Minggu, 22 Desember 2013

Setidaknya Ada Momen Indah di 2013

Tak terasa 2013 hanya menyisakan 9 hari. Aku ingat hari itu di penghujung 2012. Aku rumit memikirkan mutasiku ke luar kota. Jauh dari rumah. Jauh dari teman. Bertanggung jawab pada diri sendiri. Aku hanya seorang diri. Rasanya ingin lari tapi tak tahu kemana harus pergi. Akhirnya aku menerima apa yang harus ku jalani.

Tahun baru, tempat baru, teman baru, permasalahan baru juga. Di usiaku yang belum genap 20, aku harus memikirkan hal-hal sistematif yang aku sendiri belum pernah menghadapi sebelumnya. Krusial bisa kubilang.

Mungkin tahun ini adalah gerbang awal memasuki kedewasaan. Terlalu banyak pelajaran berharga yang aku terima. Bahwasanya aku tak boleh bodoh lagi, tak boleh mudah percaya lagi, tak boleh lugu. Hati nurani tak selalu tepat untuk menyelesaikan masalah. Aku menemukan frasa "ikuti kata hati" itu sebagai jebakan saja. Tak semua yang dikatakan oleh hati itu benar. Terkadang kamu harus ikuti kata orang lain. Percaya atau tidak.

Bisa dikatakan tahun ini aku bertemu dengan banyak teman baru. Teman-teman yang pada akhirnya hanya pengkhianat, pecundang, dan yang hanya menyisakan luka saja. Pada akhirnya aku enggan mengenal mereka lagi. Cukuplah mereka menjadi pembelajaran di masa lalu. Tapi tak sedikit pula teman yang masih menjadi teman hingga sekarang. Meski jarang berkomunikasi tapi setidaknya kami menganggap teman satu sama lain. :)

Well, tak semua yang kulalui di tahun ini adalah masa-masa buruk. Ada beberapa hal yang perlu aku syukuri. Setidaknya aku sudah pernah menginjakkan kaki ke tempat yang belum aku kunjungi sebelumnya.

Mei --- Pantai Indrayanti, Gunung Kidul dan Malioboro, Yogyakarta.

Pantai Indrayanti

Juli --- Jika bukan karena iseng-iseng kirim fotocopy ijasah mungkin saya tidak akan pernah ke Universitas Indonesia dan Bogor

Fakultas Sastra dan Budaya Jepang, Universitas Indonesia, Depok
Terima kasih untuk orang-orang yang masih bersamaku dan setia menjadi teman-temanku tahun ini. May we all have a good year ahead. Be here always, please! XD

Senin, 25 November 2013

Feliz Cumpleanos, Xabi Alonso!


It’s officially 25th November which means my hero celebrates his birthday. Xabier Alonso Olano was born in Basque in 1981. He turns 32 today! Yay!

I remember that time when I first met him. ‘Met’? Are you sure with that word?? LOL. I watched that one game in World Cup 2006. It was Spain vs Ukraine. The first goal came from an unfamiliar player (for me at that moment). The next goal created by him. He was the main character of the game, if I could say. That’s why he got crowned Man of the Match. I’m sure y’all know who that player I’ve told is. Yep, he is Xabi Alonso.  
 
World Cup 2006 was over then I started watching English Premier League which the first match I watched was Liverpool vs Sheffield United. I only knew Steven Gerrard at that time. Then I saw Xabi Alonso and Luis Garcia in the team. They reminded me of Spain National Team and Xabi took me back to the moment when he brought La Furia Roja won against Ukraine. That was the time I started stalking him.

When everyone else’s admiring some popular names like Cristiano Ronaldo, David Beckham, Kaka, Frank Lampard, Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon, Bastian Schweinsteiger, Lionel Messi, Thierry Henry, etc., I adore some unfamiliar player named Xabi Alonso. When my friends ask me who is my favorite player I answered Xabi Alonso. For those who doesn’t watch football must be wondering who the heck is Xabi Alonso? LOL. :D Well, I’m an anti-mainstream-er.

And then that hard moment came. Xabi Alonso signed to Real Madrid. He left Liverpool. L Firstly, I could accept his decision until The Reds couldn’t get through UEFA Champions League final stage. I cried a lot. I’m still expecting that someday he will return. I can not move on. Sad.

But I’m happy for him for winning La Liga, Copa del Rey, and Supercopa de Espana with El Real. Anyway wherever he is I will always support him as much as I support him when he was at Liverpool. Either it is Real Madrid or Spain National Team, he gets my back.

Well, Xabi, I hope you have a very happy birthday. Keep healthy and stay classy. Long live, all the best wishes for you and family. You’ll Never Walk Alone!

Jumat, 20 September 2013

The Miracle of Dzikir

Saya bukan orang yang religius. Saya juga bukan orang yang cerdas. Bukan pula orang yang baik budi pekertinya. Saya hanya seorang hambaNya yang prosentase kebaikannya kurang dari prosentase keburukannya. Saya mungkin umatNya yang paling hina.

Well, saya terlahir sebagai orang biasa. Saya bukan termasuk dalam golongan orang yang beruntung atau orang yang sial. Saya juga bukan anak yang pintar atau bodoh. Saya bukan anak yang istimewa. Jalan hidup saya datar saja. Bila ditarik tiga garis lurus maka saya ada di tengah.

Tapi orang yang hidupnya datar dan kesannya lurus-lurus saja ini bukan berarti tak punya masalah. Well, masalah saya itu lumayan banyak hanya kadarnya itu tak terlalu berat dan bisa diselesaikan meski sekali waktu saya merasa mengapa masalah ini begitu berat? Apa saya bisa melewatinya?

2013 has been tough ya,betul-betul proses pendewasaan untuk saya. Memikul tanggung jawab memang tidaklah mudah. Dulu sewaktu saya magang sebagai pramuniaga, saya sering bilang, "Mah, kalo aku kerja aku ingin jadi atasan saja yang gak cape." Ya pada waktu itu, peraturan bagi pramuniaga sangat ketat. Datang telat sedikit saja disuruh pulang atau jika tidak maka kena SP. Padahal di luar kantor banyak karyawan yang datang terlambat dan mereka dibiarkan saja masuk. Mungkin karena posisi mereka itu setingkat di atas pramuniaga. Dan saya perhatikan, pekerjaan supervisor itu hanya keliling lihat-lihat mall dan mengawasi kinerja pramuniaga dan kasir. Enak sekali, begitu pikirku di kala itu.

Sewaktu memasuki dunia kerja pun begitu. Saya melihat atasan itu suka menyuruh staffnya. Setiap pekerjaan dilakukan oleh staff dan atasan hanya tinggal tunjuk ini itu. Bila pekerjaan staffnya beres dan baik maka nama atasan yang akan harum sementara staffnya dinilai biasa saja. Tapiiii ternyata bila pekerjaan staffnya itu buruk maka yang kena atasan juga. Jadi intinya atasan itu bertanggung jawab atas kinerja staffnya. Duh, ternyata ribet ya!

Nah, kali ini saya diberi tanggung jawab tapi lebih kepada tanggung jawab pada diri sendiri. Iya, bila atasan itu suka memerintah staffnya maka saya memerintah diri saya sendiri. LOL. Saya bukan atasan. Saya juga tidak punya staff. Tapi saya dibebani tanggung jawab untuk mengatur ini itu sekaligus mengerjakan ini itu. Semua saya pikul sendiri. Dan itu rasanya lumayan berat yah ternyata?! Dan juga beresiko melakukan blunder karena tidak ada yang mengawasi pekerjaan saya. Baru mungkin setelah waktu bergulir sekian lama masalah itu terkuak. Sigh.

Seperti halnya yang terjadi baru-baru ini. Time has gone and things couldn't get right cause it's expired. Mis komunikasi yang berujung pada adu emosi. Saya--seperti yang sudah dibilang--bukan tipe orang yang baik budi pekertinya. Saya juga cenderung meledak-ledak. Menurut teman saya, diri saya masih dikuasai emosi dan setiap kali ada masalah yang timbul itu maka yang muncul hanyalah emosi dan bukan solusi.

Kala itu saya merasa masalahnya begitu berat. Punishment ada di depan mata saya dan siap mengeksekusi sewaktu-waktu. Namun saya ingat ketika saya ketahuan mau daftar CPNS oleh atasan saya dan beliau justru menyuruh saya untuk go on. Beliau memberi wejangan untuk saya dan menyarankan saya berdzikir di waktu malam sebanyak 1000x agar keinginan saya itu diijabah oleh Yang Maha Kuasa. Beliau bilang, "Saya kasih saran ini bukan cuma omong belaka. Saya sudah mempraktikannya dan itu berhasil."

"Setiap malam dzikir 1000x pak?" tanya saya.

"Iya."

"Itu dilakukan setelah sholat malam, Pak?"

"Iya. Nah setelah dzikir itu berdoa pada Allah swt. Berdoa dengan segala kerendahan hati dan memohon seperti ketika kamu minta dibelikan mainan pada ayah kamu. Bahkan hingga kamu menangis. Kalau tidak bisa menangis, maka ingatlah kepahitan hidupmu niscaya kamu akan menangis. Pasrahkan diri dan memohonlah dari dalam hati."

"Oh. Biasanya disertai puasa juga?"

"Enggak sih. Tapi disertai nadzar."

"Oh. Berapa malam Bapak menjalani itu hingga doa Bapak diijabah?"

"Sekitar 21 malam. Dan tidak boleh terlewat karena disengaja loh. Misalnya males."

Setelah mengingat saran atasanku itu kemudian saya mempraktikannya di malam hari setelah timbul masalah itu. Saya bangun sekitar pukul 3.32. Kemudian saya ambil air wudhu dan lanjut sholat Tahajjud. Selesai sholat Tahajjud 4 rakaat, saya lantas mengambil tasbih untuk berdzikir sebanyak 1000x. Entah mengapa kala itu saya tidak merasa kantuk sama sekali. Padahal saya terbiasa tidur 8 jam dan malam itu baru tidur sekitar 5 jam. Usai dzikir, saya sujud memohon ampun dan mengingat masalah berat yang saya alami. Seketika saya menangis. Air mata saya membasahi sajadah dan sebagian mukena yang saya pakai. Tak terasa tiba-tiba adzan Shubuh berkumandang. Saya bangun dari sujud saya dan menghapus air mata saya untuk melanjutkan sholat Shubuh.

Sampai pagi saya tidak merasa begitu mengantuk namun kelegaan hati itu benar-benar saya dapatkan. Saya bukan tipe anak yang suka berterus terang pada orangtua soal masalah saya. Dan ketika itu juga saya sama sekali tidak bercerita pada orangtua. Begitu pula teman, kala itu saya benar-benar merasa tak punya teman untuk berbagi karena saya takut jawaban dari teman itu tidak memuaskan hati saya. Bukannya mendapat solusi, salah-salah justru membeberkan aib sendiri dan juga orang lain. Paling sial bila ternyata teman yang kita curhati itu malah berkhianat pada kita.

Benar-benar hanya Allah swt. tempat curhat yang bisa dipercaya dan akurat. Hanya Allah swt. lah Maha Pemberi Solusi. Allah swt. juga tidak ember dengan menyebarkan curhatan kita pada orang lain. Dan hanya Allah swt. yang bisa menyelamatkan kita dari jurang degradasi, oops, kemunafikan.

Keesokan harinya saya dapat kabar baik bila masalah saya itu sudah terselesaikan dan saya tidak perlu bertanggung jawab atas apapun hanya harus lebih berhati-hati untuk kedepannya. Subhanallah, inilah bukti kebesaran Allah swt. Tidak diragukan lagi bila dzikir itu perisai dalam menghadapi permasalahan. Dan bila atasan saya perlu 21 malam hingga doanya diijabah, saya hanya butuh satu malam. Subhanallah...

Punya masalah yang dirasa teramat berat? Lekas coba metode di atas. Insya Allah doa kita diijabah. Aamiin ya Rabb. :-)

Sabtu, 07 September 2013

Pee Mak (2013)



Nak (Davika Hoorne) tengah hamil tua ketika Pee Mak (Mario Maurer) berperang melawan penjajah untuk membela tanah airnya. Nak meninggal ketika melahirkan anaknya. Mak--yang berhasil selamat dari perang meski bertubi-tubi terkena tembakan penjajah--pulang ke kampungnya untuk bertemu Nak yang sangat dirindukannya. Dia pulang bersama empat teman seperjuangannya di medan perang, Aey, Puak, Shin, dan Ter. Keempat temannya menginap di rumah bibinya Mak yang sudah meninggal.

Para warga di kampung Mak bertingkah aneh dan berusaha menghindar darinya ketika dia dan teman-temannya berbelanja di pasar hingga mereka bertemu Bibi Priek yang tengah mabuk. Bibi Priek mengatakan kalau Nak sudah meninggal dan yang ada di rumahnya Mak adalah hantu Nak yang gentayangan. Bibi Priek menyuruh Mak untuk melihat di antara kakinya untuk memastikan jika Nak hantu atau bukan. Namun Bibi Priek dicegah berbicara lebih banyak oleh anaknya, Ping.

Malam harinya Shin bermimpi buruk soal Nak dan dia mempercayai jika Nak sudah meninggal. Keesokan paginya ketika teman-teman Mak membantunya membersihkan rumah, Ter melihat tengkorak dan cincin ruby terkubur di kebun rumah. Cincin itu mirip dengan cincin milik Nak. Dia mempercayai jika Nak adalah hantu meski dia sempat bersikukuh bahwa Nak bukanlah hantu karena ketika dia sudah mencoba melihat di antara kakinya--dengan cara salah. Keempat sahabat Mak mencoba memberi tahunya kalau Nak adalah hantu dan mereka tidak boleh hidup bersama. Berbagai cara mereka lakukan untuk meyakinkan Pee Mak.

Well, mungkin awalnya kita dibuat tercekam oleh raut wajah Nak yang sangat serius dan menyeramkan. Namun di tengah cerita hingga akhir kita akan dibuat terpingkal-pingkal oleh tingkah laku keempat kawan Mak itu. Ingin tahu bagaimana cara keempat sahabat Pee Mak memberi tahu padanya bahwa istrinya itu sudah meninggal? Sok atuh ditonton aja filmnya yang konon merupakan film tersukses di Thailand saat ini mengalahkan ATM Error. Btw, pemeran Puak itu yang main jadi temennya Sua di ATM Error loh. Kocak banget pokoknya! Dijamin terhibur apalagi aktornya si Mario Maurer yang sukses dengan film Crazy Little Things Called Love! :D

Such A "gini amat" Day

Pagi-pagi saya dapat laporan kalau ban serep mobil stok dicuri. Seketika urat di kepala saya tertarik kencang. Pening. How could it happened?

Siang harinya seorang teknisi datang untuk mengecek rekaman CCTV sehingga kronologis pencurian bisa terungkap. Hal semacam itu yang biasa saya lihat di acara berita kriminal atau di film-film action benar-benar terjadi di sekeliling saya. Masih hangat di ingatan saya kasus Sisca Yofie yang "terseret" oleh "penjambret" yang terekam oleh CCTV warga sekitar rumah kost-nya. Sekarang saya harus menyaksikan rekaman pencurian di tempat kerja saya.
contoh CCTV


Rekaman diputar dengan dipercepat 16x dari jam 12 malam hingga jam setengah 4 pagi tapi tak ada tanda-tanda pencuri. Padahal diperkirakan mereka beraksi sekitar jam segitu. Kemudian saya menengok ke tanggal rekaman. "Umm mas, tadi pagi tanggal 7 kan? Kok yang diputar tanggal 6? Sampe adzan berkumandang pun pencuri gak akan kelihatan," celetukku. Mas-mas teknisinya tersenyum kecut. Lalu diputar rekaman tanggal 7 pagi dan...pencuri beraksi sekitar pukul setengah 3 pagi. Dua orang laki-laki terlihat melompati pagar kantor yang tingginya sedang. Mereka tak memakai alas kaki. Satu bertubuh tambun yang lainnya kurus tinggi dan memakai jaket. Mereka beraksi cukup cepat. 10 menit sudah bisa membawa kabur 3 ban serep. FAK?! Mereka terlihat sudah terlatih dan mungkin saja mereka itu residivis. Btw, residivis artinya apa juga saya gak ngerti-ngerti amat.

Melihat rekaman itu saya teringat dengan film Fast & Furious 5 yang berseting di Rio de Janeiro. Bagaimana aksi pencurian mereka terekam oleh CCTV dan rekamannya bisa di-zoom! Saya nanya ke mas teknisinya, "mas coba di-zoom kameranya bisa gak? Saya pengen liat muka pelakunya."

Jawaban mas teknisinya, "Rekaman gak bisa di-zoom mba."

Kemudian saya rada ngeyel, "Di Fast & Furious kok bisa yah?"

"Beda merk kali. Punya mereka canggih," ujar teman saya.

Di Fast Five juga bisa googling wajah untuk mengetahui nama pelakunya. Iya jadi FBI itu capture wajah pelakunya dan seperti di paste di kolom pencarian gitu kemudian muncullah profil singkat pemilik wajah tersebut. Saya nyeletuk soal itu juga. Jawab teman saya, "Kamu kebanyakan nonton film deh?!"

Teman saya yang lain bilang, "Pelakunya pasti kan meninggalkan sidik jari di teralis dan body mobil tuh. Seharusnya bisa dilacak kemudian dicocokkan dengan data KTP."

"Udah lapor ke Polsek ini. Mereka lebih ngerti prosedurnya," jawab teman saya.

Yah semoga saja pelakunya tertangkap sampe ke akarnya biar gak ada kejadian semacam itu lagi. Sungguh itu merugikan orang lain. Dimana hati nurani mereka? Tidakkah lebih baik mencari rejeki yang halal agar berkah untuk diri kita dan keluarga kita? Ah mungkin mereka belum merasakan teguran dari Allah swt. Memang bekerja yang halal itu terkadang sulit dan hasilnya pun sedikit tapi insya Allah berkah kok. Allah swt Maha Adil. Percayalah dengan Dia!


Kamis, 22 Agustus 2013

ATM Error


Sudah beberapa bulan direkomendasikan teman untuk menonton film Thailand yang satu ini tapi saya gak pernah sempet. Dan setelah nonton saya ngerasa nyesel banget!!! Bener-bener nyesel... Kenapa saya gak nonton film ini dari dulu???????????

Kisah bermula ketika di suatu bank berlaku aturan dilarang menjalin asmara dengan sesama karyawan. Jib (Preechaya Pongthananikorn--sumpah ini ngetiknya sambil mengeja), manager bank tersebut, beberapa kali memecat karyawannya karena melanggar aturan tersebut. Namun dia sendiri berpacaran dengan bawahannya, Sua (Chantavit Dhanasevi). Hal itu membuat dia tertekan. Bagaimana bisa dia memecat karyawan yang melanggar aturan tersebut sementara dirinya juga melanggarnya?

Konflik bermula ketika mesin ATM di sebuah wilayah bernama Chonburi yang mengeluarkan uang 2 kali dari jumlah tarikan membuat orang-orang di sekitar itu berbondong-bondong untuk menarik uang di ATM tersebut. Bank mengalami kerugian dan Jib ditugaskan oleh bosnya untuk mencari orang-orang yang menarik uang dari ATM tersebut agar mengembalikan uang yang bukan menjadi haknya. Sua mengetahui soal itu. Jib dan Sua bertaruh siapa yang bisa mengembalikan uang tersebut maka dia akan tetap bekerja di bank sementara pihak yang kalah harus mengundurkan diri. Hal itu dilakukan untuk melancarkan rencana pernikahan mereka.

Singkat cerita mereka berkompetisi mencari orang-orang yang melakukan tarikan di ATM yang error itu. Berbagai cara dilakukan bahkan menyakiti pasangannya sendiri. Yah rada-rada mirip Mr. and Mrs. Smith begitulah. Kira-kira siapa yang memenangkan pertaruhan ini? Buruan nonton dijamin gak nyesel! :D


Minggu, 11 Agustus 2013

I Love Holidays


Liburan bagiku adalah waktu dimana rasa kesendirian itu hilang karena mereka kembali untuk mewarnai hari-hariku. Aku tak pernah menginginkan ini untuk berakhir namun kita punya realita masing-masing.

PS. Saya tidak menulis hari-hari saya sebelum lebaran.


Day #1 (8 Agustus 2013)

Malam takbiran saya tidur telat karena mengetik post sebelumnya. LOL aneh ya orang lain tidur telat karena takbiran saya malah sibuk mengetik tulisan yang bahkan tak menarik perhatian pembaca manapun. :)

Bangun telat sekitar pukul 5 pagi. Saya segera meraih handuk dan melipir ke kamar mandi. Ngantri sekitar beberapa menit akhirnya kebagian giliran mandi. Datang ke masjid dan menata diri di halaman. Tak berapa lama Sholat 'Ied didirikan disambung dengan khotbah Hari Raya. Berbeda dengan khotbah di sela-sela sholat Tarawih dan sholat Witir, khotbah Hari Raya ini begitu khidmat. Khotib menyampaikannya tanpa diselingi humor sama sekali.

Selesai khotbah dilanjutkan dengan acara halal bihalal. Warga dua RT mengular dan saling bersalaman. Saat terindah ketika bertemu teman-teman yang pulang dari tanah rantau. Sungguh saya iri. :") Acara dilanjutkan dengan ziarah ke makam. Hal yang paling bikin hati "nggregel" itu ketika teman ibu saya menangis tersedu-sedu ketika bersalaman dengan ibu. Suami teman ibu saya itu baru meninggal sebelum bulan puasa. Jelas ini Ramadhan dan Idul Fitri pertama bagi beliau tanpa suami. Haduuh =\

Usai ziarah, seperti biasa kurang afdol jika tidak datang dari rumah ke rumah untuk silaturahmi dan sungkeman. Seperti hadist Nabi yang menyebutkan untuk bersilaturahmi dengan orang dekat terlebih dahulu. Sama halnya dengan bersedekah. Dahulukan orang/saudara dekat. Ba'da Dzuhur saya sekeluarga baru bertolak ke rumah eyang dari bapak yang jaraknya 30 menit berkendara. Hari pertama Idul Fitri berlalu dengan silaturahmi tetangga dan keluarga.


Day #2 (9 Agustus 2013)

Rencananya saya mau nemenin teman saya ke tempat pacarnya yang merupakan teman saya juga. Namun ketika di-sms ybs bilang gak bisa menjamu hari itu karena harus menjemput kerabat yang baru pulang dari luar negeri. Saya langsung merancang back-up-plan karena saya gak mau melalui satu hari pun hanya diam di rumah.

Segera saya Whatsapp-in teman-teman SMP. Kebetulan ada yang menawarkan rumahnya sebagai tempat kongkow. Bagai ular menjemput pentungan, saya langsung mengajak teman lain. Alhamdulillah ada sekitar 3 orang yang setuju ikut saya. Akhirnya kami ngumpul-ngumpul membicarakan kisah hidup masing-masing. :)))

my junior high mates. Tsantik2 kan?! :D

Sepulang dari rumah teman, sorenya Mentari--temen SMA--dateng ke rumah sama pacarnya. Kali ini dia datang udah ada suguhan di meja tamu. Hehehe. Abisnya tiap dateng dia gak pernah konfirmasi dulu jadi saya gak nyiapin makanan. Hehehe :) Tapi senengnya kalo dia dateng pasti mau nyobain semua suguhan entah enak atau tidak. Dia pinter nyenengin tuan rumah. :))


Day #3 (10 Agustus 2013)

Rencana yang kemarin gagal akhirnya dimuluskan hari Sabtu itu. Saya bertandang ke rumah teman saya di sebuah desa di kabupaten Cilacap. Kiranya mau silaturahmi aja namun ketika memasuki jam-jam Ashar ada yang ngajakin ke pantai. Itu sih yang sebenarnya saya harapkan di libur lebaran ini. Main ke pantai. Meski pun baru ke pantai bulan Mei lalu tapi pantai selalu sukses bikin saya kangen.

Kali ini saya ke pantai yang belum pernah dikunjungi di wilayah Adipala, Cilacap. Namanya Pantai Sodong. Letaknya di balik bukit. Oh my, baru tau ternyata Cilacap punya pantai di balik bukit juga. Bukan cuma Jogja. :D Tapi memang untuk ukuran keindahan masih kalah sama pantai-pantai di Jogja. Nah Pantai Sodong ini belum ramai dikunjungi orang. Gak seperti Pantai Teluk Penyu atau Widara Payung yang setiap lebaran diserbu oleh pengunjung dari berbagai daerah.

Keliatan mercusuar di ujung barat
Ombaknya lumayan tinggi

Kebetulan cuaca cerah berawan
Di Pantai Sodong ini ombaknya lumayan tinggi meski masih lebih tinggi ombak di Pantai Indrayanti sih. Tapi ombaknya menghambur bisa sampai sekitar 20 meter ke daratan. Namun sayangnya banyak bongkahan ranting mengotori daerah pantai. Jika pantai ini dikelola lebih baik mungkin bisa menyaingi kepopuleran Widara Payung karena karakternya yang tidak berbeda jauh.


Jika kita berjalan sekitar 1.5 KM ke arah barat akan menjumpai Gua Pakuwaja. Gak ngerti juga Gua Pakuwaja itu sama dengan Gua Srandil atau bukan. Jadi gua itu ada di tebing bukit. Lumayan serem kalo menurut saya mah karena saat masuk ke gua itu saya jadi inget film The Descent. Tipikal gua yang minim penerangan dan ditemani suara tetesan air. Di dalam gua ada beberapa tikar tergelar dan mushola serta tempat wudhu. Wah. Menurut guide kami gua ini biasa dipakai i'tikaf. Cerita lengkapnya tentang gua itu mending dateng langsung aja kesana ya dan dengarkan penjelasan guide secara seksama. Setelah itu tarik kesimpulan sendiri. Oke...

Cheers xxx


Day #4 (11 Agustus 2013)

Hari ini masih ada agenda kondangan ke tempat tetangga yang dulu, kakak kelas di SD & SMP, serta guru SD. Mereka itu satu keluarga yang sama. Jadi kakak kelas saya di SD & SMP itu nikah. Nah ibunya itu guru SD saya. Mereka dulu tetangga depan rumah saya. Tapi tempat tinggal mereka sudah pindah.

Saya diajakin kondangan bareng sepupu saya. Di kondangan saya ketemu kakak-kakak kelas saya jaman SD dan SMP. Pangling. :)) Yang bikin saya iri tuh, kakak kelas saya--nampaknya suaminya juga masih seumuran--itu cuma selisih dua tahun aja sama saya tapi sudah berani melangkahkan kaki ke pelaminan. Kereeeeeeeeeeen! Sepupu saya yang lebih tua satu tahun dari dia aja sampe meringis-meringis keknya kepingin segera nyusul.

Setelah habis siomay, makanan ringan, buah, sama bakso, dan foto bareng pengantin, saya dan sepupu pulang karena sepupu udah ditungguin teman-teman SMP-nya di rumah. Saya juga sudah ditungguin sama teman SMP saya, Sovi, buat makan ramen. Eh si Eka sms katanya dia bisa jalan bareng hari ini. Asiiiiik! :)

Saya naik bus dari rumah persis setelah sepupu nganter saya ke rumah dan sholat Dzuhur. Saya ngasih duit 3k ke kondektur busnya. Si bapak kondektur nanya, "Kemana?"

Dengan santainya saya jawab, "Karanglewas."

"Sepuluh ribu mbak," kata si bapak.

Saya kaget, "Hah?!"

Ada bapak penumpang yang ketawa sinis.

"Tarif lebaran mbak," ujar si bapak kondektur.

"Kemarin saya juga naik bus pak, bayarnya segitu."

"Yaudah naik bus yang lain aja," tantangnya sewot.

"Oh. Gak masalah. Saya turun juga gak papa." Biasanya kondektur saya tantangin begitu langsung ciut eh ini malah bener-bener nyuruh saya turun. Oke. Challenge accepted.

Saya turun dan uang saya dikembaliin padahal baru jalan beberapa ratus meter aja. Di belakangnya ada bus lagi. Beda merek. Di bus itu saya ditarik 4k. Okelah. Ketimbang harus bayar 10k. Gila apa?! Beberapa kilo bus berlari saya ngelewatin bus--yang tadi nurunin saya--lagi mogok padahal belum sampe kota. HAHAHAHAHAHA! Eh, boleh ketawa gak sih?!

Lupakan kondektur bus yang serakah itu. Cerita berlanjut dengan jalan-jalan bareng Eka sama Sovi. Niatnya mau makan ramen tapi tempatnya tutup. Akhirnya muter-muter keluar masuk dept. store tanpa membawa pulang sebungkus belanjaan pun. Paling cuma makan di Bunto's trus ngemil es krim. Selebihnya hanya ngeliat barang-barang dan kemudian nyali menciut setelah melihat label harga. Huhuhuhu. Cedih kak! =\

Dan akhirnya libur lebaran saya berakhir. Esok sudah kembali ke realita. =\ *nangis sedu sedan*

Bye Holidays. Please come back here soon! Love xx

Rabu, 07 Agustus 2013

Ketika Ramadhan Berakhir

Seperti baru kemarin saya pulang dari Bogor dan orangtua saya menyiapkan martabak legit yang sedianya untuk makan sahur tapi Kementrian Agama mengumumkan tanggal 1 Ramadhan jatuh pada 10 Juli 2012 yang dengan kata lain saya belum mulai puasa pada hari itu--9 Juli. Tak terasa Ramadhan sudah berakhir dan kini gema takbir berkumandang dari setiap toa masjid dan mushola.

Jujur saja saya merasa nyaman dengan suasana Ramadhan. Bangun sahur untuk sarapan a la kadarnya namun bersama keluarga membuatnya terasa nikmat. Saya tak perlu bingung memilih menu ketika jam makan siang tiba. Operasional harian saya pun tak sebesar hari biasa meskipun masih tombok sih... :D Meskipun jam kerja tidak dikurangi dan hanya dimajukan setengah jam saja namun saya bisa pulang lebih awal. Yah, paling tidak saya tak harus melewatkan Magrib di jalan. Saya juga masih kebagian bus 3/4 yang lajunya lumayan cepat ketimbang bus besar tapi suka ngetem dan lajunya lambat. Buka puasa dengan sayur kangkung saja terasa seperti Oriental Bento. Bahkan teh manis hangat menjadi minuman terlezat mengalahkan Starbucks. And again, berkumpul bersama keluarga menjadi dessert yang lebih nikmat ketimbang bikinan Chef Marinka sekalipun.

Bulan Ramadhan juga dijadikan sebagai bulan panen pahala. Saya benar-benar seperti orang yang baru masuk Islam karena saya baru sadar akan hal itu. Bayangkan saja di bulan lain tidak ada Sholat Tarawih. Inilah kesempatan untuk menambah pundi-pundi amal. Sementara menurut pak kyai, ibadah di bulan Ramadhan ini pahalanya dilipatgandakan. Sudah barang tentu setiap ibadah wajib kita pahalanya pasti dilipatgandakan apalagi bila ditambah ibadah sunnah? Ini kesempatan emas!!! Saya pun yang Muslim sejak lahir seperti baru sadar akan hal itu di Ramadhan tahun ini. Memang sih untuk melakukan semua itu perlu paksaan dari dalam diri. Nah dari paksaan itu inshaAllah bisa jadi kebiasaan. Saya juga tidak sesempurna itu kok melakukan semua ibadah baik wajib maupun sunnah. Terkadang saya juga melewatkan sholat Tarawih karena kelelahan sehabis beraktivitas seharian. Intinya memang tahap demi tahap sih.

Jadi di masjid komplek itu ada aktivitas semacam di pesantren tapi gak nginep. Sehabis sholat Tarawih, ada tadarus Al Quran hingga pukul 9 malam. Sesudah sholat Shubuh juga ada kuliah Shubuh hingga pukul 6 pagi dilanjutkan sholat Dhuha. Nah jika sebelum sholat Shubuh kita mendirikan sholat sunnah malam seperti Sholat Tahajjud dan Sholat Hajjat, berapa banyak pahala yang kita terima?? Ya sudah bukan tugas kita mengkalkulasi pahala. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjalaninya dengan ikhlas dan hanya mengharap ridlo Allah semata. Tapi percuma juga sih bila semua ibadah itu didirikan namun maksiat masih dilakukan. Well, TAPI ITU MASIH MENDING KETIMBANG ORANG YANG UDAH GAK PUASA, GAK SHOLAT, GAK BERIBADAH, DAN KELAKUAN MINUS PULAK. MAKSIATNYA BANTER LAGI! PFFTT

Btw, it was the hardest Ramadhan I've ever had if I could tell... Masa tersulit dalam hidup saya and prolly terberat yang pernah saya alami. Tak perlulah saya ceritakan apa masalahnya namun Ramadhan kali ini sebagai ajang saya memohon ampun dan berdoa untuk kesembuhan ibu dan untuk kekuatan saya dalam segala cobaan karena doa orang yang berpuasa inshaAllah diijabah oleh Sang Maha Kuasa.

Sebelumnya saya tak pernah menangis ketika berdoa. Jika pun pernah mungkin itu hanya mengantuk saja. Tapi kali ini saya benar-benar menangis tersedu-sedu mengadu pada Yang Maha Kuasa dan memohon untuk diringankan cobaan yang menimpa saya di setiap sholat tengah malam. Bahkan pernah ketika sholat Tarawih berjamaah di masjid, tak sengaja air mata saya menetes. Mungkin ibu-ibu di samping saya melihat saya sesekali menyeka wajah. Benar, saya menangis. Saya merasa cobaan yang menimpa saya begitu berat. Mungkin saya saja yang terlalu cengeng dan rapuh. :"(

Alhamdulillah, Allah meringankan cobaan saya sekarang. Ya, meskipun tak sepenuhnya menghilangkan atau mengakhiri ujian tersebut namun saya merasakan  Dia sedang menunjukkan kebesaranNya. Mungkin cobaan ini untuk membuat saya agar mendekatkan diri lagi kepada Yang Maha Kuasa. Terlalu banyak waktu yang saya buang hanya untuk kenikmatan duniawi saja dan mengesampingkan kewajiban saya kepadaNya. Semoga dengan ujian ini saya lebih dewasa dan lebih mendekatkan diri lagi kepada Allah swt. Doakan istiqomah! :D

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Maafkan tutur kata saya yang kurang terkendali dan terkadang menyakiti hati. Semoga kita semua kembali ke fitrah.

source: google

Buka Bersama IX F Spensaa Angkatan 2008


9F Spensaa 2007/08
"Tahun ini kita harus kumpul." Saya menulis di grup Whatsapp kelas IX F Spensaa angkatan 2008 yang baru berisi tiga alumnus yakni Arum, Evi, dan saya sendiri.

Awalnya saya lagi bosen di bus kemudian iseng-iseng buka Whatsapp dan melihat daftar kontak barangkali ada dari teman saya yang baru gabung Whatsapp. Dan benar saja, saya melihat ada nama Arum dan Evi. Segeralah saya sapa mereka. Setelah basa basi saya bikin grup agar pembicaraan tak sebatas saya dan Arum atau saya dan Evi saja. Dasar teman lama tak bertemu tentu saja yang ditanyakan seputar, "kapan kita ngumpul lagi?"

Dengan segenap keberanian dan kepercayaan diri--biasanya setiap tahun ada rencana silaturahmi tapi selalu gagal karena kurang koordinasi--saya bilang, "Tahun ini kita harus kumpul. Kapan ada waktu? Nanti saya yang koordinasi dengan teman-teman yang lain."

Setelah itu saya masuk ke grup Facebook untuk menanyakan barangkali ada teman lain yang punya Whatsapp sehingga akan memudahkan komunikasi. Kala itu saya belum berani bilang akan diadakan acara silaturahmi entah itu setelah Idul Fitri atau berupa buka bersama. Nah, antusiasme 'masyarakat' sangat minim. Cuma ada satu orang yang berkomentar di postingan saya. Hmmm. Walhasil saya tarik satu orang itu ke dalam grup Whatsapp dan alhamdulillah Iip--orang tersebut--pun setuju diadakan acara buka bersama tapi dia enggan mengkoordinasi teman yang lain karena posisinya yang masih di luar kota. Iip memberikan saya saran untuk menghubungi teman-teman yang sudah libur kuliah. Challenge accepted.

Berbekal nomor-nomor teman SMP yang masih tersisa di phonebook saya dan yang kebetulan masih aktif akhirnya saya mendapatkan nomor teman-teman yang lain seperti konsep mata rantai. Iya, dapat nomor satu orang kemudian saya tanyakan ke orang itu nomor siapa saja yang dia punya. Beruntung operator yang saya pakai menyediakan layanan SMS gratis ke seluruh operator. :)))

Saya ajaklah Era--mantan koordinator di acara silaturahmi pertama--untuk membantu saya mengkoordinasi acara buka bersama ini. Dasar anak organisasi, dia menanyakan konsep acara saya. LOL saya senyum getir. Tidak jelas, tentu saja. Saya hanya punya konsep, asal kumpul di tempat makan saja. Akhirnya dia kasih masukan soal konsep. Namun rangkaian kegiatannya terlalu resmi--semacam acara buka bersama Rohis--sehingga saya rada meragukannya karena saya tahu persis karakter teman-teman SMP seperti apa.

Nah dari Era inilah acara buka bersama dicetuskan di grup 9F Spensaa 07/08. Dari awalnya postingan saya yang kurang peminat akhirnya postingannya itu berhasil menarik teman-teman yang lain untuk berkomentar. Asiiiik! :D

Namun mendapatkan data anak-anak yang fix datang ke acara tak semudah mengedit foto di Instagram (?) Perlu ditanyakan sedemikian kali agar teman-teman semakin yakin untuk datang. Bahkan ada yang bertanya, "Acaranya jelas gak nih?" Well, yah begitulah kami--pemrakarsa acara--terbiasa disebut tidak jelas.

Kemudian Iip menyarankan kami--anak-anak yang ada di kampung halaman--untuk booking tempat makan karena dipastikan penuh di tanggal yang sudah kami tentukan--6 Agustus 2013. Karena saya belum pernah makan di tempat tersebut saya minta tolong Qori untuk booking. Tapi dia minta saya untuk memastikan jumlah yang datang. Ok.

Berkali-kali saya posting di grup meminta kepastian teman-teman yang lain. Namun memang intenet tak selalu jadi kebutuhan pokok setiap orang. Ada saja yang belum sempat online. Fine, saya kumpulkan nama-nama yang sempat bilang akan hadir.

Di H-2 saya pastikan lagi nama-nama tersebut untuk data booking. Selang sehari setelah posting tersebut seseorang membatalkan kehadiran. Era kecewa. Dia bilang, "Gak kasihan sama yang udah koar-koar dari kemarin?" Tapi saya sih santai saja karena hal semacam itu sudah sangat biasa. Yasudahlah saya tombok satu porsi juga gak papa asalkan acara tetep jalan.

Nah begitu memasuki hari-H, seseorang lagi membatalkan kehadirannya dikarenakan saudaranya meninggal. Tentu saja tak ada hal lain yang bisa menjadi alasan saya kecewa karena maut adalah ketentuan Allah swt. Yasudah saya tombok 2 porsi. Kebetulan saya baru saja dapet bonus jadi nyante aja.

Begitu sudah hampir jam buka puasa, kurang lima anak dari daftar yang sudah dipesan. Eh? Tombok 5 porsi? Kemudian Qori bilang, "Udah Is, tombokannya dibagi rata aja." Alhamdulillah...

Beruntung teman-teman yang lain solid banget dan tidak ada yang mengeluh dengan harga yang sengaja dinaikkan untuk menutupi tombokan. Ternyata yah, di balik ketidak-kompakan yang kerap menimbulkan kegagalan suatu acara masih ada secercah solidaritas yang membuat hal yang berat terasa ringan. Terima kasih teman-teman untuk kesuksesan acaranya. Terima kasih untuk kedatangan kalian. Terima kasih untuk kebaikan hatinya bayar menu dengan harga lebih mahal. Terima kasih untuk berbagi cerita dan terima kasih untuk kameranya yang bersedia diisi dengan wajah saya hehe. Berikut foto-foto yang berhasil kami himpun.

cheers 

sayang tak semua wajah melihat kamera

v sign masih populer gans :D
Evi dan si empunya blog :D
before break fast let's taking pic together

Arum dan si penulis artikel

lagi jelek-jelekan muka dan saya menang pfft

yups pakai Camera360 ;)
ibu-ibu sosialita

cheers
cheers

Jumat, 26 Juli 2013

Why Me Choose Liverpool? (Part. 1)

Beberapa kali saya mengunjungi blogger teman-teman Kopites (fans Liverpool) dan saya selalu menemukan post macam ini. Post yang menceritakan awal mula mereka ngefans Liverpool. Dan kali ini saya juga mau mengisahkan hal yang sama. Rada latah but here we go...

Kebanyakan Kopites mungkin mulai mencintai The Reds ketika mereka memenangkan laga dramatis di final UEFA Champions League di Istanbul pada musim 2004/05 lalu. Ya wakil Britania Raya itu mengkandaskan keperkasaan AC Milan lewat adu penalti setelah menyamakan kedudukan menjadi 3-3 di babak kedua. Liverpool tertinggal 0-3 di babak pertama dan seluruh pemain, staf pelatih, serta pendukung Il Rossoneri kadung merayakan kemenangan mereka. Teganya, klub asal kota pelabuhan itu "merebut" pesta mereka. Momen itu membikin banyak pasang mata jatuh cinta dan mentasbihkan diri sebagai fans Liverpool. Namun bukan saya salah satunya.

Musim panas 2002 ketika saya duduk di kelas 4 SD, saya lagi demen banget nonton sinetron Bidadari tapi jam tayangnya diisi sama pertandingan bola. Rada sebel tapi akhirnya saya terpaksa ikut nonton. Kemudian semesta mempertemukan saya dengan Michael James Owen. As you know, tahun segitu sinar Owen lagi terang-terangnya. Sejak saat itu saya dukung Timnas Inggris. Bintang Piala Dunia kala itu Ronaldo, David Beckham, Michael Owen, Raul Gonzalez, dan Miroslav Klose, setidaknya nama-nama itu yang saya ingat. Kelar piala dunia saya gak pernah mengikuti sepakbola lagi.

Michael Owen

David Beckham
Bukan Cristiano Ronaldo namun Ronaldo Luiz Nazario de Lima

bintang Jerman, Miroslav Klose

Raul Gonzalez

Dua tahun berlalu, Piala Eropa 2004 dihelat di Portugal. Tayangan tv dipenuhi pertandingan sepakbola lagi. Saya nanya sama bapa, "Pa, Michael Owen kapan main?" Bapa saya jawab, "Inggris sudah tersisih." Well, entah sudah fase keberapa saya nontonnya. Rada gak inget. :)) Itulah masa-masa saya angin-anginan suka sepakbola.

Kemudian datanglah pesta sepakbola Piala Dunia 2006. Entah kenapa saya antusias banget menyambutnya. Sebelum event dimulai saya sudah mengikuti highlight sepakbola seperti One Stop Football dan Sport 7. Dan tim yang saya dukung masih sama, Timnas Inggris. Saya ingat kala itu laga perdana Inggris hanya menang tipis 1-0 melawan Paraguay lewat free kick David Beckham. Saya nyari-nyari nomer punggung 10 (Michael Owen-red) tapi gak ketemu-ketemu. Kemudian wajah yang familiar sekali dengan Owen muncul. Rambutnya yang blonde dan potongannya yang rapi bikin saya nyaris menganggap dia Owen. Tapi setelah melihat nomer punggungnya 4, saya kemudian ragu. Ah, Owen kan nomernya 10, masa sih ganti jadi nomer 4? Ujar saya waktu itu. Dan, jreng jreng jreng, namanya pun terlihat. Sulit mengejanya. Gimana pronounciation-nya? Ah ribet amat hidup saya kala itu. GERRARD. Ya itulah nama si pemain nomer punggung 4. Lantas saya memasukan nama Gerrard ke dalam daftar pemain sepakbola untuk diikuti aksinya.


Steven Gerrard


Well, balik lagi ke pencarian saya pada Michael Owen. Ceritanya kala itu Owen baru sembuh dari cedera sehingga dia tidak dimainkan di laga perdana. Pria kelahiran 14 Desember itu baru main kala The Three Lions kontra Swedia, kalo gak salah. Dia masuk sebagai pemain pengganti namun baru beberapa menit bermain dia terkilir. Akhirnya Owen dipinggirkan. Sedih sekali saya gak bisa banyak melihat aksi-aksi Owen seperti di Piala Dunia 2002. :( Namun saya tidak meninggalkan timnas Inggris begitu saja karena masih ada Gerrard di tim tersebut.

Jika di event-event sebelumnya saya hanya nonton Timnas Inggris, di Piala Dunia 2006 itu saya mulai mengikuti semua tim. Saya jadi salah satu orang yang menyaksikan laga kala Timnas Spanyol membantai Ukraina 4-0. Gol pertama dicetak oleh pemain nomer punggung 14. Namanya indah sekali didengar. XABI ALONSO. Sejak saat itu nama tersebut selalu terngiang di telinga saya. Tim Matador juga membikin saya banyak belajar bila 'x' dilafalkan 's' dan 'll' dilafalkan 'y'. Namun hati saya tertambat pada David Villa karena wajahnya mirip Mario Lawalata apalagi jenggot kecilnya di bawah bibir. :P La Furia Roja juga memperkenalkan saya pada pemain-pemain seperti Luis Garcia, Iker Casillas, dan Xavi Hernandez. Btw, saya sering sekali salah menyebut Xabi Hernandez dan Xavi Alonso. :)))


kiri-kanan: Xabi Alonso, Fernando Torres, dan David Villa
Sayangnya Piala Dunia 2006 berakhir anti-klimaks. Dua tim yang tidak menjadi favorit saya malah lolos ke final. Italia dan Perancis. Saya benci Italia karena saya gak suka sama tim tersebut. Lupa aja kenapa. Sementara alasan saya tidak menyukai Perancis karena mereka yang menyingkirkan Spanyol. :"(((

Kelar Piala Dunia 2006 tidak membuat saya meninggalkan sepakbola seperti yang saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Saya malah mulai mengikuti Liga Inggris yang tayang reguler di tv lokal. Saya tahu bila Gerrard bermain Liverpool membuat saya menyaksikan laga perdana EPL antara Liverpool vs Sheffield United. Nah, dari laga tersebut saya jadi tahu jika Liverpool itu dihuni oleh pemain Spanyol bernama indah, Xabi Alonso. Eh ternyata dia ganteng yah, begitu pikir saya setelah saya perhatikan lebih lama lagi. Selain Xabi juga ada Luis Garcia. Owalaaaaaaah. Yaudahlah saya dukung Liverpool aja kalo gitu.  :D

Setelah itu saya jadi lebih langganan tabloid Soccer yang terbit setiap Jumat. Jadi saya ngumpulin uang saku saya tiap hari seceng. Seminggu kekumpul goceng buat beli tabloid Soccer. Waktu itu pulsa belum jadi kebutuhan banget buat saya. Sampe temen saya bilang, "Uang jajan kamu banyak yah tiap minggu bisa beli tabloid?" You don't know oh oh...


Saya juga pernah beli poster jumbo Liverpool bonus tabloid Soccer dari teme ngegara saya kehabisan stok. Saya udah ke agen koran--biasanya saya beli sama loper koran--deket lampu merah juga abis. Akhirnya saya beli deh itu posternya seharga Rp 4.000 padahal tabloidnya seharga Rp 6.000 (edisi khusus). Saya dimarahin temen saya yang lain, mau-maunya dibohongin. Yah namanya tjintah.

Kemudian cobaan hadir ketika saya tidak menemukan teman yang ngefans Liverpool. Setiap hari diledekin sama teman-teman cowo yang ga suka Liverpool dan dukung semua klub lawannya Liverpool. :( UCL 2006/07 sangat emosional bagi saya. anti mainstream banget kan ketika fans lain menyebut UCL 2004/05 yang emosional tapi bagi saya justru di musim 2006/07 karena baru pertama kali saya mengikuti Liverpool dari awal musim. Tersengal-sengal di babak penyisihan grup, Liverpool jumpa juara bertahan Barcelona di 16 besar. Final yang terlalu dini, begitu orang-orang menyebutnya.Fantastis, Liverpool menang 2-1 di Camp Nou berkat gol dua pemain yang sebelumnya berseteru di klub malam, Craig Bellamy dan John Arne Riise. Tak disangka The Kop yang jadi underdog berhasil lolos ke putaran selanjutnya. Delapan besar mudah dilewati karena hanya melawan PSV. Nah di semifinal ini Liverpool bertemu klub senegara, Chelsea. Seluruh siswa laki-laki seangkatan mungkin mendukung Chelsea dan mengolok-olok saya seraya bilang, "Liverpool gak bakal lolos. Liat aja pasti bakalan malu." Ya kala itu The Blues lagi bersinar di bawah asuhan Jose Mourinho. Agregat imbang 1-1 membuat pertandingan harus dilanjutkan ke babak penalti. Dan yah, Liverpool unggul 4-1. Keesokan harinya di sekolah saya samperin anak-anak cowo yang kemarin ngeledekin saya. LIAT TUH! CHELSEA KALAH! LIVERPOOL KE FINAL! LIAT ITU!!! kalo jaman sekarang mungkin saya udah bilang, "IN YOUR FACE, BITHCES!!!"

Namun final 2006/07 tak seindah final 2004/05. Yah Liverpool nyerah aja gitu setelah tertinggal 0-2. Cuma bisa bales satu gol doang lewat Dirk Kuyt. Tapi yang saya inget itu ketika Alonso ngikutin gaya Kaka mengecoh lawan yang hendak merebut bola dari kakinya.  (Lihat di menit ke 2:34)

Semua berakhir anti-klimaks namun saya masih bangga jadi fans Liverpool. Saya bangga menjadi kaum anti-mainstream.


Kamis, 11 Juli 2013

Kenaikan Harga BBM dan Dampaknya Bagi Pengguna Angkutan Publik

Semasa kecil saya tidak pernah mengeluhkan kebijakan pemerintah dalam kenaikan harga BBM. Yaiyalaaaah gak pernah ngeluh karena saya cuma bisa minta ke ortu. Hingga akhirnya saya tumbuh dewasa dan saya pun merasakan dampak dari kenaikan BBM.

Masalah bermula ketika akhir Juni 2013 lalu pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM untuk premium Rp 4.500 menjadi Rp 6.500 sementara untuk solar dari Rp 4.500 menjadi Rp 5.500. FYI, saya pengguna bus antar kota. Kebetulan saya kerja di luar kota dan pulang setiap hari. Saya butuh berganti bus dua kali untuk sekali jalan. Total empat kali ganti bus pulang-pergi. Saya terbiasa membayar ongkos Rp 3.000 dari Ajibarang ke Purwokerto dan Rp 3.000 dari Purwokerto ke Kalimanah, Purbalingga.

Awalnya sih biasa aja. Karena saya udah langganan bus Ajibarang-Purwokerto. Mereka (kondektur) sama sekali tidak menaikkan tarif. Mungkin karena ongkos yang saya kasih itu udah cukup dari terakhir kali naik pada 2008 lalu. Iya jadi tahun 2008 lalu BBM sempat mau naik dan pengusaha angkutan sudah menetapkan kenaikan tarif. Namun kenaikan harga BBM urung naik dan pengusaha angkutan tidak menurunkan tarif angkutan. Problem solved.

Masalah mulai datang ketika saya naik bus jurusan Purwokerto-Wonosobo / Purwokerto-Pemalang. Iya kedua bus itu jalur trayeknya melewati tempat kerja saya. Saya kasihlah duit Rp 3.000 itu ke kondektur. Kebetulan bukan kondektur langganan. Dia minta nambah. Yaudah sih saya nambah seceng aja. Udah diem. Beda lagi keesokan harinya ketika saya gak punya uang pas dan saya bayar pake duit goceng. Bah, sama sekali gak dikasih kembalian! Oke, saya anggap sedekah aja deh dan berharap Allah swt ngasih kembaliannya lebih. Keesokan harinya saya coba lagi bayar pake pecahan 10k. Cuma dikembaliin goceng doang padahal saya naik bus yang sama hanya kondekturnya yang berbeda. Kali ini saya komplen. "Pa, gak kurang nih kembaliannya?"

Kondekturnya jawab, "Solar naik mbak."

"Iya emang naik. Tapi gak sampe segini. Orang kemarin aja saya bayar Rp 4.000 kok. Biasanya tuh saya bayar Rp 3.000. Udah saya tambahin kan?"

Kondekturnya ngalah, "Iya, mbak. Nanti ya."

Huh, dikiranya saya gak naik bus tiap hari apa? Seenaknya aja naikin tarif setinggi itu orang solar cuma naik seceng kok. Oke, bagi saya uang Rp 1.000 atau Rp 2.000 itu gede ya. Coba kalo dicurangi tiap hari bisa jadi estimasi ongkos transport saya membengkak. Kan lumayan tuh kalo ditabung.

Tapi kondektur bus pun terkadang gak konsisten. Seringkali saya pulang dari Kalimanah ke Purwokerto saya bayar ongkos Rp 3.000 dan mereka gak komplen. Hmm ini sebenernya tarif yang bener berapa sih???!

Pernah suatu kali saya naik minibus dari Kalimanah ke Purwokerto. Body-nya jelek gitu. Saya pilih dengan asumsi biasanya kendaraan bobrok itu tarifnya murah. Barangkali bisa gitu bayar Rp 2.000 aja soalnya bus 3/4 aja Rp 3.000. Eh kenyataan berbading terbalik dengan bayangan. Saya kasih duit gocengan tapi kondekturnya malah minta lagi. "Kurang Rp 2.000 mbak."

FAAKKK!!! Waktu itu saya emang lagi tensi tinggi karena saya lagi ngejar waktu. "Eh, pak jangan bercanda deh! Saya tuh biasa bayar Rp 3.000 seenaknya naikin sampe Rp 7.000. Gak mau pokoknya! Turun juga gak papa kok."

Kondekturnya diem. Ngerasa salah kali.

Saya gak ngerti sama mentalitas kondektur sekarang. Kenapa mereka suka sekali mencurangi penumpang? Dikiranya penumpang yang dicurangi baru pernah naik bus atau gimana sih?

Nah pagi ini saya naik bus bareng kakek-kakek. Dia kasih tarif biasa ke kondekturnya trus kondekturnya minta lagi. Bedanya ini kakek-kakek langsung tensi tinggi. Lebih tinggi dari saya. Sama seperti saya, dia bilang, "Udahlah saya turun juga gak papa!!!" Kondektur kalo udah digituin biasanya luluh. Emang bener. Cara paling ampuh bilang kek gitu. Kalo misalnya dibiarin turun, jangan risau. Masih banyak ikan di laut. Ngapain sih rela ngeluarin duit lebih gede sementara masih banyak armada bus yang manusiawi dan tidak curang ke penumpang.

Oke, sekian share saya hari ini! Daripada puasa tapi marah-marah gak jelas mendingan nulis di blog aja. Ya gak sih?

Rabu, 10 Juli 2013

Trip to Bogor & Depok: Ketika Orang Kampung Datang Ke Kota

Lanjutan dari pos sebelumnya berjudul Beasiswa dan Segala Kerumitan Hidupku, kali saya mau bahas pengalaman saya (kalo boleh bilang) backpacking sendirian ke kota besar. Yup, tujuan saya kali ini Bogor & Depok. Bogor tempat saya numpang tinggal selama dua hari di kontrakan teman dan Depok tempat saya mengikuti ujian beasiswa Monbukagakusho.

Sabtu petang (06/07) saya bertolak dari terminal Purwokerto sekitar pukul 18.35. Saya duduk bareng cewe abg seumuran saya yang kuliah di Purwokerto mau mudik ke Bogor, tempat asalnya. Rada ngerasa aman aja karena saya gak harus duduk sama bapak-bapak berwajah Rambo. Karena saya disuruh teman saya turun di Kandang Roda, Cibinong, sementara saya gak ngerti tempatnya dimana makanya saya nanya sama mbak-mbak kuliahan itu. "Mbak, tau Kandang Roda?"

"Tau," jawabnya mantap.

"Nanti kalo udah nyampe Kandang Roda saya tolong dikasih tau yah. Soalnya saya mau turun di situ."

"Umm, tapi saya rada-rada lupa juga sih," jawabnya. Heu, ini emang gak tau atau gak mau nolong?

Saya rada gak puas aja minta tolong sama mbak itu. Nah di sebelahnya mbak itu ada bapak-bapak, umm bisa disebut mas-mas sih, yang mau turun di Cibinong. Akhirnya saya minta tolong dia tapi ternyata Kandang Roda itu setelahnya Cibinong. Hmmmmmm... Sebelahnya mas-mas itu ada bapak-bapak lagi. Dia turun di Cikaret. Dan katanya sih Cikaret deket sama Kandang Roda namun lagi-lagi Cikaret itu sebelumnya Kandang Roda.

Setelah tiga jam perjalanan, bus saya transit di tempat makan gitu. Karena gak biasa, saya berniat "nguntit" mbak-mbak kuliahan itu. Pengen makan bareng aja soalnya dia juga sendirian. Eh dianya malah ninggalin saya seolah-olah dia ogah bareng saya. Oh jadi gitu yah orang kota? Ujar saya dalam batin.

Sesudah makan, saya balik lagi ke dalem bus. Karena ngerasa belum kenyang, akhirnya saya ngemil Sari Roti. Saya tawarin mbak-mbak kuliahan itu roti yang saya punya, eh dianya malah langsung nolak. Kek mau dikasih racun aja. Oke, gini deh, saya biasa naik bus bareng orang Jawa. Walau pun gak niat ngasih namun mereka masih bisa basa-basi. Paling enggak mereka nawarin makanan yang mereka punya kalo mereka makan di bus. Nah ini cewe asal makan sendiri aja gak ada basa-basinya. Bukannya saya pengen dikasih makanannya mbak itu tapi paling enggak nawarin dikit kek walau pun cuma basa-basi. Nah kalo ditawarin tapi gak mau kan bisa jawab, "Iya mbak, makasih. Dinikmatin aja." Tapi yah emang dia bukan orang Jawa sih. Beda adatnya.

Sekitar pukul 4-an, bus saya udah masuk ke daerah Bekasi. Setelah itu saya langsung terjaga. Gak mau kalo misalnya sampe kebablas. Bus udah masuk daerah Cibinong. Saya pindah ke kursi depan dan menyerahkan pada pengetahuan sopir dan kondektur bus lantas saya bilang, " Kandang Roda yah, Pa."

Eh, di belakang saya ada bapak-bapak bertampang Rambo kek tentara gitu nanya ke saya, "Kandang Roda yah mbak? Turunnya bareng saya berarti." Nah saya rada lega. Pas bus berhenti saya hendak ikut turun sama bapak-bapak itu namun ibu-ibu yang bawa balita di belakang saya bilang, "Mbak mau turun di Kandang Roda? Ini belum nyampe Kandang Roda. Nanti turunnya."

"Oh!" saya yang rada curiga sama bapak-bapak tampang tentara tadi akhirnya lebih percaya sama ibu-ibu itu.

Setelah beberapa menit berjalan, si ibu itu mendadak bilang, "Mbak, Kandang Roda udah kelewat."

"Loh kok ibu gak ngomong sih?" saya bernada kesal. "Kiri, Pa." saya langsung nyuruh sopirnya berhenti. Do you know, ibu-ibu tadi sama sekali gak minta maaf udah ngasih petunjuk salah. Errrrrrr!

Kemudian saya berjalan balik arah dan menelepon teman cewe saya untuk jemput saya. Coba bayangin, saya cewe sendirian jalan kaki di pinggir jalan sambil menenteng kardus berisi mendoan pesanan teman saya di pagi yang masih gelap. Huhuhu ngenes!

Sekitar 20 menit menunggu akhirnya pacarnya teman saya dateng ngejemput. Ternyata lumayan jauh juga loh antara tempat saya nyasar sampe ke kost teman cewe saya. Pacarnya temen saya nunjukin letak Kandang Roda dan ternyata itu tempat bapak-bapak bertampang tentara tadi turun. Fak! Itu ibu-ibu itu nipu saya atau gimana sih?

Setelah mandi dan sarapan saya rebahan sambil belajar materi ujian. Beberapa menit kemudian pandangan saya gelap dan saya sadar ketika jarum jam menunjuk pada pukul 12 siang. JSYK, dulu saya susah tidur kalo bukan di rumah sendiri namun sekarang dengan mudahnya saya terlelap meski hanya tidur di serambi Mushola SPBU.

Sore harinya, saya diajak teman-teman cewe saya jalan-jalan ke Bogor. Bukan jalan dalam arti sebenarnya tapi naik angkot. Hehehe. :) Gak direncanakan sebelumnya mau muter-muter Bogor tapi dasar cewe pasti gak bisa nolak kalo diajak belanja. Apalagi harganya miring, di bawah harga di tempat asal saya. Iya, masa ransel dengan merek sama di daerah asal saya harganya di atas 250k tapi di BTM (Bogor Trade Mall) cuma butuh ngeluarin duit 200k aja. Trus diskonnya menggiurkan banget. Sepatu bermerek terkenal aja bisa jatohnya jadi 80k dari harga 200k. Begitu pula tas. Saya biasa nengok barang-barang di TokoBagus.com. Nah tas dengan model sama di BTM cuma seharga 40k tapi di TokoBagus.com bisa sampe 55k. Hmmm gitu ya ternyata? Mau banget deh kalo disuruh pindah ke Bogor.

Singkat cerita, keesokan harinya saya bangun lebih pagi karena menurut cerita, naik Commuter Line itu antre-nya panjang banget. Udah gitu desak-desakan juga. Bahkan konon Commuter Line (untuk selanjutnya disebut KRL) sering datang telat sampai satu jam. Alhasil, saya berangkat jam 05.30 dari kost teman cewe saya padahal ujiannya mulai jam 9.30.

Baru sampai di stasiun, saya liat orang-orang berlarian hendak masuk ke gerbong. Saya pun gugup. Iyaaa, saya mikir apa saya bisa bersaing dengan orang-orang kota yang setiap hari melakukan aktivitas yang sama--mengejar kereta. Tapi kenyataan tak seburuk bayangan. Saya antre di loket yang gak cukup ramai--padahal tadi saya liat orang-orang antre panjang banget di depan loket. Entah loket yang sama dengan loket tempat saya beli e-ticket atau bukan. Nah tarif dari Bojonggede ke UI itu cuma 2k. Heh? Murah banget! Pantes banyak yang milih pake KRL. Kelar beli e-ticket, saya berlari menuju kereta yang kebetulan udah "buka-tutup" pintu. Dan yah, gak sepenuh yang saya kira. Saya pilih gerbong khusus wanita begitu pula pacarnya teman saya. Tapi dia diusir sama ibu-ibu gitu suruh pindah. Duh, kasian! :P

Dari Bojonggede sampe Citayam masih aman. Nah pas di stasiun Depok, serombongan ibu-ibu dan wanita-wanita karir masuk ke dalem gerbong. Bok, gimana saya turun nih? Padahal UI cuma tinggal lewatin Depok Baru sama Pondok Cina.

Rute KRL Jabodetabek

Dengan banyak-banyak minta maaf sama ibu-ibu di sekitar saya dan omelan-omelan ibu-ibu sama pacarnya teman saya, akhirnya kami berhasil keluar di stasiun UI. Wkwkwkwk. :P Btw, jam masih menunjukkan pukul 6.30. Masih pagi ternyata.

stasiun UI


Kami berjalan menelusuri Taman UI. Seketika itu saya merasa sedang berada di kebun binatang yang baru buka dan masih sepi pengunjung, Jalanan di depan UI pun masih sepi. Saya perhatikan gak ada angkot lewat situ. Yang ada ojek atau angkutan macam taksi gitu. Wah kasian dong mahasiswa yang gak punya kendaraan pribadi. Ongkosnya yang dikeluarkan pasti gede. Tapi gak tau juga sih.

Gak butuh waktu lama untuk menemukan Auditorium Pusat Studi Jepang. Kompetitor juga belum banyak yang dateng. Niatnya mau bobok dulu tapi kudu belajar. Pas Minggu gak sempet belajar banyak karena kebanyakan belanja. Huehehehe. :)

Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia


Btw, ada momen unik ketika saya melihat seekor induk kucing ditindih sama dua anaknya. Lucu beudh! :P

kucing ucul <3

Sebenernya lingkungan di UI itu asri banget. Ada danaunya di samping auditorium. Kalo aja saya bawa temen cewe saya pasti udah saya ajakin foto-foto. Sayangnya batre hp saya juga limit. Takut pas dibutuhin kondisinya lowbat. Mana saya di kota orang lagi. :(

Ujian kelar saya pun lega. Setelah itu saya naik KRL lagi buat balik ke Bogor. Lanjut beli tiket bus di Citeureup. Jauh juga dari Cibinong. Kelar beli tiket, saya balik lagi ke Cibinong. Sebelum pulang ke kost teman cewe saya, saya mampir dulu beli baso. Di Bogor ada baso harga goceng masaaa? Padahal di daerah asal saya udah jarang tuh baso harga goceng.

Saya pesen baso sama es dan minta dibungkus aja sama mbak-mbak penjual baso. Di belakang saya ada lagi ibu-ibu pesen baso tapi dimakan di tempat. Mereka udah duduk di kursi. Kemudian dateng lagi pembeli anak-anak. Nah mereka ini minta dibungkus juga makanya mereka berdiri di samping gerobak basonya. Kemudian mereka dilayani sama mbak-mbak penjual yang lain sementara mbak-mbak penjual yang tadi masih bikinin saya es. Ibu-ibu yang pesen tadi nanya sewot ke mbak-mbak penjual yang lagi ngelayanin saya itu. "Mbak pesenan saya udah dibikin?"

"Bentar mbak," jawab mbak-mbak penjualnya.

"Saya dateng kesini duluan loh. Masa anak kecil itu yang dilayanin dulu?" si ibu-ibu itu tambah nyolot.

"Iya mbak, sebentar," jawab mbak-mbak penjual yang masih sabar ngadepin tuh ibu-ibu.

"Gak pake lama ya!!! Cepetan!!!" ujarnya galak.

Helloooooooww elo cuma pesen baso harga goceng kok sewotnya kek beli baso harga 50k? Pelisssss?! Kalo di daerah asal saya mana ada pembeli sewot ke penjual gara-gara masalah sesepele itu. Paling cuma diem aja toh nantinya pasti dilayanin Well, balik lagi ini bukan Jawa.

Beda lagi ceritanya ketika saya naik angkot ke Citeureup. Si sopir angkot nyaris membahayakan penumpang hanya gara-gara disalip dikit sama sepeda motor. Penumpang ibu-ibu yang bawa anak kecil bilang, "Ati-ati bang, jangan meleng!" ujarnya mengingatkan dengan pelan-pelan.

Sopirnya gak terima dan bales dengan sewotnya, "Jangan meleng gimana? Orang itu sepeda motornya masuk ke jalur saya tiba-tiba."

Si ibu dengan sabar jawab, "Iya."

Huh? Kenapa orang-orang kok gak sungkan gitu marah-marah ke orang lain hanya karena masalah kecil? Bener-bener beda banget sama di Jawa!

Saya juga diceritain sama teman saya, kalo curhat itu sebaiknya ke orang sendiri--dalam hal ini orang yang berasal dari daerah yang sama--karena kalo curhat ke orang lain biasanya gak disimpen tapi dikeluarkan lagi. If you know what I mean!

It shows me how I should be proud to born as Javanese! Emang orang Jawa itu mungkin orang yang paling ramah kali ya?! Oh atau mungkin saya kebetulan ketemu sama non-Javanese yang gak ramah. I'd love to meet you guys, wherever you're from, as long as you treat me well I'll treat you the same.