Selasa, 04 Oktober 2016

Hiking to Mount Prau

So guys, one of my to-travel-list sudah terwujud. *terwujud banget mbaque?*
Akhirnya saya mendaki gunung beneran, bukan cuma naik bukit. :)) Rasanya? Unbelievable!! Bukannya terpukau dengan kemampuan sendiri tapi malah jadi sadar diri, selama ini wa sombong banget.

Beberapa bulan lalu seorang teman ngajak mendaki Gunung Merbabu, dengan entengnya saya mengiyakan. Eh ngga juga sih. Saya nolak karena lagi hanapeng (gak punya duit), bukannya merasa gak mampu mendaki. Seorang teman lainnya bilang, yakin lo naik Merbabu? Mending coba naik gunung Prau dulu deh. Sebagai traveler yang jauh dari kata expert, apalagi belum punya pengalaman mendaki gunung, saya mencerna dalam-dalam pesan teman saya itu.

Berselang satu bulan, seorang teman yang lainnya lagi (teman wa banyak uga) ngajak mendaki Sikunir. Sebab tahun lalu saya gagal menikmati golden sunrise akibat kesiangan, saya menerima ajakannya. Sepekan menjelang hari-H, si teman ubah rencana dengan mendaki gunung Prau. Saya sih iya-iya aja karena kelewat sombong merasa bisa. Naik Sikunir jalan kaki dari Dieng sampai Puncak aja bisa, harusnya naik gunung Prau bisa dong---begitu ujar pikiran congkak saya.

Segala peralatan camping disiapkan teman saya. Sementara saya gak mempersiapkan apa-apa. Latihan fisik pun tidak. Jangan dicontoh gays! Ini penting, perbanyak olahraga sebelum mendaki. Pastikan kondisi fisik prima. Jangan anggap remeh pokoknya!

Sabtu siang kami berangkat dari Purwokerto naik motor. Sayangnya hujan mengguyur cukup deras sepanjang perjalanan. Dua kali istirahat di jalan, akhirnya kami sampai di basecamp Patak Banteng pukul 18.00. Dingin banget guyssss!!! Habis kehujanan trus udara dingin, baju celana basah dikit. Kondisi fisik saya sudah menurun setelah kehujanan. Selesai mengisi perut, registrasi, dan istirahat sebentar kami memulai pendakian pukul 20.00. Bahu saya sudah agak sakit menggendong ransel sendiri yang lumayan berat (buat saya). Sementara teman lain bawa keril yang beratnya 3x lipat dari bawaan saya. :D

perlengkapan pribadi
Semula semangat banget mau mendaki sampai melihat tangga pertama yang lumayan panjang. Faaaaakh, no one tell me about this! Baru enam kali angkatan, kaki saya udah lemas. Bolak-balik berhenti. Lutut saya langsung linu. Is this for real?? Begitu saya menggerutu dalam hati. Jalan berasa udah jauh banget ternyata baru pos 1. Ya Tuhaaaaan!

tiket registrasi

peta pendakian
Udara dingin banget dan sialnya ujung celana saya basah kena hujan tadi bikin kaki serasa ditempeli es balok. Melewati pos 1 beberapa meter saja saya udah rehat lagi. Minum dan melumuri perut dengan minyak kayu putih yang sempat saya beli di warung dekat basecamp. Kepala saya mulai terasa berat dan pandangan pun mulai kabur. Saya gak tahan lagi lalu berlari ke tempat dimana tak ada orang dan... *hoeeeeeeekkk* Indomie goreng dan telur di dalam perut keluar semua. Beruntung kami sedang istirahat di warung yang sedia tolak angin. Anjaaaayyy wa lemah banget!! Teman-teman seperjalanan saya baik-baik banget mau nungguin saya yang pace dan newbie ini. Bahkan tas ransel saya pun dibawakan oleh salah satu teman yang punggungnya udah bawa keril. :"")) Kesabaran mereka pasti besar banget karena setiap baru mendaki beberapa langkah, nafas saya sudah tersengal-sengal dan kaki pun nyeri. Alhasil waktu mendaki yang normalnya 2,5 jam mulur menjadi 4 jam. Waduuuuuuuuuh, saya ngerepotin banget yah! :)))

Sekitar pukul 00.10 kami sampai di puncak gunung Prau yang udah ramai kaya pasar malem. Hehe nga ding! Banyak tenda sudah berdiri di sana. Beruntung selama pendakian gak gerimis atau pun hujan. Baru di puncak gerimis mulai turun. Sementara yang lain mendirikan tenda, saya mengarahkan senter ke arah mereka. Fisik lemah, kepala berat, mata ingin terpejam, pokoknya gak karuan lah rasanya. Setelah tenda berhasil berdiri saya segera memasukkan tas dan berganti pakaian kering. Habis itu saya gak bisa nahan pipis, lalu pergi ngumpet di balik semak-semak sambil bawa sarung karena ada larangan pipis di botol. Alright! Rasanya pipis itu lega banget seperti 'ini gue gak lagi ngompol di atas tempat tidur kan?!' Kelar buang air kecil, tanpa basa basi saya bergegas menempatkan diri di sleeping bag dan tidur seperti bangkai. Gak peduli yang lain menyiapkan peralatan nesting buat makan malam, saya udah berbaring memejamkan mata.

Expectaion: begadang semaleman liatin milkyway, paginya liat sunrise
Reality: sampai puncak langsung tidur, gak ada milkyway, bahkan gak peduli ada bintang atau gak

Pukul 4.30 saya bangun karena orang-orang di tenda lain udah berisik banget. Keluar tenda dengan antusias ingin melihat sunrise yang pernah saya lewatkan setahun lalu.


the twin Sindoro-Sumbing

this is where actually the sun rises

bunganya cantik ya :)
Time lapse ya, bukan time late atau temple

kenapa gak bisa diputer :(
Setelah puas menikmati sunrise kami lantas sarapan dan mengemas peralatan camping untuk selanjutnya turun gunung. Pukul 9 kami turun melalui jalan yang sama seperti saat kami mendaki dan butuh waktu 1,5 jam sahaja. Alhamdulillah kami sampai di basecamp jam 11 kurang beberapa menit.

Dari cerita di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, perkara mendaki itu bukan cuma asal jalan tanpa persiapan baik fisik mau pun mental bahkan materi, Saya belajar banyak dari mereka yang udah pernah mendaki bahwa puncak bukan tujuan utama. Tapi kalau gak sampe puncak juga kecewa sih. Dan yang paling utama dari perjalanan itu persahabatan. Semua orang punya keegoisan masing-masing, nah mendaki sebagai 'alat ukur' seberapa besar rasa setia kawan kita. Mendaki bersama membuat sifat asli kita muncul. Yah gitulah, teman-teman seperjalanan saya--yang sebagian besar baru dikenal--udah tau jeleknya saya dibanding mereka yang biasa main bareng. Hehehehehehe.

Well, akhirnya rasa penasaran saya pun terjawab. Sudah mendaki gunung sampai puncak, lihat sunrise, lalu turun lagi. Dengan demikian saya jadi semakin mencintai pantai. :)) *PLOT TWIST-NYA GINI BANGET*

bonus pict:
sok-sokan gendong carrier


Tidak ada komentar:

Posting Komentar