Jumat, 06 November 2015

Pengemudi Songong

Jadi sore tadi di bawah rintik hujan yang menghambur, saya ngeliat kejadian yang cukup bikin geleng-geleng kepala. Saya pulang mengendarai roda dua dengan kecepatan 40km/h saja karena jalanan licin. Nah di sebuah perempatan yang gak cukup ramai itu saya telat ngejar lampu hijau sekitar sepersekian detik. Tau sendiri kan orang Indonesia itu; lampu hijau artinya jalan, lampu kuning artinya jalan rada cepet, lampu merah artinya gaspol. Kebetulan sore tadi saya lagi waras jadi gak melakukan kebiasaan orang Indonesia itu. Berarti orang Indonesia itu gak waras dong? Gak gitu juga maksudnya sih... :))

Jadi di perempatan itu, lampu lalu lintas berubah sebanyak 3x putaran. Emm gimana jelasinnya yaa. Jadi kalo kendaraan dari arah barat melaju, lainnya berhenti. Begitu pula dengan kendaraan dari arah timur. Sementara kendaraan dari arah utara dan selatan kebagian jatah laju di waktu bersamaan. Jadi yang berhenti hanya kendaraan dari arah timur dan barat saja. Ngerti gak? Anggap saja mengerti lah yaa. ;)

Nah, ketika kendaraan dari arah saya (timur) berhenti, giliran kendaraan dari arah barat yang melaju. Setelah beberapa detik kendaraan dari arah barat udah agak kosong padahal lampu hijau masih menyala. Saya nih biasanya, biasanya yaaa, kalo lagi gak waras, suka nyelonong aja. Karena saya tau posisi kendaraan dari arah barat kosong. Tapi tadi enggak, tadi saya waras. Yang gak waras justru kendaraan dari arah selatan. Mungkin si pengemudi mobil minibus itu berpikir lampu hijau akan menyala sebentar lagi. Tapi bodohnya, si supir terlalu kencang menginjak gasnya. Gak kepikiran kebiasaan orang Indonesia yang saya sebutkan tadi--ngejar lampu hijau yang tersisa sekian detik dengan gaspol. Nah kendaraan dari arah barat itu bawa galon sekitar 5 biji. Dia melaju cukup kencang saat mobil minibus dari arah selatan juga melaju gak kalah kencang. Saya berdoa, semoga mobil minibusnya melaju lebih kencang biar gak ketabrak sama pengendara motor yang bawa galon itu. Tapi doa saya tidak terkabul pemirsa. DOA SAYA TIDAK TERKABUL!! *pake capslock biar heboh* Tipis saja si pengemudi motor tak sanggup menahan laju motornya dan bruk nabrak mobil minibus.

Saya hanya, ouhhh... Seandainya tadi saya nyelonong mungkin saya yang jadi korban pengemudi minibus. Untung saja kewarasan saya sudah fully charged. Maka dibantulah pengemudi motor itu berdiri. Pengemudi minibus pun ikut membantu. Dan dari kacamata saya sih agaknya si pengemudi motor gak kenapa-napa. Galon pun gak ada yang pecah. Cuma yang rada ngeselin itu sesudahnya. Jadi lampu hijau akhirnya menyala untuk kendaraan dari arah utara dan selatan. Dan tau apa yang terjadi, kendaraan yang giliran melaju itu melambatkan kendaraannya seraya menonton, ulangi ya, MENONTON proses evakuasi pengemudi motor yang jatuh tadi. Nonton sambil menyetir loh yaa, tapi mengabaikan keselamatan mereka sendiri. HELLLLAAAAWWW. KZL. Hampir di setiap terjadi kecelakaan kendaraan yang lewat tuh ngeliatin sambil mengemudi dan mengabaikan keselamatan mereka dan orang lain yang tengah berkendara juga. Zzzz.

Saya gak akan mengecap siapa yang salah karena udah jelas pengemudi minibus yang salah *loh ini apa?* Lah iya, wong bukan jatahnya dia laju malah melaju dengan kencang pula.

Ada lagi sih kebiasaan pengendara motor/mobil yang bikin geleng-geleng kepala. Sewaktu di pintu rel kereta, udah jelas yaa ada jatah untuk masing-masing kendaraan dimana seharusnya berhenti menunggu keretanya lewat. Nah, ada gitu kendaraan yang berhenti di arah berlawanan. Jadi gini, seharusnya kan kita berhenti di sisi kiri garis marka jalan. Tapi ada yang berhenti di sebelah kanan garis marka. Dampaknya ketika kereta sudah lewat dan pintu rel diangkat, kendaraan yang berada di arah berlawanan itu berebut untuk melaju secara diagonal ke arah yang benar (ini kaya pintu taubat). Kebayangkan betapa crowded-nya pintu rel saat itu. Saya sih gak cukup mahir untuk melaju secara diagonal jadi pasrah aja di jalan yang benar. :"))) #goodgirl

Yah tapi saya bukan pengemudi yang tanpa dosa juga sih. Sebagai pengendara motor pemula yang baru pegang SIM selama (April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, emm) 8 bulan saya pun gak terhindar dari khilaf. Kalo khilaf saya dijual udah bisa beli iPhone 6+ kali, iyaaa iPhone 6+ bukan sabun Nuvo. :P Bukannya saya mau pamer dan bangga dengan dosa-dosa saya, cuma mau berbagi aja biar gak melakukan kesalahan yang sama. Jadi saya pernah bawa motor emak saya, tapi lupa bawa STNK motor saya yang jelas-jelas beda type. Saya baru nyadar setelah beberapa kilometer jauhnya dari rumah. Yah daripada balik dan buang-buang bensin akhirnya saya bandel aja. Sampailah di perempatan yang mana ada razia lalu lintas. Saya cukup cekatan waktu itu melihat banyak pemotor yang berbalik arah dan melihat kerumunan pake rompi hijau neon. Saya belokkan stang motor saya ke arah perumahan lalu berbalik arah dan ngikutin pemotor di depan saya yang mau nerobos lewat jalan tikus. Bermodal gak kenal orang dan kesongongan, saya ngikutin aja mereka. Menuruni gunung, melewati perkebunan, dan melintasi perumahan, akhirnya saya keluar gang dan menemukan jalan utama kembali. :)))

Hari itu mungkin saya lolos dan tidak berkesempatan dimarahin polantas, tapi gak tau hari lain. Gak lagi-lagi deh teledor gitu. Karena polantas gak akan mau terima apa pun alasan kita. Entah itu lupa atau ketinggalan. Peraturan tetap aja peraturan gak ada tawar menawar. Ya gitulah. :)

Pesan saya sih, be a smart driver! Setidaknya sayangi nyawa lebih banyak ketimbang waktu yang gak seberapa. Ngapain ngebut-ngebut kaya udah gak ada hari esok aja.

xxx

Isma, 22th, pengemudi songong