Minggu, 17 Maret 2013

Loyalitas dan Masa Depan

Aku mungkin pernah kecewa dengan keputusan Fernando Torres untuk hengkang ke klub rival, Chelsea, dari Liverpool. Banyak orang menghujatnya karena dia dianggap mengkhianati The Reds dengan minta untuk ditransfer ke klub yang jelas-jelas rival berat Liverpool. Aku salah satunya.

Cerita nyaris sama dengan Robin van Persie. Akhir musim lalu dia memutuskan untuk hijrah ke Manchester United dari klub yang sudah lama dibelanya, Arsenal. Alasannya nyaris sama dengan Torres, ingin meraih gelar sebelum mengakhiri karier. Gak salah memang mempunyai ambisi meraih gelar, namun apakah dengan mengkhianati klub lama yang membesarkan nama mereka?

Selain gelar, RVP dan Torres pun diiming-imingi gaji tinggi oleh klub baru mereka itu. Di tengah krisis ekonomi dan kebutuhan hidup yang makin tinggi, tentu mereka akan lebih memilih hijrah ketimbang stay.

Orang-orang--dalam hal ini pelaku sepakbola--mungkin akan menilai loyalitas RVP dan Torres itu murah. Nyaris gak ada. Dengan mudah mereka bicara begitu sementara mereka mungkin belum pernah memikirkan jika mereka berada di posisi yang sama dengan RVP dan Torres.

Aku pun begitu. Aku membenci RVP dan Torres yang gak punya nilai loyalitas hingga akhirnya hal itu terjadi di sekitarku.

Rekan kerjaku pindah ke perusahaan yang merupakan lawan dari perusahaan kami. Padahal dia sudah bertahun-tahun berada di perusahaan kami dan dedikasinya pun tinggi. Namun masa depan di perusahaan kami baginya kurang menjanjikan ketimbang perusahaan yang baru.

Dilema sudah pasti. Antara loyalitas atau masa depan. Bertahan namun masa depan cukup saja. Atau pindah namun masa depan lebih baik? Ini pasti sulit.

Tinggal personal individu masing-masing saja, lebih memilih loyalitas atau masa depan. Jadi jangan salahkan seseorang hanya karena dia tidak sependapat dengan kita. Hargai mereka, karena mereka tidak hidup dengan biaya dari kita. If you know what I mean.

Salaam,

:)

Iris by Goo Goo Dolls

Entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi suka mendengarkan lagu milik Goo Goo Dolls berjudul Iris. Padahal lagu itu sudah sejak dulu aku dengar namun baru kali ini aku merasa larut dalam liriknya yang (ternyata) dalem banget.

Bermula ketika aku melihat-lihat playlist teman di PC kantor dan menemukan lagu ini. Iseng-iseng aku klik dan mengalunlah petikan gitar dari John Rzeznik. Dan... aku jatuh cinta sama lagu ini. Liriknya kurang lebih sama dengan kisahku.

Dari apa yang aku tangkap sih begini:

"And I'd give up forever to touch you
'Cause I know that you feel me somehow
You're the closest to heaven that I'll ever be
And I don't want to go home right now

And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
And sooner or later it's over
I just don't wanna miss you tonight"


Si penulis sangat mencintai seseorang yang nyaris sempurna namun tidak mungkin untuknya memiliki orang tersebut. Yang bisa dia rasakan hanya menikmati waktu bersama orang yang dicintainya itu namun cepat atau lambat momen itu akan berakhir.

"And I don't want the world to see me
'Cause I don't think that they'd understand"

Si penulis gak mau cerita soal perasaannya itu ke orang lain termasuk orang yang dicintainya karena mereka (orang-orang) gak bakal mengerti perasaannya itu.

"When everything's meant to be broken
I just want you to know who I am."

Dia merasa perasaannya itu salah dan dia mencoba untuk menghapus rasa itu namun dia nggak bisa. Dia hanya ingin orang yang dicintainya itu tau siapa dia sebenernya. 

:)


- ditulis di Minggu sore yang cerah.