Selasa, 01 Januari 2013

Transfer Idaman Berakhir Muram

Ini cerita tentang aku, Fernando Torres, Stewart Downing, dan Nuri Sahin. Jika berkenan maka simak:
Definisi transfer idaman menurutku adalah pemain idola yang merumput di klub lain kemudian bergabung dengan klub yang aku dukung, Liverpool.

Musim panas 2007 menjadi salah satu fase paling membahagiakan dalam hidupku sebagai seorang fans sepakbola terutama Liverpool. Betapa tidak, seorang pemain yang membela tim lain yang selama ini aku idolai datang bergabung di klub favoritku. Dalam kata lain aku gak perlu dukung klub lain hanya karena aku menyukainya. "nya" yang ku maksud adalah Fernando Torres. Aku juga tidak perlu menonton pertandingan yang melibatkan klub yang dibela Torres--kala itu Atletico Madrid--hanya untuk melihat aksi sang bintang. Aku hanya perlu menonton klub yang aku dukung--Liverpool--dan pada saat itu juga Torres bermain untuk membela klub favoritku. Kebahagiaanku dobel. :)

Kebahagiaan bertambah ketika El Niño langsung "nyetel" dengan The Kop. Bersama Liverpool dia menorehkan prestasi sebagai pemain yang tercepat mencetak 50 gol dalam sejarah klub Merseyside itu. Dia juga dinominasikan sebagai PFA Young Player of the Year pada musim pertamanya di Liverpool dan juga FIFA World Player of the Year bersama Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Torres termasuk dalam daftar 50 pemain terhebat Liverpool menurut surat kabar The Times.

Prestasinya bersama Liverpool ini membuat pemain kelahiran Fuenlabrada sangat dikagumi oleh fans. Namun kelangkaan gelar yang dia raih bersama Liverpool membuat sang bintang ingin mencari peraduan baru. Ya, selama tiga setengah musim dia memperkuat The Reds, belum sekali pun penyerang Spanyol ini mengangkat trofi.

31 Januari 2011 menjadi transfer window terburuk yang pernah aku saksikan. Fernando Torres bergabung dengan Chelsea yang merupakan klub rival Liverpool. Fans mana yang tidak merasa terkhianati?????? Dia berubah dari hero menjadi pemain yang dicela. Berbagai kecaman dilancarkan kepadanya. Namun pria Spanyol itu bergeming. Dia berdalih ingin meraih trofi yang mana tidak dia dapatkan bersama Liverpool. Sedih? Pasti. Itulah transfer idaman pertama yang berakhir kelam.

Kisah kedua mengenai Stewart Downing. Well, aku sudah memiliki soft spot terhadap winger Timnas Inggris ketika dia masih berseragam Middlesborough. Sang pemain sangat piawai dalam menerobos pertahanan lawan. Dia juga seringkali mencatatkan namanya di papan skor. Ketika The Boro terdegradasi, Downing bergabung dengan klub asal Birmingham, Aston Villa. Ketajamannya juga tak surut. Dia mencetak 8 gol dalam 44 penampilannya di semua kompetisi pada musim 2010-11. Pemain lulusan Akademi Middlesborough menjadi pemain kunci The Villans bersama Ashley Young.

Pada musim panas 2011 Liverpool menggaet pemain andalan Timnas Inggris itu dengan nilai £20m. Namun sang pemain gagal menunjukkan potensinya di musim pertamanya dengan mencetak 0 gol dan 0 assist di Premier League meski sempat beberapa kali mencetak gol di turnamen Carling Cup dan FA Cup. Downing meraih trofi Alan Hardaker Trophy sebagai Man of the Match dalam laga final Carling Cup yang mengukuhkan Liverpool sebagai juara. Namun nampaknya prestasi itu tak cukup membuatnya pantas dihargai £20m. Penampilannya menuai kritik pedas dari fans Liverpool.

Pada musim kedua ini penampilan Downing masih angin-anginan. Kritik pun menghujam deras pada dirinya. Downing akhirnya mencetak gol dan assist pertamanya di Premier League dalam laga melawan Fulham yang berkesudahan 4-0 pada pertengahan Desember lalu.

Rumornya Stewart Downing dipersilahkan untuk meninggalkan klub pada transfer musim dingin ini. Duh kok begini yah?!

Kisah yang paling anyar datang dari Nuri Sahin. Awal musim ini pemain asal Turki dipinjamkan ke Liverpool setelah satu musim hanya jadi penghuni bangku cadangan di Real Madrid. Aku mengenal Nuri Sahin sejak dia mengantarkan Borussia Dortmund menjadi juara Bundesliga pada musim 2010-11.

Pada awal musim 2011-12 Real Madrid meminang ayah dari Ömer Sahin ini. Padahal aku sangat mengharapkan sang pemain untuk bergabung dengan The Reds untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Xabi Alonso. Satu musim aku ikhlaskan dia bermain di klub yang sama dengan Xabi. Sialnya Sahin gagal merangsek ke tim utama lantaran kalah bersaing dengan Xabi dan Khedira. Awal musim ini bahkan Los Galacticos membeli Luca Modric dari Tottenham yang semakin membuatnya tersingkir. Alhasil gelandang andalan Timnas Turki ini dipinjamkan ke klub Merseyside, Liverpool.

Hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku lantaran banyak klub lain yang mengincar tanda tangannya. Bahkan di detik-detik akhir Sahin nyaris bergabung dengan Arsenal. Namun takdir berkata lain. Tuhan mendengar doaku dan menghadiahkan Nuri Sahin di Liverpool. Mungkin aku adalah orang paling bahagia ketika itu meski status Sahin hanya sebagai pemain pinjaman selama satu musim. Doaku sekarang adalah kontrak permanen bagi Nuri Sahin.

Separuh musim Sahin bersama Liverpool lumayan menunjukkan progress. Dia mencetak dua gol ke gawang West Brom di ajang Capital One Cup (dulu Carling Cup). Gol pertama Sahin di Premiership ketika melawan Norwich yang berakhir dengan skor 5-2. Meskipun begitu penampilannya dianggap belum mampu menutup kekurangan di lini tengah Liverpool. Imbasnya Rodgers jarang memberinya kesempatan sebagai starter.
Sahin mengalami cedera pada hidung yang menyebabkannya harus mengenakan pelindung hidung dan absen selama beberapa pekan.

Rumor terakhir menyebutkan Rodgers hendak memotong masa pinjaman Sahin menjadi setengah musim saja dan menegosiasikan dana pinjaman sebesar £3M untuk menambah dana pembelian Tom Ince dari Blackpool.

Meskipun masih rumor namun hal ini cukup membuatku ketar-ketir. Harapanku soal kontrak permanen Sahin di ambang kesirnaan. Haruskah berakhir kelam juga?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar