan macam taksi gitu. Wah kasian dong mahasiswa yang gak punya kendaraan pribadi. Ongkosnya yang dikeluarkan pasti gede. Tapi gak tau juga sih.

Gak butuh waktu lama untuk menemukan Auditorium Pusat Studi Jepang. Kompetitor juga belum banyak yang dateng. Niatnya mau bobok dulu tapi kudu belajar. Pas Minggu gak sempet belajar banyak karena kebanyakan belanja. Huehehehe. :)

Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia


Btw, ada momen unik ketika saya melihat seekor induk kucing ditindih sama dua anaknya. Lucu beudh! :P

kucing ucul <3

Sebenernya lingkungan di UI itu asri banget. Ada danaunya di samping auditorium. Kalo aja saya bawa temen cewe saya pasti udah saya ajakin foto-foto. Sayangnya batre hp saya juga limit. Takut pas dibutuhin kondisinya lowbat. Mana saya di kota orang lagi. :(

Ujian kelar saya pun lega. Setelah itu saya naik KRL lagi buat balik ke Bogor. Lanjut beli tiket bus di Citeureup. Jauh juga dari Cibinong. Kelar beli tiket, saya balik lagi ke Cibinong. Sebelum pulang ke kost teman cewe saya, saya mampir dulu beli baso. Di Bogor ada baso harga goceng masaaa? Padahal di daerah asal saya udah jarang tuh baso harga goceng.

Saya pesen baso sama es dan minta dibungkus aja sama mbak-mbak penjual baso. Di belakang saya ada lagi ibu-ibu pesen baso tapi dimakan di tempat. Mereka udah duduk di kursi. Kemudian dateng lagi pembeli anak-anak. Nah mereka ini minta dibungkus juga makanya mereka berdiri di samping gerobak basonya. Kemudian mereka dilayani sama mbak-mbak penjual yang lain sementara mbak-mbak penjual yang tadi masih bikinin saya es. Ibu-ibu yang pesen tadi nanya sewot ke mbak-mbak penjual yang lagi ngelayanin saya itu. "Mbak pesenan saya udah dibikin?"

"Bentar mbak," jawab mbak-mbak penjualnya.

"Saya dateng kesini duluan loh. Masa anak kecil itu yang dilayanin dulu?" si ibu-ibu itu tambah nyolot.

"Iya mbak, sebentar," jawab mbak-mbak penjual yang masih sabar ngadepin tuh ibu-ibu.

"Gak pake lama ya!!! Cepetan!!!" ujarnya galak.

Helloooooooww elo cuma pesen baso harga goceng kok sewotnya kek beli baso harga 50k? Pelisssss?! Kalo di daerah asal saya mana ada pembeli sewot ke penjual gara-gara masalah sesepele itu. Paling cuma diem aja toh nantinya pasti dilayanin Well, balik lagi ini bukan Jawa.

Beda lagi ceritanya ketika saya naik angkot ke Citeureup. Si sopir angkot nyaris membahayakan penumpang hanya gara-gara disalip dikit sama sepeda motor. Penumpang ibu-ibu yang bawa anak kecil bilang, "Ati-ati bang, jangan meleng!" ujarnya mengingatkan dengan pelan-pelan.

Sopirnya gak terima dan bales dengan sewotnya, "Jangan meleng gimana? Orang itu sepeda motornya masuk ke jalur saya tiba-tiba."

Si ibu dengan sabar jawab, "Iya."

Huh? Kenapa orang-orang kok gak sungkan gitu marah-marah ke orang lain hanya karena masalah kecil? Bener-bener beda banget sama di Jawa!

Saya juga diceritain sama teman saya, kalo curhat itu sebaiknya ke orang sendiri--dalam hal ini orang yang berasal dari daerah yang sama--karena kalo curhat ke orang lain biasanya gak disimpen tapi dikeluarkan lagi. If you know what I mean!

It shows me how I should be proud to born as Javanese! Emang orang Jawa itu mungkin orang yang paling ramah kali ya?! Oh atau mungkin saya kebetulan ketemu sama non-Javanese yang gak ramah. I'd love to meet you guys, wherever you're from, as long as you treat me well I'll treat you the same.

Kamis, 04 Juli 2013

Beasiswa dan Segala Kerumitan Hidupku

Hari ini saya rada bete banget. Mau ngapa-ngapain rasanya males. Yah emang sebenernya setiap hari rasanya males sih...

Jadi beberapa hari lalu saya dapet kabar yang cukup menghebohkan seisi kantor.

ini belum terlalu bikin heboh


ini yang bikin heboh. lihat deh nomer 187 ada nama siapa

Ceritanya akhir Mei lalu saya lagi iseng-iseng buka internet. Kebetulan saya follow @BeasiswaIndo di Twitter. Kemudian muncul tweet yang mengarahkan saya ke sini. Akhirnya saya buka dan iseng-iseng ikut daftar via online. Setelah saya print bukti registrasinya, kemudian saya kirim lewat pos bukti registrasi itu bersama dengan ijasah saya yang sudah dilegalisir.

Sebulan berlalu dan saya ga begitu mengikuti update mengenai beasiswa itu karena saya kecewa dengan provider internet saya di hp maupun modem. Namun tiga hari yang lalu rekan kerja saya menelpon saya dan menemukan nama saya di Google, begitu katanya. Rada geli juga. Namun kemudian dia bertanya, "Kamu pernah daftar beasiswa program S1 Jepang gak?" dengan rada terkejut saya keceplosan, "Kok tau?"

"Beneran kamu pernah daftar???" teman saya mengulang pertanyaannya biar lebih heboh.

Saya bingung. Mereka tau darimana? Perasaan saya gak pernah cerita deh ke siapa-siapa. Kecuali keluarga saya yang kebetulan liat amplop coklat yang bertuliskan alamat Kedutaan Besar Jepang tergeletak di meja depan tv. "Iya saya pernah daftar. Tau darimana emang?"

"Liat tuh nama kamu muncul di Pengumuman Hasil Seleksi!!!!" seru teman saya.

"Ciyusss? Miapah? Masa sih? Coba saya liat link-nya apa?" tanya saya dengan rada terkejut juga.

"Gak ngerti link-nya apa. Pokoknya buka di Google!" jawabnya. -_-

Alhasil ternyata mereka tau dari salah satu karyawan yang anaknya mau daftar Beasiswa Monbukagakusho (ini ngetiknya sambil liat situsnya berkali-kali). Hadeuuuuh kenapa bisa? Tapi gapapa sih, jadi saya tau kalo saya lolos seleksi berkas. Kalo gak dikabari mungkin saya gak bakal tau. Hahaha :))

Nih ya, baru lolos seleksi berkas aja orang sekantor pada ribut banget. Ya ampun malu deh rasanya bila nanti diriku tak lolos. Heuheuheu...

Nah sekarang saya lagi ribet ngurusin dimana nanti saya tinggal selama saya di Depok, mau naik apa nantinya saya untuk menuju kesana, naik KRL kira-kira telat gak ya, kira-kira saya sanggup bersaing dengan sesama calon pengguna KRL untuk meraih tempat di KRL gak ya, btw ini kok yang lolos seleksi berkas kebanyakan dari sekolah elit dan sekolah luar negeri yah? Huaaaaaaa :"(

Ya Allah, lancarkanlah usahaku ini. Jika memang ini rejekiku, maka jangan padamkan semangatku! Namun jika ini bukan saatnya untukku menerima beasiswa ini, yah paling tidak saya bisa cerita ke teman-teman dan keluarga jika saya pernah ke Universitas Indonesia. :)))

Wish me luck, guys! :")