Kamis, 09 April 2015

Finally... Dieng Plateau!

Udah beberapa kali teman-teman kantor dan saya merencanakan untuk liburan bersama. Dari awal Januari sampai akhir Maret selalu gagal terbentur kepentingan masing-masing. Maklumlah, manusia-manusia *sok* sibuk hahahahah...

Setelah menimbang beberapa destinasi semacam Pantai Teluk Penyu (bosen yeh bolak-balik baca nama pantai ini di blog saya), Pantai Menganti (should've gone there twice), Curug Nangga (lagi booming cyin), akhirnya kami memilih Dataran Tinggi Dieng. Hahahaha jauh banget yes.

Jam 8 pagi kami bertolak dari Purwokerto menuju arah timur ke arah Purbalingga via Bukateja, Rakit, Mandiraja, Wanayasa, Karangkobar *kami melewati daerah bekas longsor Desember lalu* Batur, dan sampailah kami di Dieng setelah menempuh 3,5 jam perjalanan. Lumayan juga seperti pergi ke Jogja. Tapi sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata *ada kipas anginnya gaes* Perkebunan sayur berjejer rapi membentuk bukit-bukit kecil dengan jalanan berkelok dan naik turun.

And here we are...

Welcome to Dieng errbodyyyy!
Sampai di Dieng kami gak langsung masuk ke obyek wisata melainkan mengisi perut. Jauh-jauh ke Dieng kami justru memilih masakan Padang. Yeaa begitulah. Kemarin ke Jakarta juga saya belinya Dawet Ayu Banjarnegara. Terkadang hidup memang sulit dimengerti *apasih*

Kenyang mengisi bahan bakar kami mampir sholat Dhuhur di Masjid dekat situ *lupa namanya gaes* Masjid-nya cukup besar dan sepertinya Masjid terbesar di wilayah itu. Jadi Dieng itu terbagi dua kabupaten. Dieng Kulon masih masuk wilayah administratif kabupaten Banjarnegara sementara sisanya masuk ke wilayah Kabupaten Wonosobo. 

Nah di jalan itu saya liat banyak anak-anak muda seumuran saya berlalu lalang menggunakan motor dan menggendong tas ransel super besar khas anak-anak backpacker. Sungguh saya iri ingin seperti mereka. Ya, pada saat itu saya ke Dieng menggunakan mobil. Padahal bisa dibayangkan kalau bepergian jauh menaiki motor bukanlah perkara mudah. Punggung pegal, ingin tidur susah. Hupt. :( Nah saya pernah di posisi mereka sih, bepergian naik motor dan merasa iri dengan orang-orang yang naik mobil. Pancen sukete tanggane ketok luwih ijo. :D

Pertama-tama kami mengunjungi obyek wisata Candi Arjuna.






Tiket masuk ke Candi Arjuna sudah termasuk tiket masuk ke Kawah Sikidang yakni 10k per orang. Saya membatin, mungkin tiket masuk obyek wisata di pegunungan memang cukup mahal dibanding dengan obyek wisata pantai #TeamPantai. Yah jika dibanding rekreasi ke pantai-pantai di Gunungkidul, YK tentu saja lebih murah di sana yang mematok harga 5k per orang dan sudah bisa memasuki gugusan pantai sepanjang kabupaten Gunungkidul yang tentunya tak diragukan lagi keindahannya.

Enough! Selanjutnya kami memasuki obyek wisata Telaga Warna. Nah disini favorit saya karena banyak pepohonan rindang dan udara yang sejuk. Btw, masuk ke sini bayar tiket lagi 7500/orang.



layarnya dibalik coba. :))

disini galau disana galau dimana-mana hatiku galau

Kampfret gaess reunion.
Setelah memutari (separuh) Telaga Warna yang memang warna airnya berbeda itu, kami melanjutkan perjalanan ke Kawah Sikidang. Tips saja sebaiknya membawa masker karena di kawah tersebut bau belerang begitu menyengat.
Sikidang babyyyy!


View di Kawah Sikidang
Di sini lumayan panas dan perjalanan menuju kawah cukup jauh dengan melewati pasar souvenir dan oleh-oleh. Saya gak sempet foto kawahnya dari dekat karena saya tidak tahan dengan bau belerang yang mirip dengan *maaf* bau kentut adik saya. Heheheh.. Tapi air di sana sedingin es di freezer loh gaess... :))

Sekitar pukul setengah 5 kami meninggalkan Dieng menuju arah kota Wonosobo. Kami mampir makan Mie Ongklok di kota tersebut. Akhirnya... *sebenernya saya udah bolak-balik melirik warung Mie Ongklok pengen nyobain rasanya*


jadi seporsi mie Ongklok ini ada sate sapinya 10 tusuk. per porsi dihargai 24k.
Dan perjalanan kami berakhir dengan makan mie Ongklok. Selanjutnya kami pulang ke kota Purwokerto tercinta. See you soon, Dieng and Sikunir. :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar