Minggu, 06 Desember 2015

500 Days of Summer

"I know you think that she was the one, but I don't. I think you're just remembering the good stuff. Next time you look back, I really think you should look again." - Rachel

Jumat, 06 November 2015

Pengemudi Songong

Jadi sore tadi di bawah rintik hujan yang menghambur, saya ngeliat kejadian yang cukup bikin geleng-geleng kepala. Saya pulang mengendarai roda dua dengan kecepatan 40km/h saja karena jalanan licin. Nah di sebuah perempatan yang gak cukup ramai itu saya telat ngejar lampu hijau sekitar sepersekian detik. Tau sendiri kan orang Indonesia itu; lampu hijau artinya jalan, lampu kuning artinya jalan rada cepet, lampu merah artinya gaspol. Kebetulan sore tadi saya lagi waras jadi gak melakukan kebiasaan orang Indonesia itu. Berarti orang Indonesia itu gak waras dong? Gak gitu juga maksudnya sih... :))

Jadi di perempatan itu, lampu lalu lintas berubah sebanyak 3x putaran. Emm gimana jelasinnya yaa. Jadi kalo kendaraan dari arah barat melaju, lainnya berhenti. Begitu pula dengan kendaraan dari arah timur. Sementara kendaraan dari arah utara dan selatan kebagian jatah laju di waktu bersamaan. Jadi yang berhenti hanya kendaraan dari arah timur dan barat saja. Ngerti gak? Anggap saja mengerti lah yaa. ;)

Nah, ketika kendaraan dari arah saya (timur) berhenti, giliran kendaraan dari arah barat yang melaju. Setelah beberapa detik kendaraan dari arah barat udah agak kosong padahal lampu hijau masih menyala. Saya nih biasanya, biasanya yaaa, kalo lagi gak waras, suka nyelonong aja. Karena saya tau posisi kendaraan dari arah barat kosong. Tapi tadi enggak, tadi saya waras. Yang gak waras justru kendaraan dari arah selatan. Mungkin si pengemudi mobil minibus itu berpikir lampu hijau akan menyala sebentar lagi. Tapi bodohnya, si supir terlalu kencang menginjak gasnya. Gak kepikiran kebiasaan orang Indonesia yang saya sebutkan tadi--ngejar lampu hijau yang tersisa sekian detik dengan gaspol. Nah kendaraan dari arah barat itu bawa galon sekitar 5 biji. Dia melaju cukup kencang saat mobil minibus dari arah selatan juga melaju gak kalah kencang. Saya berdoa, semoga mobil minibusnya melaju lebih kencang biar gak ketabrak sama pengendara motor yang bawa galon itu. Tapi doa saya tidak terkabul pemirsa. DOA SAYA TIDAK TERKABUL!! *pake capslock biar heboh* Tipis saja si pengemudi motor tak sanggup menahan laju motornya dan bruk nabrak mobil minibus.

Saya hanya, ouhhh... Seandainya tadi saya nyelonong mungkin saya yang jadi korban pengemudi minibus. Untung saja kewarasan saya sudah fully charged. Maka dibantulah pengemudi motor itu berdiri. Pengemudi minibus pun ikut membantu. Dan dari kacamata saya sih agaknya si pengemudi motor gak kenapa-napa. Galon pun gak ada yang pecah. Cuma yang rada ngeselin itu sesudahnya. Jadi lampu hijau akhirnya menyala untuk kendaraan dari arah utara dan selatan. Dan tau apa yang terjadi, kendaraan yang giliran melaju itu melambatkan kendaraannya seraya menonton, ulangi ya, MENONTON proses evakuasi pengemudi motor yang jatuh tadi. Nonton sambil menyetir loh yaa, tapi mengabaikan keselamatan mereka sendiri. HELLLLAAAAWWW. KZL. Hampir di setiap terjadi kecelakaan kendaraan yang lewat tuh ngeliatin sambil mengemudi dan mengabaikan keselamatan mereka dan orang lain yang tengah berkendara juga. Zzzz.

Saya gak akan mengecap siapa yang salah karena udah jelas pengemudi minibus yang salah *loh ini apa?* Lah iya, wong bukan jatahnya dia laju malah melaju dengan kencang pula.

Ada lagi sih kebiasaan pengendara motor/mobil yang bikin geleng-geleng kepala. Sewaktu di pintu rel kereta, udah jelas yaa ada jatah untuk masing-masing kendaraan dimana seharusnya berhenti menunggu keretanya lewat. Nah, ada gitu kendaraan yang berhenti di arah berlawanan. Jadi gini, seharusnya kan kita berhenti di sisi kiri garis marka jalan. Tapi ada yang berhenti di sebelah kanan garis marka. Dampaknya ketika kereta sudah lewat dan pintu rel diangkat, kendaraan yang berada di arah berlawanan itu berebut untuk melaju secara diagonal ke arah yang benar (ini kaya pintu taubat). Kebayangkan betapa crowded-nya pintu rel saat itu. Saya sih gak cukup mahir untuk melaju secara diagonal jadi pasrah aja di jalan yang benar. :"))) #goodgirl

Yah tapi saya bukan pengemudi yang tanpa dosa juga sih. Sebagai pengendara motor pemula yang baru pegang SIM selama (April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, emm) 8 bulan saya pun gak terhindar dari khilaf. Kalo khilaf saya dijual udah bisa beli iPhone 6+ kali, iyaaa iPhone 6+ bukan sabun Nuvo. :P Bukannya saya mau pamer dan bangga dengan dosa-dosa saya, cuma mau berbagi aja biar gak melakukan kesalahan yang sama. Jadi saya pernah bawa motor emak saya, tapi lupa bawa STNK motor saya yang jelas-jelas beda type. Saya baru nyadar setelah beberapa kilometer jauhnya dari rumah. Yah daripada balik dan buang-buang bensin akhirnya saya bandel aja. Sampailah di perempatan yang mana ada razia lalu lintas. Saya cukup cekatan waktu itu melihat banyak pemotor yang berbalik arah dan melihat kerumunan pake rompi hijau neon. Saya belokkan stang motor saya ke arah perumahan lalu berbalik arah dan ngikutin pemotor di depan saya yang mau nerobos lewat jalan tikus. Bermodal gak kenal orang dan kesongongan, saya ngikutin aja mereka. Menuruni gunung, melewati perkebunan, dan melintasi perumahan, akhirnya saya keluar gang dan menemukan jalan utama kembali. :)))

Hari itu mungkin saya lolos dan tidak berkesempatan dimarahin polantas, tapi gak tau hari lain. Gak lagi-lagi deh teledor gitu. Karena polantas gak akan mau terima apa pun alasan kita. Entah itu lupa atau ketinggalan. Peraturan tetap aja peraturan gak ada tawar menawar. Ya gitulah. :)

Pesan saya sih, be a smart driver! Setidaknya sayangi nyawa lebih banyak ketimbang waktu yang gak seberapa. Ngapain ngebut-ngebut kaya udah gak ada hari esok aja.

xxx

Isma, 22th, pengemudi songong

Minggu, 25 Oktober 2015

Setiap Kali Terpikir Untuk Kembali, Ingatlah Alasan Mengapa Dulu Kamu Pergi

Tahun ini menjadi tahun yang berbeda untuk saya. Memutuskan untuk pindah ke tempat kerja yang baru dan meninggalkan tempat kerja yang sudah 4 tahun memberi nafkah untuk saya. Keputusan itu terasa mudah di awal dan menjadi begitu berat ketika hari perpisahan menjelang. Apakah pilihan saya benar atau baiknya saya tetap tinggal?

Pertanyaan-pertanyaan itu cukup mengganggu selama beberapa hari terakhir di tempat kerja saya yang lama. Adalah teman dan sahabat yang sudah begitu dekat dan tahu baik buruknya saya hingga kisah-kisah perjalanan saya. Apakah tempat kerja yang baru akan memberi saya teman yang sama baik dan sama nyamannya dengan teman saya yang dulu? Namun kenyataannya kegamangan hati menjelang perpisahan itu tak hanya terjadi pada saya. Hampir semua mengalaminya.

Singkat cerita, saya berhasil melalui perpisahan yang harusnya menjadi hari yang mengharukan. Well, no tears at all! Like, AT ALL!! Saya tidak menangis. Saya bilang ke teman-teman untuk tidak menangis. Apalagi menangisi saya. Rugilah mereka jika itu terjadi. :))

Hari berlalu dan kini 3 bulan sudah terlewati. Hal-hal yang saya khawatirkan tidak/belum terjadi. Semoga tidak ya. :) Tapi rasa rindu muncul sesederhana ingin belanja di jam istirahat atau di akhir hari tanpa harus repot-repot bertukar pesan. Atau sesederhana ingin cerita ketika galau melanda. Bukannya teman yang sekarang tak bisa diajak bertukar cerita, hanya saja teman lama lebih tahu banyak kisah saya dan saya sudah lelah bercerita semua dari awal.

Kali ini sepi sering datang menghampiri dan hanya lagu-lagu di playlist yang menemani dan tak jarang semakin menambah haru di hati. Kalo istilah heits-nya, baper a.k.a bawa perasaan. Ahahahah. Sempat terpikir untuk kembali namun hidup bukan cuma soal perasaan. Jika hanya butuh teman untuk bicara, sepulang kerja kan bisa ketemu atau telfonan. Ada akhir pekan yang bisa dimanfaatkan untuk hangout.

quote
Sebelum memutuskan untuk pergi kita sudah menyusun pertimbangan baik buruknya. Apa yang sudah kita pilih hari ini adalah buah dari pertimbangan kita sendiri. Senang tidak senang kita harus menerima keputusan yang kita ambil. Itu pilihan kita, terima saja konsekuensinya.

Pada akhirnya ketika kita terpikir untuk kembali, ada alasan yang dulu membuat kita ingin pergi. Jika kita kembali, bisakah kita menerima alasan-alasan yang dulu membuat kita pergi? Bisakah kita berdamai bersamanya?

Sebelum memilih kembali, alangkah bijaknya bila kita membuat pertimbangan yang sama ketika dulu kita memilih pergi. Mempertimbangkan apa yang sudah kita korbankan untuk mencapai apa yang kita pilih hari ini.

Untuk semua drama dan air mata kini kamu memilih kembali? Terdengar lucu sekali.

PS. bisa dikorelasikan dengan hubungan dua sejoli yang sudah berakhir.

Rabu, 14 Oktober 2015

Ikhlasnya Judul Lagu Dewa 19

Pagi di hari libur dalam rangka Tahun Baru Hijriyah ini secara random saya pengen nulis yang dari dulu ada di pikiran saya tapi baru kepikiran untuk dibikin tulisan.

Kalo kalian lahir di tahun 90-an pasti tumbuh bersama band-band semacam Sheila on 7, Padi, Element, Dewa 19. Sementara Peterpan, Ungu, Kerispatih, dan nama-nama lainnya baru muncul di tahun 2000an.

Awal 2000an sinetron-sinetron (iyaaa umur segitu saya udah nonton sinetron) pakai soundtrack lagu-lagu band yang lagi ngetop pada masa itu. Lupus misalnya pake lagunya SO7 yang berjudul Kita. Dari sinetron itu pula saya apal lagu-lagunya SO7. Trus sinetronnya Cindy Fatika sama suaminya--kalo gak salah--pake lagunya Dewa (saat itu gak pake '19') yang Separuh Nafas.

Seperti judul yang dipaparkan (ini blogpost apa proposal sih) saya pengen bahas band yang terakhir disebut. Mmmm, inget lagu semacam Dua Sejoli, Pupus, Risalah Hati, Roman Picisan, dan Mistikus Cinta? Coba perhatikan liriknya. Sudah? Di lirik-liriknya gak ada tersurat judul lagunya. Ya kan? :D Jadi inget Surat Al Ikhlas yang gak menyuratkan kata Ikhlas di ayat-ayatnya. Kita kerap menyebutnya Surat Qulhu. Makanya gak heran kalo kita kadang tau lagunya dan gak tau judulnya.

Coba kita breakdown satu persatu (sumpah ini kek lagi seminar),

1. Dua Sejoli
Orang-orang akan lebih ngeh dengan,

"Hawa tercipta di dunia untuk menemani sang Adam,
begitu juga dirimu tercipta tuk temani aku"

Saya sendiri baru tahu lagu ini berjudul Dua Sejoli setelah hidup selama 21th. :))) Baru tahu juga lirik lagu itu berjudul Dua Sejoli? :D


"Bila kau terus pandangi langit tinggi di angkasa,
tak kan ada habisnya s'gala hasrat di dunia"

Liriknya dalam banget yah gaes? Band sekarang mana ada yang bisa bikin lirik sedalam itu?


2. Pupus (lagu kebangsaannya kaum patah hati)

"Baruuuuu ku sadariiii cintaku bertepuk sebelah tangaaaaan,
kau buat remuuuuuk s'luruh hatikuuuuuu,
s'luruh hatikuuuuuuu hoooo ohhhhh"

(duh)

Rasanya nyesek banget yah denger lagunya? Apalagi bagian lirik,

"Aku mencintaimu lebih dari yang kau tauuuu uuuwuuwuuwuuu
meski kau takkan pernah tauuuuuu"

Siapalah yang menyangka judul lagunya Pupus sementara gak ada kata 'pupus' di liriknya. Pada taunya cinta bertepuk sebelah tangan pasti. Yah kecuali kaum patah hati yang pasti udah sering nge-repeat lagunya (termasuk yang nulis). :"D

3. Risalah Hati

"Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku,
meski kau tak cinta kepadaku,
beri sedikit waktu biar cinta datang karena telah terbiasa"

Dimana coba kata Risalah Hati-nya? Risalah sendiri menurut KBBI artinya laporan rapat atau notula. Hati bermakna organ tubuh manusia. Jadi Risalah Hati artinya laporan rapat di dalam hati? :)))) Embuh mbak sekarepmu!!

Kalo didalami liriknya sih seperti usaha seseorang untuk memenangkan hati pujaannya melalui proses. Meminta pujaannya memberi waktu dan membuka hati untuknya. Maka lama-kelamaan cinta akan datang karena terbiasa. Ah kereeeeen!


4. Roman Picisan

"Cintaku tak harus miliki dirimu
Meski perih mengiris iris segala janji"

Omong kosong, mas Dhani, omong kosong!!! Yang namanya cinta ya harus memiliki. Kalo gak bisa memiliki ya udah cari yang lain. *sewot* Bahkan Roman Picisan sendiri artinya cerita roman yang rendah mutunya. Ah..


5. Mistikus Cinta

Denger kata mistikus bawaanya kek horror aja gitu.

"Ketika jiwamu merasuk ke dalam aliran darahku dan meracuniku,
ketika jiwamu memeluk hatiku dan biarkan jiwaku cumbui jiwamu"

Apa yang sedang ku rasa apa yang sedang kau rasa
adalah cinta yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata"

Dimana kata mistik-nyaaaaa???


Well, lirik lagu-lagu Dewa 19 sendiri bermakna dalam. Kalo kalian rajin googling pasti banyak yang mengulasnya secara mendetil. Yah kalo saya sih cuma bisa mengulas secara dangkal aja. Hmmm.

Oh iya, last but not least, Immortal Love Song milik Mahadewa yang mana vokalisnya Judika, di liriknya gak ada kata Immortal Love Song :))))) Liriknya dalem banget bener-bener menggambarkan cinta semati-matinya (?) Best song ever yang muncul selepas tahun 2010.

"Tuhan pun tahu jikalau aku mencintai dirimu,
tak musnah oleh waktu,
hingga maut datang menjemputku
ku tetap menunggu kamu di lain waktu."

Yah, ku tetap menunggu kamu di lain waktu. :)
xoxo

Senin, 17 Agustus 2015

Sikunir: Finally but Unlucky

:)

Awali postingan dengan senyuman. Biar mood terjaga. Biar klimaks sampai ending. Biar ada yang baca. Biar bulan ini ada tulisan. Ehm, kayanya udah pernah nulis sih bulan ini cuma di "revert to draft" karena telalu sayang di "delete" pun terlalu malu di "publish" #rempong #padahalnobodycares #kebanyakan #hestek #brisik

Jadi mau cerita apa kali ini? :) *senyum lagi biar mood terjaga*

Jadi, :) *senyum2 lagi*

Ehm, *dilama-lamain biar deg-degan* *biar kek Daniel Mananta ngumumin peserta Idol yg tersisih* *padahal dari judulnya udah ketauan mau cerita apa* #antiklimaks #pembacabubar #padahalgakadaygbaca #hahahaha

Udah ah pura-pura absurdnya.

Jadi akhirnya Sabtu kemarin saya pergi ke Sikunir setelah direncanakan satu tahun lalu. SATU TAHUN LALU *diulang biar klimaks* Sudah jangan inget-inget satu tahun lalu. Udah gak ada bekas. Menguap begitu saja. *ini cerita apa sih?*

Suatu momen dari aplikasi chatting whatsapp seseorang yang saya kenal via jejaring sosial selama beberapa tahun--panggil saja dia bang @febhreew--membuka obrolan untuk melancong ke Negeri di Atas Awan, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Kebetulan jaraknya gak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Yah 3 jam perjalanan lah. Kita belum pernah ketemuan loh dan dia ngajakin pergi. Dan saya mau aja gitu. :")

Bang Feb ini sebenernya cewe cuma dia manggil saya "Om" karena ke-tomboy-an tweet saya. Jadi saya bales panggil dia "Bang" karena namanya mirip cowo hahaha. Iyaa, jadi kita kenal via Twitter pas awal-awal saya baru kenal jejaring sosial tsb. Medio 2009-2010. Kita saling follow karena sesama fans Liverpool.

Dalam rencana perjalanan tersebut dia ngajak mbak @leanita_w yang juga sesama fans Liverpool dan aku saling follow sama dia juga. Trus ngajak dewi @saladln yang kebetulan tinggal lebih deket ke Wonosobo dibanding aku sih. Jadi sebenernya Bang Feb sama Mbak Le ini udah pernah ke Sikunir tapi di awal rencana mereka ngajakin ke Gunung Prau yang mana Dewi udah pernah kesana. Dan saya yang anak pantai *ehm* belum pernah naik gunung sekalipun dan sangat penasaran bagaimana rasanya berada di ketinggian. #padahalngikutintren #biardibilanggaul #biarbisapamerdiinstagram

Sudah.

Biar kek backpacker beneran mending saya kasih info transportasi dan tarifnya yah. :) *senyum lagi*

Sabtu, 15 Agustus 2015
Saya berangkat dari kota saya sekitar pukul 12.30 menaiki bus ke Wonosobo. Di sini saya ditarik 30k sama bapak kondekturnya. Dari beliau saya dapet info kalo jam 15.30 an saya akan sampe di Terminal Mendolo Wonosobo. Nah saya janjian sama Dewi yang nunggu bus di Terminal Mandiraja, Banjarnegara sekitar pukul 14.00. Sesuai dengan perkiraan kami sampai di Mendolo pukul 15.30. Tapi Mbak Le sama Bang Feb belum nyampe mereka yang berangkat dari Jogja baru sampe di Magelang.

Kami berdua menunggu di terminal sambil makan--karena saya belum makan dari malam sebelumnya saking excited mau backpacking--trus sholat Ashar *maaf riya* habis itu berbincang dengan buibuk pemilik warung di terminal. Orangnya ramah sekali dan banyak berbagi cerita soal membludaknya pengunjung Dieng di akhir pekan yang panjang itu. Iyhaaa, katanya terminal agak ramai belakangan ini banyak pengunjung yang akan mendaki entah ke Sikunir maupun Gunung Prau. Sementara pas Dieng Culture Festival kemarin menurutnya tidak cukup ramai karena bertepatan di weekdays.

Namun sampai pukul 17.30 bus yang membawa Bang Feb sama Mbak Le belum juga datang di Terminal Mendolo. Akhirnya saya sama Dewi ngangkot ke RSUD Setjonegoro untuk mencegat mikrobus tujuan Dieng. Di angkot kami bertemu dengan dua perempuan berdandan ala wanita dewasa dengan alis membahananya. Mereka terlihat dan terdengar sadis. Si cewe satu bertelepon dengan seseorang dengan nada keras dan sedikit kasar. Tapi karena kami gak tahu dimana letak RSUD Setjonegoro dan dimana kami harus turun akhirnya kepepetlah kami untuk nanya. Eh mereka orangnya baik loh. Mau bilang "kiri" ke sopir angkotnya di tempat kami seharusnya turun. :) Don't judge!

Nah di Setjonegoro udah gak ada mikrobus. Kami nanya lagi ke pemilik warung bakso. Mereka menyuruh kami ngangkot lagi ke daerah alun-alun Wonosobo yang mana gak ada angkot sampe kesana. Hanya ada angkot yang membawa kami sampai di perempatan *lupa namanya* trus kami harus berjalan sekitar 200m lagi. Maghrib dan kami berjalan di trotoar kota orang. :D Untung orang Wonosobo ramah-ramah loh. #promo #yangorangwonosobopastibangga #tapigaadayangbaca

Sampe di Masjid Jami' kami melihat ada mikrobus trayek Dieng. Liat itu aja udah bahagia. Apalagi di chat sama kamu. *iniapasih* Tapi pas kami nanya ke sopirnya mereka bilang kendaraan mereka udah di-booked sama rombongan dari Jakarta yang mau mendaki Gunung Prau. MyGad!

Kami memilih untuk sholat maghrib dulu sementara Mbak Le dan Bang Feb baru sampe di Mendolo. Mereka memutuskan untuk menyewa taksi dan menjemput kami di alun-alun untuk menuju Dieng. Sewa taksi sekitar 160k. Waktu yang ditempuh cukup 40 menit saja. Untung bapak taksinya baik loh mau nyariin homestay juga. Kami dapet homestay gak lama setelah sampai di Dieng dengan tarif 200k dengan fasilitas double bed, kamar mandi dalam, dan air panas. Lokasi homestay yang agak masuk ke gang gak menjadi masalah untuk kami.

Dieng malam itu dingin sekaliiiiiiii. Yang lain pada mandi air hangat saya yang tadinya gak minat mandi akhirnya mandi juga. Padahal kalo di rumah di atas jam 8 saya gak pernah mandi. Ini di Dieng dengan temperatur rendah dan air sedingin es loh. Gak pake hangat lagi :") Kehabisan! :") Cuma sekali dua kali siram saya udah gak kuat. Separuh isi tubuh saya seperti terangkat. Kepala saya mendadak pusing. Kaya disiram air es. Omagah!

Habis itu kami cari makan. Saya kebetulan pengen mie ongklok. Dulu pernah makan di Wonosobo dan rasanya henaaaak :9 tapi kali ini berbeda. Gak ada sate sapinya. Rasanya anyep. Dan mie nya belum matang :""""""""""""""""""""""""( Namun apalah daya yang penting perut terisi.


Minggu, 16 Agustus 2015
Bangun sekitar pukul 3 pagi kami memutuskan mengganti tujuan ke Sikunir karena Gunung Prau seakan terlalu berat untuk kami. Kami berjalan kaki dari Dieng menuju bukit Sikunir yang jarak tempuhnya sekitar 4km. Pagi itu saya akhirnya melihat hamparan bintang di langit malam Dieng. Sesuatu yang pernah hadir di mimpi saya dan saya sangat bahagia pernah mengalaminya meski di dalam mimpi. Dan semua itu menjadi kenyataan!!! Deja vu.

Pagi dini hari itu udara sangat dingin. Kaos kaki, sarung tangan, dan masker sudah tertempel rapi di badan saya dan tentu saja jaket. Terus berjalan membuat kami gak merasa kedinginan yang menusuk tulang. Jalan yang kami tempuh mendatar karena sebetulnya jalan itu bisa dilalui sepeda motor dan mobil namun kami backpacker memilih berjalan kaki *antimainstream*

Ternyata terdapat antrian kendaraan sekitar 1 km sampai parkiran desa Sembungan. Banyak aja yang mau liat golden sunrise di bukit Sikunir. Dan beberapa kali kami pejalan kaki dicengin sama pengendara mobil loh. Di "semangat kakaa" in. Ngeledek banget kan. Giliran mereka kejebak macet dibales deh sama bang Feb. "Semangat kakaaa," ucapnya dengan suara pelannya sembari mengepalkan tangan ke atas. Yang tadi cengin kami membalas dengan pasrahnya. Hahahaha.

Dari situ banyak aja yang turun dari mobil dan berjalan kaki ke bukit. Well, ketika the sun will rise and we're still 50mins from the top. Rasanya tuh macem-macem. Ego saya bilang untuk lari dan mengejar sunrise. Tapi seandainya saya mengikuti ego pun gak akan kesampean. Dan kami gak bisa lihat sunrise di puncak Sikunir. :) *senyum tegar*

Namun kami tetap melanjutkan perjalanan. Menaiki anak tangga bukit yang mana lebih banyak pendaki yang turun ketimbang yang naik. Dasar kami kaum anti mainstream jam segitu baru naik. Hihihihi. :D Akhirnya pukul 6an kami sampai di puncak Sikunir dengan matahari yang udah menyingsing. Gak papa kok saya tetep seneng bisa berada di ketinggian dan melihat beberapa puncak gunung dari situ.

Gunung Sindoro terlihat dari Bukit Sikunir

Si Anak Pantai ini akhirnya sowan ke gunung :)

Puncak Gunung Slamet bisa keliatan dah tuh :D

Pas the sun rise saya masih di bawah huhuhu :")
Meskipun gak dapet sunrise di bukit tapi masih bisa dapet di perjalanan hihi :D

lumayan :D



Us! R-L: Mbak Le, Bang Feb, Dewi, Me
Hello, Blue!

Barusan googling ternyata jarak Dieng ke Sikunir itu 8 km!!! DELAPAN KILOMETER!! Gak nyangka saya bisa sekuat itu :") itumah belum apa-apa keleus, mbak! Jalanan mendatar gitu. Coba naik gunung beneran bakalan lebih jauh dan lebih berat dari itu. :") Yah, saya mah apa atuh. Beli makan siang di warung rujak deket kantor aja naik motor :)) makanya saya lebih suka pantai yang gak perlu perjuangan keras. Untung teman perjalanan saya bukan yang drama dan manja. Bisa-bisa saya dikepruki ngajak jalan kaki sejauh itu :))) Jalan dari nol kilometer sampe keraton Yogyakarta aja ngeluhnya gak kelar-kelar :D

Tapi sih saya yang sebelumnya pesimis bisa naik gunung jadi sedikit ada kepercayaan diri. Setidaknya jalan kaki jauh udah kuat tinggal kemampuan pendakian aja yang kudu diasah *eaaaa*

Eh tapi kemarin pas naik bukit Sikunir ada oma-oma yang naik juga loh. Anak kecil juga banyak. Waaa, luar biasa semangat mereka ini. Masa kita yang masih muda kalah sih. :)

Well, balik dari Sikunir kami awalnya memilih berjalan kaki ke Telaga Warna. Tapi cuaca panas dan rasanya udah gak kuat jalan lagi akhirnya kami ngojek bayar 15an per orang. Yah daripada suruh bayar 25 atau jalan kaki. Masuk Telaga Warna tarifnya sekarang Rp 7.500 per orang.

candid :D
Dari Telaga Warna kami jalan kaki lagi ke homestay masih sekitar 1km. Tapi kami memilih jalan pintas ke masjid yang kami kira masjid depan homestay kami. Ternyata salaaaahhh! Dan kita kejauhan!!! Hopeless dan males ngeliat jarak yang masih jauh. Kemudian ada kang gas elpiji bawa pick up nya berbaik hari nawarin tumpangan sampe pertigaan jalan besar yang mau ke arah Batur dan Dieng. Huppppttt!! Alhamdulillah lumayan. Nah dari pertigaan itu kami jalan kaki lagi untuk sampe di homestay. Luar biasaaaaa!

Sekitar pukul 12 lebih dikit kami check out trus nunggu mikrobus tujuan terminal Wonosobo dari gang. Kami dikenai tarif 15k per orang. Sayangnya di jalan macet dan waktu yang kami habiskan selama 2,5 jam yang normalnya hanya 40 menit saja. Sudah begitu kami suruh ganti bus di pertigaan apalah dan bayar lagi. Huhhhh! kampfretos. Dapet bus tujuan Purwokerto ternyata busnya jalan lagi ke pertigaan yang mana kita tadi diturunin. Hahahaha. :"D

Dan perjalanan yang tidak sempurna itu berakhir di terminal Mendolo. Goodbye Bang Feb dan Mbak Le! :") Sampai jumpa lagiiii... Sementara bersama Dewi saya berpisah di terminal Mandiraja. Goodbye little sister!! :* :*

Saya sendiri masih melanjutkan perjalanan ke barat untuk mencari kitab suci #lah

*anti-klimaks kan?!*

Setidaknya saya punya alasan untuk kembali ke Sikunir. Let's plan another trip! xD

Sabtu, 18 Juli 2015

18 Juli 2015

Banyak sekali yang ingin saya tulis disini selama 25 hari terakhir. Namun semuanya terpinggirkan karena kemalasan kesibukan menyiapkan Lebaran. Eeet, udah lebaran lagi ternyata :D padahal mah dari pertengahan puasa juga pengen cepet-cepet lebaran

Sebelumnya Raisma Andriana mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H, Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir bathin. Maap-maap yee barangkali banyak postingan saya yg gak berkenan di hati. :)

Btw, beli baju lebaran berapa nih? Udah pergi kemana aja? Berat badan udah naik berapa kilo? #eh #kepo

Lebaran kali ini memiliki makna yang agak berbeda untuk saya. Mungkin kadar iman saya sedang turun makanya libur lebaran kali ini saya merasa bersyukur bisa mengistirahatkan otak yang bekerja cukup keras sebelumnya. Yhaa, bukannya bersyukur atas kemenangan setelah sebulan berpuasa. Saya gak/belum merasa menang. :((((((

Well, tapi saya senang sekali libur lebaran akhirnya tibaaaaaa! Saya bisa merehatkan diri sejenak untuk masa muda saya yang sedikit terkuras. Kumpul-kumpul sama teman lama, silaturahmi kesana kemari, liburan kesana dan kesini. Btw, saya belum vekesyen kemana-mana loh :( *kudu irit, kudu irit*

Nikmati aja dulu sebelum menempuh hidup baru ke depan #eh saya belum mau nikah loh. Beneran. Saya hanya akan menempuh kantor baru. Ehehehe. Iyaaa akhirnya saya resign dan akan mulai masuk kantor baru per tanggal 27. Doakan ini keputusan yang terbaik yaa gaesss. :*

Sekian dulu post yang gak penting ini. Semoga kalian menikmati libur lebaran kali ini. Selamat Idul Fitri! ;)

Selasa, 23 Juni 2015

Things Happened in June

Juni sudah berlalu 23 hari dan saya baru punya inspirasi *ehm* menulis sekarang, pukul 20.06 selepas sholat Tarawih *sumpah ini riya'* Butuh waktu 22 hari semenjak tulisan saya yang terakhir--iyaaa yg menye-menye itu--untuk menemukan kembali topik apa yang sebaiknya dibahas disini.

Mau nulis sinopsis Game of Thrones season 5 baru keinget yang season 4 ternyata belum ketulis di sini. Ceritanya agak lupa mana file full season-nya sudah musnah. Haaa! :( Ini semua salah bocah reseh yg suka ngehapusin file-file saya di lepi. Akhirnya saya bales dengan musnahin itu file-file film Transformers 1-3 yang filmnya gak pernah saya tonton sampai khatam. Salah dia ngehapus file series Game of Thrones dari season 1-4 tanpa permisi. Kan kampfreeet! *adegan ini jangan ditiru yaa adik-adik*

Nanti kalo udah khatam nonton season 5 *tersisa dua episode gaesss dan bakalan liat itu karakter favorit saya si Jon Snow mati dibunuh anak buahnya, si Olly* saya mau inget-inget cerita season 4 dulu barulah posting sinopsis dua season terakhir ehehehehe *padahal mah no one cares*

scene Jon setelah dibunuh Olly. semoga dia dihidupkan lagi oleh Melisandre atau jadi White Walkers :"D

Well, skip soal GoT! Kita bahas yang lain. Bahas naon, Teh? Bahas what happened in June lah. Emang aya naon? Gak ada apa-apa sih... Yah ada sih... Emm... *kemudian gaje*

Yap baiklah. Mau sekedar sharing ajah bulan ini saya sudah menginjak usia baru. Tambah tuaaaaakk! :( Dan udah lewat tanggal 13, tepatnya tanggal 16--yang saya kira ultah udah basi--temen-temen menjalankan tradisi seperti biasa. Awalnya kunci motor saya diumpetin kemudian setelah tahu kalo saya lagi dikerjain saya pura-pura aja nunggu temen-temen yang lain--udah pada stand by aja gitu di depan pintu keluar kantor--buat pulang duluan. Kemudian dengan brutalnya saya diseret sama 2 temen saya yang body-nya besar-besar keluar kantor biar yang pada nungguin bisa segera melampiaskan "dendam" mereka. Setelah sukses dibawa keluar ruangan, maka serangan demi serangan air sabun yang udah dibungkus rapih pake plastik dilempar ke arah saya. Kampfreeeeeettt! Diliatin sama kastemer yang lagi servis mobil sama karyawan dari dept lain. Huuuuupt :( Setelah pada puas mereka pulang aja gitu. Kampret banget kan? Saya pun pulang dengan menahan kedinginan. Maklum bray, bulan ini udah masuk musim kemarau yang mana udaranya dingin menusuk tulang.

Bulan ini juga saya gak traveling kemana-mana. Sungguh! Setiap hari Minggu saya stay di rumah nonton My Trip My Adventure *biar tetep berasa traveling* eh host-nya ada yang baru loh. Iyaaaa itu yang di iklan Djarum Bull Race. Yang rambutnya gondrong ituu. He eh. Namanya David John Schaap. Diliat dari namanya sih kayanya keturunan Belanda. Dan sepertinya dia itu udah expert sama olahraga yang memacu adrenalin macem surfing, diving, trabas, down hill, dan mungkin ada lainnya yang belum saya sebutin. Gak heran kalo misalnya Djarum hire dia buat jadi talent. Tapi sih saya rada ngarep kalo misalnya si Kai Braden--talent Djarum lainnya--juga ikut nge-host di MTMA. :D

DJS

Kai Braden yang sebelah kiri kalo yang kanan namanya Adriano Zabala
Kemunculan iklan Djarum Bull Race yang berulang-ulang di tv setiap setelah pukul 21.30 dan saat tayangan sepakbola dini hari yang membuat saya kemudian iseng cari tau siapa saja talent-nya. Setelah browsing di youtube maka ditemukanlah nama mereka masing-masing. :D

Udah mau bahas itu aja dulu. Lainnya tunggu kalo udah gak males. Bhay! :D

Rabu, 27 Mei 2015

Pantai Menganti 2.0 dan Pantai Pecaron

Mengapa saya tambahkan "2.0" di belakang "Menganti" ? Yep, karena ini kedua kalinya saya bikepacking ke sana. (Ke Menganti pertama kali) What the heck is bikepacking? Yah semacam bepergian mengendarai sepeda motor. Kalo dulu saya cuma bonceng di belakang, kemarin (Minggu, 24 Mei 2015) saya mengemudikan kuda besi sendiri loh. :D

Bermodal nekat, saya ngajakin temen SMP saya yang baru pulang dari perantauan, Arum. Dia pengen banget pergi ke Menganti katanya. Saya juga sih karena Januari lalu gagal kesana. :((( Sekitar pukul 9 saya jemput dia di Tipar Kidul. Lanjut saya mengendarai si Silver Pink ke arah selatan menuju Wangon lalu mengambil jalur ke kiri ke arah Jatilawang sampai Rawalo baru saya ambil jalur ke Sampang. Bermodal pengalaman kondangan ke Gentasari, saya potong jalan ke Kroya lewat situ. Pas di perempatan pasar Gentasari saya nanya orang jalan ke Kroya. Saya memang sengaja memilih jalur desa untuk menghindari jalan besar yang didominasi kendaraan berat semacam truk dan trailer. Padahal dulu pertama ke Menganti, saya dan teman-teman lewat jalur utama Purwokerto-Banyumas-Buntu-Sumpiuh-Kebumen baru ke arah Pantai Ayah dan Menganti. Kali ini saya berpatokan dengan Pantai Widarapayung. Padahal saya gak tau loh jalan ke Widarapayung :D

Arum sepanjang jalan ngerasa cemas kalo udah sampe jauh banget ternyata nyasar dan gak jadi ke Menganti. Saya jawab aja, kalo nyasar kita ke Widarapayung ajah *pengalaman gagal ke Menganti, WP pun jadi* Nah udah sampai Kroya--btw, beberapa bulan lalu saya kirim kendaraan ke Kroya jadi rada hapal jalannya--di perempatan saya mengarahkan Silver Pink ke kiri ke daerah Nusawungu. Di sebuah pertigaan *eaaaa* ada penunjuk jalan ke Pantai Widarapayung. Tanpa pikir panjang saya memilih jalur tersebut. Sedikit banyak saya mengingat jalan itu dan setelah saya menarik gas selama 10 menitan... *drumrolls* sampailah di pintu masuk Pantai Widarapayung. Lalayeyeye *joget kucek jemur*

Arum sempet nanya, "Kalau kita lurus terus (masuk Widarapayung) di sana ada pantai?"
Dijawab oleh saya, "Mau mampir?"
Arum: "Menganti ajalah. Masih jauh gak?"
Saya: "Satu jam lagi." prediksi saya gak sampe sejam kita bakal sampe sana. Ternyata tidak.

Setelah menarik gas selama 30 menitan saya tak kunjung menemukan gapura "Selamat Datang Kebumen". Arum diem terus takut kecewa kali yah. Cuma saya masih pede aja "lari" 60km/h tanpa hambatan berarti. Coba kalo lewat Sumpiuh, udah sepaneng ketemu truk sama bus. Kemudian ada perempatan yang menujukkan lurus ke Gombong dan Kebumen, kanan ke Yogya, kiri ke Buntu kalo gak salah. Saya bingung lantas saya pilih lurus aja. Tapi kok aneh yaaa, hmm. Sepertinya saya seharusnya pilih yang ke arah Yogya. Lalu ada perempatan lagi dan saya pilih ke kanan dan di perempatan berikutnya saya nanya orang jalan ke arah Pantai Ayah. Ibu-ibu yang saya tanyai menunjuk ke arah kiri. Segera saya lanjutkan perjalanan karena ternyata kami udah menghabiskan sekitar 2 jam berkendara. Gak berapa lama sampailah saya di jembatan pemisah Cilacap dan Kebumen dan tentu saja gapura "Selamat Datang Kebumen". Girang? Tentu saja. Udah disitu rasanya Menganti semakin nyata aja. Hahahaha.

Nah di Pantai Ayah saya minta gantian boceng motor sama Arum mengingat trek menuju Menganti agak sulit. Heheheh licik kan saya! *smirks* Arum sampe ngatain kampret ke saya. Wkwkwk :D Sekitar 30 menitan dengan melalui jalan yang menanjak dan berkelak-kelok dan bermodal ingatan yang samar-samar maka sampailah kita di Pantai Menganti. HAHAHAHA, SAMPAI DI MENGANTI GAESSSS.

Hellyeaaaaah :D





katanya sih ini udah termasuk Pantai Pecaron

menyusuri bukit ke arah timur



Kamis, 21 Mei 2015

You Are the Apple of My Eye (2011)

Sudah agak lama saya gak nonton film remaja Asia. Ya, saya fans berat film-film Thailand atau negara Asia lain yang bergenre komedi romantis. Selain alur ceritanya yang segar juga masih bisa diterima di kehidupan remaja kita. Yah sesuai realita yang ada di sini.

Kali ini saya mau membagi sedikit film yang saya tonton semalam. Yep, film ini berasal dari Taiwan berjudul You Are the Apple of My Eye. Bercerita tentang kehidupan remaja ketika SMA. Kenakalan-kenakalan yang mungkin pernah kita alami (kalo saya sih gak pernah nakal :D).

Ya jadi ada gadis terpandai di sekolah bernama Shen Chia Yi yang diminta oleh gurunya untuk mengawasi murid ternakal dengan nilai terendah bernama Ko Ching Teng. Kebetulan keempat teman Ko Ching Teng menyukai Shen Chia Yi. Salah satu dari mereka meminta Ko Ching Teng untuk tidak merepotkan gadis cantik itu. Suatu hari Shen Chia Yi lupa membawa buku Bahasa Inggris tapi Ko Ching Teng menyelamatkanya dan membuatnya terbebas dari hukuman. Sayangnya Ko Ching Teng yang harus menanggung hukuman tersebut. Setelah itu Shen Chia Yi jadi perhatian dengan Ko Ching Teng. Ia banyak memberi soal untuk latihan Ko Ching Teng di rumah. Alhasil mereka membuat taruhan bagi siapa yang sukses menjadi juara kelas maka ia mendapat keuntungan menyuruh yang kalah melakukan hal yang diinginkannya. Jika Ko Ching Teng menang, ia ingin Shen Chia Yi mengucir rambutnya yang terbiasa tergerai itu. Sayangnya ia kalah lantas Ko Ching Teng mencukur cepak rambutnya. Namun entah mengapa Shen Chia Yi meski menang ia tetap mengucir rambutnya yang mana membuat Ko Ching Teng dan teman-temannya semakin naksir kepadanya.

Akhirnya hari kelulusan tiba. Mau tidak mau mereka harus mengejar mimpi mereka masing-masing. Saat tes masuk kuliah, Shen Chia Yi mengalami sakit perut yang membuatnya tidak maksimal dalam mengerjakan soal. Meski agak gagal, ia tetap berhasil masuk ke University of Education yang mana lulusannya kebanyakan menjadi guru. Ko Ching Teng juga masuk ke universitas entah apa deh lupa. Yang pasti saat kuliah dia tinggal di asrama. Setiap malam dia mengantri di telepon universitas bergantian dengan teman-temannya untuk menghubungi Shen Chia Yi. Ya pada masa itu belum ada telepon genggam.

Meski sudah terpisah jarak saat liburan Ko Ching Teng menyempatkan bertemu dengan Shen Chia Yi. Saat si cowok nanya, "Kita gini (jalan bareng) udah termasuk pacaran belum?" si cewek menjawab, "Kok tanya aku?" Haaaa khas banget jawaban cewek. Kampfreeet!

Lalu mereka jalan bareng. Trus Shen Chia Yi nanya, "Kamu beneran suka aku?" lantas si Ko Ching Teng menjawab, "Suka kok." Dasar cewek meskipun udah diiyain tetep aja nanya terus biar yakin. Di akhir pertemuan itu kedua sejoli itu menerbangkan balon bertuliskan permohonan mereka. Di balon itu Shen Chia Yi nulis kalo ia mau jadi pacar Ko Ching Teng tapi dese gak tau. Sebenernya si cewek udah mau ngasih jawaban kalo ia bersedia menerima cinta si cowok tapi cowoknya mengira si cewek mau nolak dia jadi dia bilang gak mau tau jawabannya saat itu. Hadeeeehhh...



Shen Chia Yi nulis ini

Singkat cerita, Ko Ching Teng ingin menarik perhatian gadis pujaannya dengan membuat kompetisi tinju. Shen Chia Yi menentang rencana lelaki itu tapi Ko Ching Teng tetap saja menggelar kompetisi tersebut. Hingga hari itu tiba mereka terlibat pertengkaran hebat. Shen Chia Yi mengatai Ko Ching Teng kekanak-kanakan dan sangat tidak dewasa (sama aja kelessss..) Akhirnya mereka putus padahal belum sempat jadian. :"""(

Quote favorit saya saat Ko Ching Teng berjalan di bawah hujan,
"Dalam pertumbuhan menuju dewasa, hal yang paling kejam adalah perempuan selamanya selalu lebih dewasa dari laki-laki seumurnya"
 Begitulah Kak A Teng. Makanya kudu sabar syekaliii ngadepin yang seumuran. *surhat solongan*

Akhir cerita (HAHAHAHA SENGAJA NGASIH SPOILER KARENA PASTI UDAH PADA NONTON KAN?) Shen Chia Yi menikah... Gak sama Ko Ching Teng. Well, gak semua film berakhir dengan sang tokoh utama hidup bahagia bersama tokoh utama lainnya. Contohnya film ini si A Teng kudu jumawa liat gadis pujaannya nikah sama laki-laki lain yang keliatannya jauh lebih dewasa. Film ini juga mengajarkan kita untuk tetep kuat menghadiri nikahan mantan. Barangkali bisa dapet ciuman colongan *eh*

*tulisan ini sebenernya udah mengendap di draft selama beberapa pekan dan akhirnya rampung juga :D

Sabtu, 16 Mei 2015

Tentang Hidup dan Passion

It's the fifth month in 2015. My month will come afterward.
Pertengahan tahun selalu jadi favorit saya. Mengapa? Sederhananya, saat itu hujan tak banyak menghambur. Ya, saya tak begitu menyukai hujan. Hujan sedikit banyak mendeskripsikan tentang kesedihan. Mesti tak sepenuhnya demikian.

Alasan paling diterima, tentu saja pertengahan tahun adalah masa dimana saya menginjak umur yang baru. Padahal saya tak begitu suka bertambah tua, tapi saya suka ketika orang-orang memberi perhatian kepada saya. Wah ternyata saya begitu haus akan perhatian. Hehehe. Gak ding, saya juga terkadang risih ketika orang memperhatikan saya. Well, dua kepribadian amat sih!

Udah?

Bulan Juni itu identik dengan libur panjang...buat anak sekolah tapi. Buat kaum pekerja seperti kita mah lanjut aja mengais nafkah. Dan bulan Juni tahun ini akan kita lalui bersamaan dengan bulan Ramadhan. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan yang suci, insha Allah.

Jadi apa saja yang sudah didapatkan menjelang setengah tahun ini?

 Puji syukur kepada Yang Maha Kuasa, tahun 2015 ini berjalan begitu menakjubkan untuk saya. Banyak hal yang saya tunda tahun-tahun sebelumnya berhasil saya capai meski belum semuanya. Saya yang akhirnya menemukan passion saya dan meraih apa yang beberapa teman seumuran saya sudah mencapainya beberapa tahun lalu. Well, what am I talking about?

Saya yang beberapa tahun terakhir nyaris kehilangan arah tentang hidup (dramatisir dikit) kembali menemukan diri saya. Bahwa saya telah melewatkan banyak waktu untuk hal yang sedikit banyak tanpa hasil. Entah apa saja yang saya lakukan selama ini. Saya tertinggal jauh dari mereka, teman-teman saya. Ketika yang lain sudah mulai memikirkan untuk membangun kehidupan baru, saya justru baru mulai menikmati masa muda saya. I'm growing too slow, eh? Sepertinya demikian.

Ketika mereka sudah mendapatkan lisensi mengemudi mereka sejak beberapa tahun yang lampau, saya baru saja mendapatkannya bulan lalu. Yah, saya baru berani mengendarai motor sekitar 2 bulanan ini. Dulu waktu saya dihabiskan untuk, latihan sebentar-malas-latihan sebentar-malas begitu seterusnya sampai sekitar 7 tahunan. Lama juga yah malasnya? Wkwkwk.

What else? Haaa, saya menemukan bahwa selama ini diri saya terlalu dimanjakan dengan teknologi hingga lupa berinteraksi dengan yang lain meski mainannya Twitter sama Facebook sih. Yaa, terlalu asik berinteraksi dengan orang yang jauh tapi lupa menjaga hubungan dengan orang yang dekat. Mungkin teman-teman yang asik berada jauh disana dan nyaris tak menemukan orang seasik mereka di lingkungan sekitar. Mungkin. Ya, beberapa tahun terakhir saya hanya memiliki gadget sebagai teman baik saya.

Pengalaman menjelajah dunia maya itu membuat saya banyak membaca hal-hal baru, melihat tempat-tempat indah yang tak perlu dijangkau dengan uang banyak. Cukup klik situs tertentu saja maka semesta membawa kita melihat tempat tersebut tanpa harus berlelah-lelah ria. Hingga suatu hari saya membaca quote yang cukup mengubah saya hari ini.

"Saya selalu menyarankan ini, jika kalian masih muda, punya banyak waktu luang, tidak memiliki terlalu banyak keterbatasan, maka berkelilinglah melihat dunia. Bawa satu ransel di pundak, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu desa ke desa lain, dari satu lembah ke lembah lain, pantai, gunung, hutan, padang rumput, dan sebagainya. Menyatu dengan kebiasaan setempat, naik turun angkutan umum, menumpang menginap di rumah-rumah, selasar masjid, penginapan murah meriah, nongkrong di pasar, ngobrol dengan banyak orang, menikmati setiap detik proses tersebut.

Maka, semoga, pemahaman yang lebih bernilai dibanding pendidikan formal akan datang. Dunia ini bukan sekadar duduk di depan laptop atau HP, lantas terkoneksi dengan jaringan sosial yang sebenarnya semu. Bertemu dengan banyak orang, kebiasaan, akan membuka simpul pengertian yang lebih besar. Karena sejatinya, kebahagiaan, pemahaman, prinsip-prinsip hidup itu ada di dalam hati. Kita lah yang tahu persis apakah kita nyaman, tenteram dengan semua itu. Nah, kalau kalian punya keterbatasan, lakukanlah dalam skala kecil, jarak lebih dekat, dengan pertimbangan keamanan lebih prioritas. Itu sama saja. Lihatlah dunia, pergilah berpetualang, perintah itu ada dalam setiap ajaran luhur."

-Darwis Tere Liye-
 Dulu sekali waktu usia pra sekolah sampai awal-awal sekolah, orang tua saya sering sekali mengajak saya dan adik bepergian entah itu ke rumah Eyang, ke supermarket, atau berekreasi bersama teman bapak. Saya pun belajar membaca dari situ. Setiap saya diajak pergi, saya membaca nama-nama toko dari balik kaca bus. Di sekolah saya tak lagi kesulitan mengeja huruf. Hingga kebiasaan bepergian itu berangsur hilang lantaran semakin dewasanya saya dan adik dan adanya kebutuhan lain yang lebih penting ketimbang 'hanya' plesir.

Ya, bagi sebagian orang plesir adalah kegiatan membuang-buang uang. Setelahnya kita dapat apa? Lelah dan kantong menipis? Itu memang benar, tapi tanpa disadari kita juga baru saja membeli pengalaman dan juga foto yang bisa dipamerkan di media sosial. Setidaknya dengan bepergian kita jadi tahu jalan. :D

Well, udah kemana aja emang? Belum banyak tapi setidaknya setengah tahun ini ada beberapa tempat baru yang saya kunjungi. Surakarta, Bogor, Kota Tua, dan Dieng. So, what's next?

MENDAKI GUNUNG BUAT LIAT SUNRISE BELUM KESAMPAIAN!!!!! :(((((((((((((((((((

Kamis, 09 April 2015

Finally... Dieng Plateau!

Udah beberapa kali teman-teman kantor dan saya merencanakan untuk liburan bersama. Dari awal Januari sampai akhir Maret selalu gagal terbentur kepentingan masing-masing. Maklumlah, manusia-manusia *sok* sibuk hahahahah...

Setelah menimbang beberapa destinasi semacam Pantai Teluk Penyu (bosen yeh bolak-balik baca nama pantai ini di blog saya), Pantai Menganti (should've gone there twice), Curug Nangga (lagi booming cyin), akhirnya kami memilih Dataran Tinggi Dieng. Hahahaha jauh banget yes.

Jam 8 pagi kami bertolak dari Purwokerto menuju arah timur ke arah Purbalingga via Bukateja, Rakit, Mandiraja, Wanayasa, Karangkobar *kami melewati daerah bekas longsor Desember lalu* Batur, dan sampailah kami di Dieng setelah menempuh 3,5 jam perjalanan. Lumayan juga seperti pergi ke Jogja. Tapi sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata *ada kipas anginnya gaes* Perkebunan sayur berjejer rapi membentuk bukit-bukit kecil dengan jalanan berkelok dan naik turun.

And here we are...

Welcome to Dieng errbodyyyy!
Sampai di Dieng kami gak langsung masuk ke obyek wisata melainkan mengisi perut. Jauh-jauh ke Dieng kami justru memilih masakan Padang. Yeaa begitulah. Kemarin ke Jakarta juga saya belinya Dawet Ayu Banjarnegara. Terkadang hidup memang sulit dimengerti *apasih*

Kenyang mengisi bahan bakar kami mampir sholat Dhuhur di Masjid dekat situ *lupa namanya gaes* Masjid-nya cukup besar dan sepertinya Masjid terbesar di wilayah itu. Jadi Dieng itu terbagi dua kabupaten. Dieng Kulon masih masuk wilayah administratif kabupaten Banjarnegara sementara sisanya masuk ke wilayah Kabupaten Wonosobo. 

Nah di jalan itu saya liat banyak anak-anak muda seumuran saya berlalu lalang menggunakan motor dan menggendong tas ransel super besar khas anak-anak backpacker. Sungguh saya iri ingin seperti mereka. Ya, pada saat itu saya ke Dieng menggunakan mobil. Padahal bisa dibayangkan kalau bepergian jauh menaiki motor bukanlah perkara mudah. Punggung pegal, ingin tidur susah. Hupt. :( Nah saya pernah di posisi mereka sih, bepergian naik motor dan merasa iri dengan orang-orang yang naik mobil. Pancen sukete tanggane ketok luwih ijo. :D

Pertama-tama kami mengunjungi obyek wisata Candi Arjuna.






Tiket masuk ke Candi Arjuna sudah termasuk tiket masuk ke Kawah Sikidang yakni 10k per orang. Saya membatin, mungkin tiket masuk obyek wisata di pegunungan memang cukup mahal dibanding dengan obyek wisata pantai #TeamPantai. Yah jika dibanding rekreasi ke pantai-pantai di Gunungkidul, YK tentu saja lebih murah di sana yang mematok harga 5k per orang dan sudah bisa memasuki gugusan pantai sepanjang kabupaten Gunungkidul yang tentunya tak diragukan lagi keindahannya.

Enough! Selanjutnya kami memasuki obyek wisata Telaga Warna. Nah disini favorit saya karena banyak pepohonan rindang dan udara yang sejuk. Btw, masuk ke sini bayar tiket lagi 7500/orang.



layarnya dibalik coba. :))

disini galau disana galau dimana-mana hatiku galau

Kampfret gaess reunion.
Setelah memutari (separuh) Telaga Warna yang memang warna airnya berbeda itu, kami melanjutkan perjalanan ke Kawah Sikidang. Tips saja sebaiknya membawa masker karena di kawah tersebut bau belerang begitu menyengat.
Sikidang babyyyy!


View di Kawah Sikidang
Di sini lumayan panas dan perjalanan menuju kawah cukup jauh dengan melewati pasar souvenir dan oleh-oleh. Saya gak sempet foto kawahnya dari dekat karena saya tidak tahan dengan bau belerang yang mirip dengan *maaf* bau kentut adik saya. Heheheh.. Tapi air di sana sedingin es di freezer loh gaess... :))

Sekitar pukul setengah 5 kami meninggalkan Dieng menuju arah kota Wonosobo. Kami mampir makan Mie Ongklok di kota tersebut. Akhirnya... *sebenernya saya udah bolak-balik melirik warung Mie Ongklok pengen nyobain rasanya*


jadi seporsi mie Ongklok ini ada sate sapinya 10 tusuk. per porsi dihargai 24k.
Dan perjalanan kami berakhir dengan makan mie Ongklok. Selanjutnya kami pulang ke kota Purwokerto tercinta. See you soon, Dieng and Sikunir. :*

Minggu, 29 Maret 2015

Trip to Bogor & Jakarta

Another long weekend I had last week. Walaupun bagi sebagian orang libur di hari Sabtu bukanlah hal yang luar biasa tapi bagi saya itu adalah kesempatan untuk melanglang buana ke kota orang. Setelah bulan lalu ngebolang ke Solo, bulan ini saya sowan ke Bogor. It's the second time but things are different. Sekarang my besties kerja di sana hehehe...

Saya berangkat dari Ajibarang tanggal 20 atau tepatnya Jumat sore. Bus Pahala Kencana dateng pukul 18.30. Gak nunggu berapa lama bus langsung meluncur ke arah Bumiayu. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 8,5 jam untuk sampai di Kota Hujan. Ternyata di sana memang bener-bener lagi hujan. Pfft.. Sekitar pukul 3 pagi saya tiba di sana dan menginap di kontrakan teman saya, Enur. Selepas Shubuh kami lanjut tidur (jangan ditiru, gak baik, bisa mimpi buruk). Gak berapa lama pukul 7 saya bangun karena Enur lagi masak. Gak enak lah yaa masa orang numpang mau tidur aja selagi sang tuan rumah kerja. :D Yah, walaupun cuma bantuin makan siih..

Rencananya hari itu kami (saya, Enur, Tati, dkk) mau pergi ke Kota Tua dan Ancol karena saya pengen banget kesana *yaelaaaaaah* tapi karena sesuatu hal akhirnya tujuan kami berpindah ke Kebun Raya Bogor (tempat ini belum sempat saya kunjungi waktu pertama kesana). Untuk mencapai kesana cukup naik angkot 2 kali saja dengan lama perjalanan kurang lebih 45 menit. And finally we're here...

komen pertama pasti gini: "ngapain foto deket empang?" :D

Left to right: Enur, Saya, Tati, Eli

no kepsyen

anak alay foto di tugu *lupa namanya* padahal udah gerimis :)

di depan Makam Belanda. padahal salah satu dari kami ada yg takut loh :D
Sayangnya belum sampai di Jembatan Merah hujan turun cukup deras dan seketika mood saya turun. Why always rain? Kemarin waktu di Solo juga gitu. Baru jam 12an hujan turun dan membuat saya gagal ke Taman Balekambang. Itinerary pun terpangkas.

Sekitar jam 2 kami pulang dan sempet mampir makan di BTM *again, I went there* beli sekeping dvd Mockingjay and do you know gaes, harganya 5k aja. Padahal di Purwokerto mana boleh harga segitu. Sayangnya gak banyak film yang ingin banget saya tonton jadi cuma beli sekeping aja. Padahal mah... hehehe

Sampe di kontrakan Enur saya langsung mandi dan liburan hari itu usai. Eh gak ding. Malemnya kami nonton film Cinderella di kontrakan Tati dan dibeliin pizza satu loyang sama dia dan pacarnya, Akhsan. Hihihihi... :))

Sebenernya rada bete juga yaa sehari liburan cuma gitu doang. Akhirnya kami merencanakan untuk tetap pergi ke Kota Tua keesokan harinya.

Jumlah personil menyusut menjadi 3 orang saja. Kami naik angkot 31 dari Kandang Roda menuju stasiun Bojonggede selama 1 jam lebih. Lumayan lama karena melewati perumahan dan jalan yang cukup rusak. Sesampainya di stasiun saya begitu takjub ketika melihat parkiran cukup sepi. Well, dulu saya kesana pas hari Senin parkiran padat banget. Setelah membeli e-ticket kami menunggu di peron. Tak berapa lama Commuter tujuan Jakarta Kota datang. Kami naik dan segera mencari tempat duduk kosong. Akhirnya kami dapet duduk di kursi yang cukup untuk 3 orang dewasa. Padahal di situ ada cowo pake kaos Barcelona lagi duduk tapi kami dengan pedenya desak-desakan duduk di situ mengingat tubuh kami yang cukup kurus.

nyaris gak ada yg berdiri
Hal cukup berbeda terlihat di dalam gerbong ketika hampir tak ada orang yang berdiri kecuali bapak-bapak yang gendong bayi karena anaknya rewel kalo duduk.

Nah ketika melewati Stasiun Gambir saya dapat kesempatan untuk melihat Monas yang selama ini cuma bisa dilihat di layar tv. :D

pengen banget foto bareng Monas tapi cuma bisa gini. :")

this is the magnificent Monumen Nasional. 
Udah lewatin Monas gak lama kemudian kami sampai di Stasiun Jakarta Kota. Kesan pertama: bangunannya tua. Tapi nampak etnik sih *tau deh etnik artinya apaan, asal ketik aja biar cem traveler sungguhan*

Di Jakarta kami disambut dengan cuaca panasnya dan lalin yang cukup padat. Buat nyebrang jalan aja sulit. Di sepanjang trotoar menuju Kota Tua banyak pedagang kaki lima menjajakan souvenir. Ini nih yang saya cari. Kaos bertuliskan kota setempat. Ya saya emang suka mengoleksi kaos dari setiap kota yang saya kunjungi sebagai tanda bahwa saya pernah menjejakkan kaki di kota tersebut. Misal ke Jogja, saya beli kaos bertuliskan Jogja Nation yah walaupun harganya cuma 15k. Kemarin waktu ke Solo juga beli kaos bertuliskan HIK Solo dengan harga 30k. Nah kali ini saya beli kaos Jakarta dengan harga 15k juga.

And finally I got here...

foto bareng ondel-ondel. agak jauhan karena kalo deket kudu bayar *backpacker irit*

ada tambahan personil, Mentariiii xD

tadinya si Enur mau poto sendiri tapi saya ikutan poto dan mukanya jadi manyun gitu wkwk

pengen poto bareng tulisan itu tapi kudu rebahan masaa?

saya selalu suka pose membelakangi kamera
Hari itu tanggal 22 Maret tepat dengan hari ulang tahun Mentari. Sayangnya pertemuan kami cukup mendadak dan singkat jadi ga sempet ditraktir deh :D

Sekitar jam 1an kami balik ke Bogor. Haaaa kenapa liburan ini begitu singkat??!!! Thing I hate the most of vacation/traveling/backpacking is ending it up.

Jam setengah 6an bus Pahala Kencana membawa saya kembali ke kenyataan. :"((((

Kamis, 12 Maret 2015

Finally I'm Riding

Dalam rangka menjadi Independent Woman alias wanita mandiri *ceileeeeh* sudah dua bulan terakhir saya melawan rasa malas untuk berlatih mengendarai motor. Dalam kurun waktu tersebut porsi latihan saya tiap ba'da Isya di kompleks rumah aja. Nyari jam-jam sepi biar gak diliatin orang hehe :D Kebetulan saya udah ada motor matic jadi lebih mudah aja gitu. Sebelumnya saya berlatih menggunakan motor bergigi hanya saja selalu kalah dengan rasa malas yang membuat skill gitu-gitu aja.

Semenjak negara api menyerang ditinggal partner in crime yang dimutasi ke luar kota, saya mulai memberanikan diri mengemudikan kuda besi untuk mencapai kantor yang jaraknya sekitar 20km dari rumah. Nah jalan raya yang dilalui itu merupakan jalan nasional. Kebayang kan betapa ramainya jalan oleh kendaraan muatan seperti truk, trailer, bus antar kota yang suka kebut-kebutan, belum lagi kondisi jalan yang rusak dan berlubang. Kadang saya bermimpi suatu hari nanti jalanan di Jawa Tengah akan tertata rapi seperti di Yogyakarta dimana jalan berlubang jarang sekali ditemui. Kalo kalian pernah pergi ke DIY pasti taulah bagaimana kondisi jalan raya di sana.

Well, sebenarnya mendapat restu orangtua untuk mengemudikan motor sendiri dengan jarak yang cukup jauh tersebut tidaklah mudah. Bayangkan saja, saya hanya berlatih di sekitar kompleks selama 2 bulan tapi belum juga diperbolehkan berkendara ke Ajibarang yang jaraknya kurang lebih 6km saja. Bahkan ke negeri desa tetangga untuk sekadar menengok baby teman saya saja sulit mengantongi ijin.

Saya: "Ma, aku mau ambil uang di ATM ya. Bawa motor."
Mama: "Ya silahkan aja kalo berani."
Saya: "Berani kok." *ngeluarin motor*
Mama: "Gaya banget mau bawa motor. Latihan dulu yang bener di sekitar kompleks."
Saya: "Kan udah. Boleh kan bawa motor?"
Mama: "Jangan dulu lah. Dilancarin dulu. Minta dianter adik aja kalo mau ke ATM."
Saya: *mengurungkan niat* *masuk ke kamar, kunci dari dalem, nangis di balik bantal* #drama

Hingga suatu ketika di hari minggu yang agak mellow, saya kebagian jatah piket di kantor. Minggu, ya know, jalanan agak sepi jadi saya mencoba peruntungan untuk mendapat restu dari orangtua agar bisa mengendarai si kuda besi. Dan... *drum rolls* saya dapet ijin dari mama setelah memohon-mohon dan bersimpuh di kakinya *ini bhay banget sih* kalimat andalan saya waktu itu, "Kalo aku gak dikasih kesempatan untuk mencoba berkendara di jalan raya trus kapan bisanya? Masa latihan dua bulan masih aja sekitar kompleks dan ga ada kemajuan?" Kemudian mama meloloskan keinginan saya untuk jadi rider sehari *eaaaaa*

Dengan nyali yang dinekat-nekatin saya tarik gas (sebut saja) si silver pink. First challenge waktu itu adalah menyeberang jalan. Jadi di pertigaan keluar dari kompleks itu ada beberapa pengendara hendak menyeberang termasuk saya. Tapi sewaktu pengendara lain menyeberang saya gak ikut menyeberang karena nyali saya belum siap. Waktu itu saya nunggu jalanan bener-bener kosong dan momen tersebut tak kunjung datang. Akhirnya... saya sakseis cross the road. :)

Next challenge, saya isi bahan bakar di SPBU. And you know what, tangan saya gemeter waktu membuka jok. Hahahhah what the hell...

Sepanjang perjalanan saya sepaneng bingo. Apalagi kalo si silver pink udah dideketin sama kendaraan lain. Rasanya seperti lagi dideketin gebetan. Dag dig dug gitu. Belum lagi kalo di depan ada truk muatan yang jalannya pelan. Dilema antara mendahuluinya--yang tentu saja keahlian tersebut belum saya kuasai--atau tetap berada di belakangnya--yang artinya saya harus lebih bersabar. Saya memilih opsi kedua karena itu tidak begitu beresiko. Toh, kalo saya telat juga gak ada yang marahin. :P Hingga akhirnya saya berhasil mendahului truk tersebut...setelah ia berhenti di pinggir jalan hehehehehehe..

Tantangan selanjutnya ketika memasuki daerah kota. Saya sengaja memilih jalur yang ada lampu lintasnya karena saya tidak mahir dalam menyeberang hehehe. Gak peduli ada jalan pintas pokoknya milih yang ada traffic light-nya aja demi kemaslahatan umat. :P

Finally, setelah 1 jam berkendara saya sampai juga di kantor tercinta. Lama juga yah 1 jam. Padahal kalo naik bus juga paling lama sekitar 45 menit. Yah namanya juga baru pertama kali. Dan hari itu rasanya saya bahagia banget bisa menaklukan jalan raya. Saya gak sabar pulang ke rumah dan ngasih tau keluarga kalo saya udah bisa berkendara di jalan raya. :D

Pulangnya semua terasa begitu lancar. Saya makin congkak. Apalagi sewaktu di traffic light dan berada di baris paling depan. Begitu sang lampu berubah warna menjadi hijau saya berlagak bak rider MotoGP yang siap balapan. Ketika saya berhasil menjadi paling depan saya menengok ke belakang sambil mengangkat dagu dan tersenyum mengejek pada mereka yang berhasil saya balap. Hih.

Dan peningkatan terjadi ketika saya bisa dengan mudah menyalip bus...dalam kondisi berhenti. :D Ya paling gak udah bisa mendahului kendaraan lain kan?! :P

Sampe rumah saya gak henti-hentinya pamer kepada keluarga kalo saya udah bisa mengemudikan motor di jalan raya. Esoknya saya malah dipersilahkan bawa motor. Tapi saya belum berani memboncengkan orang lain karena skill saya belum mumpuni. Hingga akhirnya saya 'didapuk' menjadi single lagi dan keadaan memaksa saya untuk jadi wanita mandiri *eaaaa*

Per tanggal 9 Maret saya resmi menjadi biker, rider, or whatever. :D Reaksi teman-teman cukup beragam.

Mb Firda: "Ciyeeeeeh udah bawa motor sendiri.."
Mb Rini: "Kamu bawa motor sendiri, Is? Berangkat jam berapa?" Nah mba Rini ini yang mengumumkan ke seisi kantor kalo saya udah bawa motor sendiri. Sebuah kabar mencengangkan kali yah setelah saya bersikeras hanya mau naik bus saja lantaran jarak yang cukup jauh.
Mb Reni: "Udah bawa motor sendiri harus hati-hati. Jalanannya rame."
Mb Lely: "Hebat, Is, bisa bawa motor dari Ajibarang sampe sini. Selalu hati-hati yah." Mb Lely ini yang paling care sama saya setelah mendengar kabar saya bawa motor. Tiap mendung sedikit dia ngingetin saya buat hati-hati. Tiap pulang kerja juga gitu.
Lis: "Kamu bawa motor sendiri mbak? Aku bonceng laaah." #mbahmu
Sarah: "Ih sekarang udah berani bawa motor. Mau liat ah nanti kalo pulang kek apa naik motornya."
P. Aris: "Udah bawa motor sendiri sekarang mbak? Kalo saya gak bawa motor saya ikut situ ya mbak."
Saya: "Gampang aja Pak. Asal P. Aris yang di depan hahaha."
Mb Sofi: "Isma sekarang bawa motor yah? Penasaran pengen liat sama bonceng Isma. Kamu pulangnya jam berapa sih?"
Saya: "Kalo pengen liat berangkatnya harus pagi banget mbak. Pulangnya juga harus awal banget hehehe."

At home I keep telling my mother and brother that I'm now good at overtaking other vehicles such as truck, trailer, bus, and car. Dan emak saya cuma gini, "Iya yang udah bisa nyalip truk. Paling truk sama bus berhenti kan?!" Ah mamane tau aja.

I also told him that I'm now riding a bike everyday to office. He asked me how long I get there? Is it the same like when I got on a bus? I said yes. He said, "Oh berarti kamu kalo naik motor di belakang bus yah? Kalo busnya berhenti kamu ikut berhenti trus kalo busnya jalan kamu juga ikut jalan? Gitu?" DAFUQ?!

Sejauh ini sih belum ada kendala berarti. Dan polantas gak ada operasi kendaraan bermotor. Rencananya saya akan segera membuat SIM. Doakan ya gaes. :))

Selasa, 10 Maret 2015

Being Left by Lovable Ones

Ini adalah hari terakhir teman dekat saya, Nurhikmah, berada di Ajibarang tercinta. Esok ia akan kembali melanglang buana ke luar kota tepatnya di kota Hujan.

Selama hampir satu setengah tahun saya menghabiskan waktu dengannya melalui hari-hari saya baik di rumah atau di tempat kerja. Ia seperti buku harian saya. Semua cerita saya tertuang di telinganya. Ia yang sering menemani bepergian di kala galau melanda. Ia juga teman taruhan yang baik (wkwk), partner gelidik di hajatan tetangga, dan teman berbagi kenistaan. She's always there. :")

Sebenarnya kami berteman sedari kecil namun kami mulai jarang bersama semenjak saya memasuki SMK. Barulah sekitar bulan November 2013 ia mulai bekerja di tempat saya mengais rejeki.

Jadi per tanggal 9 Maret 2015 Nur (begitu saya biasa menyebutnya) dimutasi ke cabang dari kantor kami di Bogor.  Awalnya saya merasa berat karena lagi-lagi saya harus kehilangan partner in crime. Tapi aku bisa apa???

Mengenai kata "lagi-lagi" well saya sudah pernah merasakan berada di posisi ditinggal sebelumnya. Dulu sekali, sewaktu Jokowi belum jadi Presiden dan Alun-alun Purwokerto belum ada air mancurnya, saya memiliki teman dekat semasa SMK. Sebut saja dia Hartati (emang itu nama aslinya keleuz). Dia orang asing pertama yang menyapa saya di kala MOS SMK. "Isma yah? Kamu masuk kelas AK1 kan? Bareng yaah." begitu kira-kira kalimat pertamanya. Setelah itu kami berteman baik sampai lulus dan kami masuk kerja di tempat yang sama. Sebulan berlalu ternyata dia akan dipindahkan ke kantor cabang di Bogor. Inget banget waktu itu hari pertama dia kerja di Bogor bertepatan dengan ultah saya ke-18. Mellow banget dah kala itu melalui hari ultah tanpa sahabat. :(

And noooooowwww, I'm gonna be left again. :(

Barusan saya nengok temen yang baru aja melahirkan sebulan lalu. Trus pulangnya muter lewat Ajibarang karena saya emang mau ke ATM. Di jalanan yang agak sepi saya ngelamun, saya akan lebih sering seperti ini, bepergian tanpa teman. Seketika saya jadi makhluk pendiam tanpa semangat. Saya mampir ke minimarket untuk mengambil uang tunai di ATM, lantas saya membeli es krim. Saya begitu tak bersemangat sampe ditanyain sama kasirnya juga saya jawab seikhlasnya. Kemudian saya duduk sebentar di tempat duduk yang disediakan minimarket itu. Es krim saya buka dan segera mengunyahnya. Tapi entah mengapa es krim sore ini begitu hambar. Tak ada rasa manis yang biasa saya kecap. Apakah harus se-mellow ini?

Puncaknya ketika bus Pahala Kencana jurusan Bogor tiba di agen tiket Ajibarang. Nur bersalaman dan bercipika-cipiki dengan teman saya, Ai. Saya juga bersalaman dengannya tapi ia tak bercipika-cipiki dengan saya. Kami terdiam sejenak lantas saya memeluknya dan air mata yang selama ini saya tahan mengalir tak terbendung. Begitu pula dengannya. Saya akan benar-benar dipisahkan dengan sahabat yang selalu ada untuk saya. Saya benar-benar harus menjalani hidup seperti dulu, berteman dengan kesendirian. Untuk beberapa lama kami berpelukan hingga sang kondektur mengingatkan kami untuk segera mengakhiri 'drama perpisahan' itu.

Saya tak kuasa menahan air mata ketika menggeber motor menyusuri jalanan Ajibarang Kulon yang lumayan padat senja itu. Rasanya begitu sakit. Kehilangan sahabat yang mengerti baik buruknya diri kita tapi tetap ada di sana menerima semuanya.

Tuhan, tolong jaga sahabat-sahabatku. Jangan biarkan orang-orang buruk mendekati mereka. Berikan mereka kenyamanan dan keamanan selama bertugas di sana. Lindungi mereka dari hal-hal buruk yang mungkin mereka temui. Jagalah mereka untuk keluarganya, untukku, dan untuk calon pendampingnya nanti. :)

Ajibarang, 8 Maret 2015

Ki-Ka: Hartati, saya, Nur