Kamis, 30 Mei 2013

Trip to Yogyakarta

It’s my first time to stand my leg in a province in south part of Java. Yes, Yogyakarta. Jujur saja saya jarang pergi ke luar kota. Paling jauh tentu saja Jakarta. Tapi itu sudah lama sekali. Saya hampir lupa rasanya euphoria travelling jarak jauh. Nah kali ini saya berkesempatan melakukan perjalanan ke Yogyakarta bersama teman-teman saya dengan menaiki motor. Ya, kami melakukan touring. Again, it’s my first time.

Hari Jumat malam (24/5), kami bertolak dari Purwokerto sekitar pukul 20.00. Di rombongan kami ada 6 orang. Alhamdulillah malam itu cuaca cerah. Ribuan bintang menemani perjalanan kami yang sedianya bisa ditempuh hanya dalam 4 jam. Namun kenyataan berkata lain. Kami dua kali transit di SPBU masing-masing di perbatasan Banyumas-Kebumen dan di Prembun, Kebumen. Sialnya di Purworejo kami nyasar ke arah Magelang. Malam itu sungguh dingin. Saya lupa membawa sarung tangan dan masker. Maklum belum berpengalaman touring jarak jauh.

Sekitar pukul 2 dini hari kami sampai di perbatasan Jawa Tengah-Yogyakarta tepatnya di Temon, Kulonprogo. Kami memutuskan untuk beristirahat di SPBU setempat karena jam segitu kami ga enak untuk mengetuk pintu rumah kontrakan temannya salah satu teman kami yang kuliah di Wates. Baru sekitar jam 5 kami bertamu ke rumah temannya teman kami itu.

Menurut “proposal kegiatan” sih kami mau ngeliat sunrise di pantai cuma di pantai apa kami belum menentukan namun kenyataan tak seindah rencana. J) Setelah numpang mandi di tempat temen itu, kami bertolak ke Panta Indrayanti sekitar pukul 7. Kami menyempatkan diri dulu untuk sarapan di warung gudeg di daerah Pengasih.

Kami melanjutkan perjalanan ke arah Jogja Kota. Temen kami yang kuliah di Wates itu bilang kami mau lewat jalan alternative menuju Gunung Kidul itu jadi perjalanan sekitar satu jam lebih. Gitu. Setelah ngelewatin Ring Road yang cukup panjang, kami akhirnya sampai di daerah Sleman atau apalah namanya saya rada lupa. Pokoknya Jalan Jogja-Wonosari. Ternyata nyaris satu jam kami berkendara, kami belum melihat tanda-tanda pantai.

Kata temen kami yang tau jalan ke Indrayanti, “Setelah ini kita tinggal lurus aja ngikutin jalan ini. Pantainya ada di balik bukit itu *nunjuk ke Gunung Kidul*”

Harapan pun meninggi. Wajah yang bosan dengan perjalanan jauh pun berubah penuh semangat. Setelah sekian bulan tak menyambangi pantai, akhirnya sebentar lagi saya sampai di pantai yang konon indah itu. Namun kenyataan tak sesuai dengan bayangan. Selama satu jam kami berkendara naik turun bukit, bibir pantai belum jua nampak.  

Saya mulai mengeluh pada teman saya, “Kamu denger ga tadi mba itu bilang apa? Katanya pantainya di balik bukit tapi kok ini bukitnya ga habis-habis ya?”

Temen saya, “Iya, maksudnya di balik bukit itu, di baliknya lagi, di baliknya lagi. Pokoknya balik-balik deh.”

Kami yang semalaman kekurangan jam tidur pun kelelahan dan memilih beristirahat di kota Wonosari. Saya yang belum menemukan kasur sejak semalam pun nyeletuk, “Beri saya sehelai kasur hanya untuk meluruskan tulang rusuk saya.”

“Iya mba bener banget. Pengen ketemu kasur,” seru mba yang kuliah di Wates itu.

Setelah sempat membeli beberapa minuman botolan dan cemilan, kami meneruskan perjalanan ke Pantai Indrayanti. Nah dari Wonosari itu sekitar 45 menit barulah kami sampai di pantai yang konon belum lama ditemukan oleh seseorang yang bernama Indrayanti. Kalau biasanya kita sudah berada di dekat pantai, maka bau ikan asin akan mulai tercium dan perahu-perahu nelayan mulai terlihat semenjak 20 menit sebelum sampai di tempat wisata, bedanya di pantai ini tidak ada tanda-tanda pantai. Jalanannya sempit kanan kiri hanya hutan bahkan bus pun harus minggir ke semak jika saling berpapasan. Cukup sempitlah untuk lewat dua kendaraan roda empat. Benar kata mba yang kuliah di Wates itu, di balik bukit. Iya, tau-tau langsung nyampe pantai aja gitu tanpa ada “pemanasan” seperti kapal-kapal nelayan dan penjaja ikan asin. Bener-bener pantai yang masih alami banget. Bahkan di penunjuk jalan pun ga ada nama “Pantai Indrayanti” hanya ada Pantai Baron, Krakal, Sepanjang, Kukup, Drini, dan Sundak. Well, ga Cuma di penunjuk jalan aja tapi juga di tiket masuk area wisata. Iya, Pantai Indrayanti ga tercantum di situ. FYI, tarif masuknya Cuma 5k bisa mengunjungi deretan pantai-pantai itu. kalau saja waktu saya senggang dan rumah kontrakan teman kami itu ga jauh dari Gunungkidul sih mau aja mampir ke pantai-pantai itu. Tapi mengunjungi Pantai Indrayanti itu sudah lebih dari cukup.

tiket masuk

Kenapa lebih dari cukup? Pantainya indah sekali. The most stunning beach I’ve ever seen. My friend said so. Saya merasa seperti sedang menjelajah situs travelling di internet. Ga menyangka jika apa yang saya lihat itu benar-benar nyata.

gambar di ambil di atas karang

masih di atas karang yang sama

ombak di depan karang

karang dilihat dari pantai
sisi kanan karang
cheers xxxx


Well, ombak pantai cukup tinggi maklumlah pantai selatan. Jadi harus berpikir dua kali jika ingin berenang di pantai. Yang paling menarik adalah tebing karangnya. Kita bisa naik ke atas karang melalui jalan kecil yang sudah disiapkan oleh pengelola. Dari atas karang, kita bisa melihat deretan payung besar warna warni di bibir pantai. Have I said that it’s a beach with white sand? It is freaking stunning. You have to add this spot into your travel list.